Dan di sinilah aku, berkumpul di hadapan keluargaku yang berkunjung ke rumah. Setelah absen magrib bergantian, kami duduk bersama di ruang keluarga penthouseku. Untung anak anak tidak di bawa serta dan hanya para tetua, termasuk kedua kakakku tanpa suami mereka, dan tentu saja sepupu kampretku tanpa istrinya. Gladis juga tidak ikut bersama Radit, mereka di tugaskan menemani Noni menjaga anak anak. “Ren, kapan sih kamu beli rumah, tempatmu sempit sekali” keluh papaku. Aku sudah menghela nafas pelan dan istriku meringis menatapku. “Om, soal rumah gampang, aku lagi bantu cari, mending urus soal acara selamatan aja. Kasihan begundal, baru pulang dari luar negeri, pasti kangen istrinya” kata Nino tumben sekali membantuku. Aku langsung tertawa. “Pengertian sekali brother” komenku. Yang lai

