Setelah absen, aku dan Nino bergegas kembali mencari Kezia. Sempat panik saat Kezia tidak ada di ruangan terakhir kami tinggal. Ternyata dokter Sabrina memindahkannya ke ruangan rawat VVIP khusus keluarga kami. “Ini tidur apa pingsan dok?” tanyaku karena Kezia terlelap walaupun Nino masih ngamuk karena tidak di beri tahu kalo Kezia di pindah. “Tidur, kan tadi saya bilang dia kelelahan” jelas dokter Sabrina. Aku mengangguk dan membiarkan Nino keluar kamar. Ternyata dia kembali dengan rombongan keluarga kami dan keluarga Kezia. Semua menurut bergantian melihat Kezia. Akhirnya hanya para tetua yang tinggal, yang muda di perintahku pulang olehku dan Nino supaya tidak mengganggu Kezia istirahat. Yang tersisa papaku, ayah mertuaku, om Pras dan tante Inge, juga Nino dan Noni. Si kembar di bawa

