“Saya dan perempuan semalam itu tidak ada hubungan apa pun asal kamu tahu, Aya. Kita hanya teman,” jelas pria tersebut. Aku menyeringai. “Alasan,” jawabku tidak percaya. Aku lalu pergi menuju wastafel untuk menaruh piring, sekaligus mencucinya. Namun, ketika aku hendak mengambil sabun cuci piring, Arka mengikutiku dan menyebalkannya lagi dia menyerahkan piring kotornya padaku. “Apa ini maksudnya?” “Bukankah kamu mau cuci piring? Sekalian bisa, kan?” Jawabannya terdengar enteng di mulut, tetapi sangat menyebalkan bagiku. “Apa kamu marah? Tidak ikhlas?” tanyanya beruntun. Aku mengetatkan rahang, kesal, dan muak bercampur menjadi satu. Untung saja aku sudah selesai makan. Jika tidak, mungkin dia yang akan kumakan dan sisanya akan kubuang ke penangkaran buaya. Biar jadi santapan mereka seka

