Sudah terburu buru membawa istriku sampai rumah sakit, aku pikir sampai rumah sakit langsung bersiap melahirkan seperti waktu lahiran jagoan kembar. Eh malah masih nunggu. Bukan aku tidak mau tunggu, tapi mama Inge sukses sekali membuat suasana jadi panik. Semua sudah kompak ngomel, di depan ruang bersalin, hanya istriku yang di dalam dan di temani kedua kakakku dan Noni. Dokter Sabrina bilang masih bukaan dua, walaupun aku lebih melihat istriku yang sudah bersiap lahiran, karena dia sering mules. “Mah, mendingan mama aku antar pulang ya?” kata bang Eri suami kak Misel. “Zia belum beranak, masa mama pulang” tolaknya. Untuk anak anak menurut di ajak Rey ke ruangannya karena panas juga siang hari gini. Jadi tersisa kami para orang tua, menunggu di depan ruang bersalin. “Ya mamanya duduk,

