“Bye! Gue duluan, yah!” Selesai kelas, aku langsung pergi ke kantin. Tidak kupedulikan beberapa chat, ataupun panggilan dari Arka. Sengaja tadi pagi aku tak menemuinya. Biarlah, toh aku yakin jika hal tersebut tidak penting. Entah kenapa semenjak menikah, dia justru berubah menjadi sedikit over protektif padaku, bahkan melebihi yang kukira. Aku mendecih sambil mencibir kelakuannya. “Ay, kok, bulu kuduk gue merinding, yah?” Aku yang sedang menyantap semangkuk bakso hanya mengedikkan bahu. “Mungkin di sebelah lo ada Pak Arka kali,” jawabku asal. “Hmm, rasa baksonya Pak Ugeng emang the best lah!” pujiku yang diangguki oleh ketiga temanku. “Lah, kok, lo tahu, sih? a***y! Apa jangan-jangan kalian itu emang jodoh!” “Uhukkkk!” “Yaish! Kenapa gue yang selalu jadi korban keganasan mulut

