Tiba juga waktunya kami jadi saksi persidangan nenek sihir. Malas sebenarnya, tapi kewajiban sebagai warga negara yang baik dan ta'at hukum. Apalagi aku President walaupun President pea. “Yang ini serius?” tanyaku mengacungkan kemeja hitam dan pantolan hitam yang Kezia siapkan untuk aku pakai. “Memang kenapa?” jawabnya santai karena dia sambil dandan dan duduk di meja rias. Aku tertawa pelan. “Kita kaya mau datang ke pemakaman, bajuku hitam dan gaun hamilmu hitam juga” ledekku tapi aku pakai juga baju yang Kezia siapkan. Dia berdecak pelan lalu menoleh ke arahku yang sedang memakai bokser. “Kan emang mau datang ke pemakaman, kalo nenek sihir jadi di penjara, bukannya itu berarti dia di kubur?” jawabnya. Aku tertawa lagi, benar juga. “Eh itu si Dodo udah di sarungin aja!” om

