Hari damai di hari selanjutnya. Hari itu Rico mengajak jalan-jalan istrinya. Ia tahu ada yang disembunyikan darinya. Tapi Rico tak mau menebak. Biar istrinya saja sendiri yang mengungkapkannya.
“Tumben masak,” sahut Fira ketika melihat suaminya tengah memotong bawang dan cabai.
“Kan kamu lagi sakit …,” ujar Rico manja sembari mencuri-curi waktu untuk mengecup istrinya.
“Cuma masuk angin aja, kok,” jawab Fira. Ia pun mengambil sebuah gelas lalu membuat teh.
“Hmm ….” Rico mengatupkan bibir sembari mengangguk-angguk. Tangannya sibuk mengaduk-ngaduk sayur.
“Kamu masak apa?” Fira mendongakkan kepala, mendekati Rico. Namun baru juga mencium bau-bauan, ia mendadak mual lalu berlari-lari ke kamar mandi.
“Ooh sakit, ya?” Rico terkekeh. Ia pun mengecilkan kompor lalu mendekati istrinya yang masih di kamar mandi. “Aduh kalau orang sakit masa bau sedikit makanan udah mual-mual.”
Fira keluar dengan wajah sedikit pucat dan cemberut. Ia pun mencubit lengan suaminya, “Iih apaan sih, Mas. Masa orang sakit ditertawain gitu.”
Rico mengaduh kesakitan, tapi ia langsung tertawa setelah cubitan itu dilepaskan. “Sayurnya hampur matang nih, atau mau makan di luar?” tawar Rico.
“Di rumah aja deh, Mas. Males keluar.”
“Ok.”
Rico pun kembali ke dapur. Ia menaburkan garam dan penyedap.
“Mas …,” panggil Fira. Kini perempuan itu telah duduk di meja makan. Ia tatap wajah Rico yang terkena pantulan sinar mentari. Fira tersenyum melihatnya.
“Ya?” Rico menyahut tanpa menoleh. Ia kemudian mengambil piring dan diangkatnya sayur yang telah dimasaknya. Cuma sayur simpel kok, sayur kangkung yang ditambahi saos tiram.
“Mas kecewa nggak nikah sama aku?” Fira menunduk. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Maksud kamu?” tanya Rico setelah menaruh sepiring sayur lalu berjalan mengambil nasi.
“Ya … gitu. Misal ada wanita lain, kamu mau nggak nikah sama dia?” tangan Fira bergerak-gerak, seperti tengah menggambar sesuatu di meja.
Rico duduk. Dia pun meletakkan nasi yang masih mengepul dan juga tahu serta tempe yang masih mengepul pula. Untungnya di rumahnya terdapat satu kompor dua tungku sehingga dapat memasak sayur sekalian menggoreng di sampingnya.
Rico memegang tangan istrinya. Jempolnya mengelus-elus punggung tangan itu.
“Kamu itu lagi ngigau atau gimana? Ya masa aku nikah sama wanita lain,” sahut Rico enteng. Ia pun menuangkan nasi ke dua piring dan menghidangkan salah satunya ke Fira. “Lagian kalau bukan sama kamu, aku sama siapa?” sambung Rico.
Fira menghela napas panjang. “Kamu sadar nggak sih, Mas? Aku tuh pembawa sial. Kita sudah satu tahun menikah dan belum juga punya anak. Kemarin kamu hampir aja dibunuh. Aku nggak bisa melihat kamu menderita seperti ini!” Fira mulai tersedu. Tangannya bergetar, tak menyentuh makanannya sama sekali.
Rico mengembuskan napas. Ia pun bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke istrinya. Ia rangkul Fira dari belakang lalu mengecup pipinya. “Satu-satunya hal yang membuatku bisa sangat menderita adalah kamu pergi dariku, Fir,” ucap Rico.
Fira menangis. Tangannya memegang erat tangan suami yang memeluknya. Ia pun mulai sesenggukan. Perlahan ia seka air matanya.
“Sudah-sudah ….” Rico mengguncang-guncang halus bahu istrinya. “Kamu kan juga dokter, kamu pasti tahu kita sama-sama subur. Jadi asal kamu sudah siap saja, pasti Tuhan akan memberkahi kita anak.” Rico mengecup ubun-ubunnya. Ia pun mengambilkan istrinya sayur dan lauk hasil masakannya.
“Nih … nggak usah deh mikirin anak dulu. Mending mikirin masakanku enak apa nggak.” Rico menyuapi istrinya satu sendok makan. “Bilang aaa, satu sendok cinta mau masuk!”
Fira tersenyum. Ia pun membuka mulutnya dan dengan senang hati memakan suapan suaminya.
“Enak?”
“Enak sih tapi ada yang kurang.”
“Garam?”
Fira menggeleng.
“Gula?”
Fira menggeleng lagi.
“Terus apa?”
“Cintanya!” kata Fira manja yang diikuti dengan tawa renyahnya. Fira pun mengambil sandok dan juga menyuapi suaminya. “Kamu juga makan dong!”
Rico dengan senang hati membuka mulut dan datanglah suapan hangat dari tangan istrinya. Makan dari tangan yang orang yang disayangi emang lebih nikmat.
***
Sepertinya aku menyesali keputusanku menikah dengan Rico. Harusnya aku bersama Antonio saja dulu. Aku yakin dengan aku bersama Antonio, semua akan beres. Meski ya aku tidak mencintainya, tapi aku yakin dengan seiring waktu berjalan aku akan belajar mencintainya. Bukankah cinta juga punya masa kadaluarsa?
Saat itu, saat kami lari dari penjahat dengan menumpang atap truk, kami sampai di sebuah kota kecil. Perlu beberapa waktu untuk membuat identitas palsu agar bisa keluar dari aman. Antonio pasti mencariku. Dia bahkan mengerahkan para temannya untuk mencariku. Terbukti dengan poster wajah dan beberapa polisi yang menanyai warga sekitar. Tentu aku sudah berganti penampilan. Bukan untuk menghindari Antonio, lebih tepatnya untuk menghindari antek-anteknya Ando.
Rico membawaku menuju ke sebuah hotel. Aku sama sekali tak menyangka kalau dia punya kenalan sebenyak ini. Dia punya kenalan di bidang pemalsuan pasport, transportasi, bahkan persenjataan. Ya lagian dia juga agen.
“Butuh waktu semalaman untuk memroses tiket pesawat agar kita bisa keluar dari negeri ini. Berhati-hatilah,” kata Rico lalu memelukku.
Aku mengangguk lalu tersenyum tipis kepadanya.
“Ingatlah! Apa pun yang terjadi, aku pasti akan melindungimu,” ujar Rico lagi.
“Kamu juga berhati-hati, Mas!”
Rico mengangguk dan kami berpisah.
Aku pun melangkahkan kaki menuju ke hotel. Tak jauh dari sini.
“Fira!” Tiba-tiba ada orang yang memanggil persis di belakangku.
Aku pura-pura tak mendengarnya lalu tetap berjalan.
“Fira!” suara itu kian lantang.
Aku pun mempercepat langkah tanpa menoleh ke belakang. Saat kudengar ia mulai berlari, aku pun memutuskan untuk berlari. Sesampainya di jalan besar, aku dengan cepat mengibas-ngibaskan tangan untuk memanggil taksi.
Untungnya di perkotaan luar negeri itu, semua serba cepat, sehingga taksi hanya dalam hitungan detik sudah berhenti di depanku. Aku pun masuk dan menyuruh supir untuk segera pergi. Dari dalam jendela dapat kulihat sosok yang mengejarku itu terus berusaha meraih taksi. Sosok itu adalah Antonio yang sekarang mempunyai perban di dahinya. Namun yang namanya tenaga manusia, tetaplah tenaga manusia. Dia mempunyai batas. Antonio pun terhenti dengan napas terengah-engah di belakang sana. Untuk sekarang aku aman.
Aku merebahkan diri di atas kasur. Kunyalakan penghangat ruangan. Salju masih saja turun di luar. Mobilitas sudah pastinya terbatas. Aku hanya berharap malam ini tidak akan terjadi apa-apa.
“Permisi layanan hotel,” panggil seseorang dari luar sembari mengetuk-ngetuk pintu.
“Saya tidak memerlukan apa-apa, terima kasih,” jawabku langsung.
“Eh anu, saya harus mengecek pemanas ruangan dulu. Takut nanti rusak dan Anda kedinginan.”
Aku pun bangkit. Dari lubang kaca di pintu yang memang disediakan untuk melihat tamu di luar, aku melihat. Seorang petugas hotel laki-laki berdiri di sana. Tanpa curiga apa pun, aku pun membukanya. Dan saat kubuka, ada seseorang lagi yang muncul di samping petugas hotel itu.
“Antonio?” tanyaku serasa tak percaya.