“Kok, kita ke tempat seperti ini, sih, Pak?” Bibirku menyeringai jijik, bahkan aku merasa perutku bergejolak ingin muntah. “Gak usah bawel, deh!” Aku pikir, aku akan diajak ke mall, restoran, atau butik terkenal. Ternyata, pria menyebalkan itu justru membawaku ke sebuah kampung kumuh yang letaknya cukup jauh dari kota dengan pemandangan tumpukan sampah yang menggunung di kanan dan kiri kami. Matahari bahkan sudah hampir tenggelam, berganti dengan bulan ketika kami masih berada di tempat tersebut selama hampir 3 jam. Herannya, rasa mualku dan perasaan iyuh itu hilang berganti dengan tatapan iba. Akan tetapi, aku mulai bosan. Akhirnya, aku memberanikan diri menghampiri Arka yang sedang mengajar anak-anak kurang mampu itu. Walaupun bete karena sedari tadi diacuhkan olehnya, tetapi aku be

