"Aya, masuklah lebih dulu. Ini kunci dan nomor kamar saya,” kata Arka tak sabar. Aku menerimanya dengan pandangan jijik. “Apakah ini tanda-tanda hari kiamat akan segera tiba?” Sambil menggelengkan kepala, aku memilih untuk masuk ke dalam lift. Mengabaikan dua orang yang tengah asyik saling bertukar saliva di pojokan. Ketika pintu besi itu tertutup, aku bersandar sambil menyilangkan tangan di depan d**a. Kepala dimiringkan sambil bergumam, “Jadi, ini adalah sifat asli Pak Arka yang orang gak tahu? Wow! Sungguh menggelikan,” kelakarku muak, “m***m dan doyan mengumbar maksiat di depan banyak orang?” Aku bergidik ngeri, memeluk diriku sendiri di dalam lift. “Sepertinya, mulai sekarang gue harus jaga jarak dari dua, deh! Gue gak mau, kalau sampai itu orang doyan dan nepsong lihat body gue

