"Maaf baru bisa datang. Gimana keadaan kamu, Ay?” Mata Om Jav terlihat berkaca-kaca. “Aku benar-benar panik setelah mendengar kamu dibawa ke rumah sakit. Tapi, kamu beneran gak apa-apa, kan? Mereka gak ngelakuin apa pun sama kamu, kan?” Sifat perhatian dan kecerewetan Javas pasti akan muncul jika sudah berurusan denganku. Serius! Aku tidak sedang mengada-ngada. Karena aku sangat tahu sifatnya yang pendiam itu. Dia akan bicara panjang lebar jika sedang marah dan khawatir, seperti sekarang. “Jujur, Aya takut banget, Om,” aduku dengan suara bergetar, “A–aya meras–” “Sshhh!” Om Jav berdiri, lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. “Sudah, kamu gak usah memikirkan kejadian itu lagi! Sekarang, kamu udah aman. Mereka tidak akan pernah bisa mengusikmu lagi. Ok?” Aku terisak dalam dekapannya yang

