Rudi memeriksa data terkait Rico. Ia menghack seluruh data kepolisian dan apartemen untuk mengetahui setiap penyewanya. Tidak perlu waktu lama, ia dapat menemukan sebuah laporan tentang beberapa rumah yang baru dihuni.
“Aku bersumpah akan menyadarkannya seperti apa yang dia lakukan dulu padaku,” tekad Rudi.
***
Bumi tak terasa sudah berotasi sebanyak tujuh kali menandakan bahwa, satu pekan telah selesai semenjak Arya dan yang lainnya tertangkap. Rico sudah bisa berjalan, meski kakinya masih perlu perawatan. Ia dilarang berlari atau membebani kakinya dengan olahraga yang berat.
“Mau ke mana?” tanya Rudi dengan nada tak suka. Ia yang duduk sembari membaca koran tengah memergoki Rico keluar dari ruang perawatannya.
“Bukan urusanmu!” jawab Rico tak kalah ketus. Ia tak pernah mau cari gara-gara, tapi dengan sikap kaptennya seperti itu, ia tak punya pilihan.
Rudi melempar korannya ke kursi. Ia mendekati Rico dengan pandangan sinis. “Jangan harap kau bisa keluar dari sini, dasar pencuri!” todong Rudi.
Rico terpancing. Ia pun membalas tatapan Rudi dengan tatapan tajamnya. “Dasar kapten pecundang. Bisa-bisanya kau mencampur adukkan pekerjaan dengan masalah pribadi!” bentak Rico balik.
“Apa kau bilang?”
“Mana yang katanya agen teladan dan paling hebat, mana?” Rico menengok ke sana-ke mari seperti sedang mencari sesuatu. “Oh ini orangnya? Orang yang selalu mencela bawahannya sebagai pencuri padahal bapaknya sendiri yang pencuri!” sambung Rico.
Wajah Rudi merah padam. Urat-urat di tangannya mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ia pun melayangkan sebuah pukulan. Tapi pukulan itu ditangkis oleh Rehan.
“Maaf Kapten. Tapi aku tak mau kehilangan rekanku lagi,” ujarnya.
Rudi mendengus. Ia pun menarik pukulannya dari genggaman tangan Rehan lantas pergi.
Rudi kini duduk. Ia tatap hamparan embun yang terlihat dari sawah sampai lereng pegunungan. Ia tengah menenangkan diri. Biasanya ia tak seemosi ini, tapi semenjak Rico datang, ia dapat tersulut emosi sebegitu gampangnya.
Rudi mengembuskan napas. Uap air dengan jelas keluar dari mulutnya. Dia benar-benar tak tahu harus bagaimana mengatasi kebenciannya. Ia dengan jelas ingat bahwa ayahnya itu pencuri. Ia juga ingat bagaimana ia hampir mati dikeroyok dan Rudi kecil hanya bisa memelas. Waktu itu, ibunya telah kabur dengan lelaki lain sedang ayahnya sendirian tanpa ada yang bisa dikerjakannya selain mencuri.
Sewaktu Rudi melihat ayahnya dikeroyok, ia mencoba untuk melerai, namun nahas salah seorang malah menghempas tubuh kecil Rudi. Ayahnya yang melihat itu kalap dan tak sengaja membunuh orang. Ia pun diadili bersalah dan dijatuhi hukuman mati sementara Rudi harus dibuang ke panti asuhan. Dan selama itu pula ia dicaci maki sebagai anak pencuri.
“Kapten!” panggil seseorang dari kejauhan.
Rudi pun berdiri. Ia usap wajahnya agar tak terlihat sendu.
“Lokasi … lokasi mereka sudah ditemukan,” lanjut orang itu sembari terengah-engah.
Rudi tak menjawab apa pun. Ia melangkah kembali ke markas dan menyiapkan diri. Cukup dirinya yang memimpin misi penyelamatan ini. Inilah saatnya dia untuk menunjukkan dirinya bukan pecundang!
Bagi Rudi inilah event dimana masa depan agensi mereka dipertaruhkan. Rudi yakin Arya dan yang lainnya tak akan membocorkan informasi apa pun, hanya saja Rudi juga tak mau kehilangan anggota-anggotanya yang berharga.
Sebuah mobil dikerahkan untuk mengirim para pejuang ke ujung embun yaitu lereng Gunung Merapi. Ketika sampai, para agen berbajukan lengkap disertai senjata yang mengerikan turun. Mereka memasuki sebuah gudang yang dianggap sebagai sarang penjahat, di mana para anggota mereka yang hilang sekarat. Layaknya bebek mereka berbaris, namun setelah semuanya masuk, Rudi merasa ada yang janggal.
“Mengapa tidak ada penjaganya di luar” batin batinnya.
Dia melihati sekitarnya. Tiba-tiba muncul beberapa orang yang menghadang Rudi dan timnya. Beberapa anggota Rudi maju, tapi setelah didekati ternyata hanya patung. Mengejutkan ada suara dari pojok gudang.
“Selamat datang! Selamat bersenang-senang dan jangan sia-siakan sambutan kami!”
Hening. Suasana hening seketika. Gudang dengan beberapa lantai itu menjadi terasa amat mengerikan. Perlahan Rudi dan yang lainnya naik ke atas. Rudi tak mau gegabah, dia melangkah sedikit jaauh dari rombongannya. Rudi masuk ke sebuah ruangan di lantai dua. Tiba-tiba pintu ruangan itu tertutup. Rudi mencoba untuk membukanya, nahas ia tak bisa. Di balik pintu itu, Rudi dapat mendengar tembakan demi tembakan yang meluncur.
“Hei ada apa!” teriak Rudi. Sayang tidak ada yang menjawab. Rudi pun menembak engsel pintu. Percuma, tetap tak bisa terbuka. Rudi tak mungkin menyia-nyiakan pelurunya hanya untuk keluar dari tempat itu.
Lelaki itu pun berpikir. Ia mencoba mendobrak pintu, tetap gagal. Lambat laun suara peperangan di luar memelan. Lalu tiba-tiba pintu yang menahan Rudi terbuka. Aneh. Tidak ada satu pun orang di sana. Hanya ada darah yang berceceran. Rudi melangkah keluar. Ia melihat ke atas, ada beberapa orang yang keluar dari ruangan. Rudi pun turut melihat ke bawah. Di sana juga ada orang-orang yang tengah menatapnya. Mereka semua bersiaga melawan Rudi.
Pertarungan yang tidak seimbang pun terjadi. Hantaman serta tangkisan terjadi terus-menerus. Rudi mengeluarkan revolvernya, namun dari samping, tatkala Rudi menengok ke samping kanannya, salah satu penjahat melemparkan sebuah bongkah batu besar ke kepala Rudi. Darah keluar dari dahi Rudi yang terkena batu menyebabkan dia terjatuh menahan sakit.
Para penjahat maju menangkap Rudi. Rudi mencoba mengelak, dia salto hingga terlepas dari mereka. Para penjahat tak tinggal diam, mereka mengejar Rudi sambil mencoba memukulnya, namun Rudi terus salto kemudian setelah cukup jauh, dia menendang salah satu penjahat. Pertarungan berlangsung sengit, malah penjahat yang lainnya ikut keluar. Para penjahat sangat kompak menyebabkan Rudi kalah telak. Kini mereka berada di depan gudang.
Dengan sangat terpaksa Rudi melarikan diri. Dia berniat untuk mengatur strategi ulang. Sayangnya belum juga sempat dia untuk melangkahkan kaki lebih jauh, serangan demi serangan terus bermunculan. Bahkan kini bahu kirinya sudah tertembak dan mengeluarkan banyak darah. Di saat-saat genting seperti itu, tiba-tiba ada sebuah mobil yang masuk. Dari dalam mobil itu keluar sebuah tangan yang langsung menembaki musuh.
“Masuk!” teriak Rico.
Rudi tanpa berkata apa-apa, langsung masuk dan Rico melindunginya dengan menembaki orang-orang di belakang Rudi. Sesaat setelah Rudi masuk, mobil itu pun mengebut, meninggalkan lokasi musuh.
“Bagaimana kamu?” tanya Rudi ketika mereka semua sudah dalam kondisi aman. Tidak ada yang mengikuti sejauh ini. Pun Rehan dan Rico juga membawa peralatan lengkap.
Rico masih enggan bicara. Ia mengikatkan perban untuk menghentikan pendarahan Rudi.
“Inilah yang terjadi pada kami saat melakukan misi. Ternyata memang benar. Ada yang membocorkan informasi,” terang Rehan.
Rudi meringis. Ia mencoba memakai bajunya kembali. “Bantu aku menolong mereka!” pinta Rudi.
“Tidak. Hanya kami berdua yang akan maju. Kau kapten, tetap di sini.” Tiba-tiba Rico bangkit dan menjajari Rudi. Ia masih enggan untuk menatap kaptennya itu.
“Aku sependapat dengan Rico,” sahut Rehan.
“Aku akan ikut!” paksa Rudi.
“Kau bisa apa dengan luka seperti itu, hah? Kau gila jika terus maju. Darahmu akan habis jika luka tembak itu tidak segera dijahit,” ujar Rico. Kini dia membelalak ke arah Rudi.
“Lebih baik aku mati daripada meninggalkan semua anggotaku di sana!” sangkal Rudi.
“Dan kami lebih baik mati daripada kehilangan anggota lagi!” Rico tak mau kalah.
“Berarti kita harus saling jaga. Kalian bawa aku ke sana, atau aku akan berlari dari sini!” ancam Rudi.
Rico mengembuskan napas. Ia menatap Rehan lalu selang beberapa detik mereka berdua sama-sama mengangguk. Meski sebenarnya Rico masih tidak suka dengan Rudi, ia mau tidak mau harus menghilangkan perasaannya itu demi kelancaran misi.
“Baiklah. Terserah apa maumu. Tapi kami akan menggunakan caraku untuk masuk. Cara seorang pencuri yang hendak merampok gudang harta karun,” ujar Rico.
***
Ditemani sang surya dan pasukannya yaitu carawala biru, mereka berangkat bersama dengan angin muson barat yang menerbangkan dedaunan. Mereka tak menyangka bahwa ada rombongan agen lain yang berangkat. Rudi mengenali mereka. Mereka masih satu agensi hanya beda daerah kekuasaan.
Rudi hendak bangkit dan memperingati mereka. Terlambat sembilan agen memasuki mulut gudang, hanya satu yang bisa diselamatkan dengan Rico yang membenkap mulut agen itu dan menariknya ke belakang semak-semak.
“Rudi? Apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kau?” tanya agen itu sambil menatap sekitar, memastikan keadaan.
“Diam sebentar dan dengarlah!” kata Rudi.
Hening. Lalu tiba-tiba terdengar suara adu tembak dan jeritan dari orang-orang. Sontak mendengarnya membuat seorang agen yang selamat itu hanya bisa menatap kosong ke arah gudang.
“Bagaimana bisa? Bukankah kamu yang mengirimkan sinyal bantuan ke kami?” kata agen itu, masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
“Kami telah binasa, Don. Kami dijebak,” terang Rudi singkat. Ia tidak mau membeberkan masalah pengkhiatan yang terjadi. Bisa jadi Doni, kenalannya ini berada di baliknya.
“Jadi sinyal itu palsu?”
Rudi mengangguk. “Kita berempat yang tersisa untuk melumpuhkan mereka sekarang atau tidak sama sekali.”
“Caranya?”
“Sekarang kita tunggu beberapa menit lalu masuk dan menyerang mereka. Pakai ini!” terang Rico sembari memberikan kaca mata khusus yang bisa mendeteksi suhu. Jadi walaupun nanti gelap, mereka tetap bisa melihat dari suhu tubuh musuh. Rico turut memberikan sebuah masker khusus.
Mereka berempat pun memakainya.
Di dalam para penjahat sedang merayakan kemengannya. Rico, Rudi, Rehan, dan Doni masuk. Ketika ada lorong yang bercabang, mereka mendapati satu orang di setiap lorongnya, oleh karena itu mereka berpisah dan berjanji untuk bersatu kembali dan melewati suatu lorong bersama-sama.
Secara diam-diam mereka mendekati orang yang ada di depanya. Setelah cukup dekat, mereka memukul tengkuk penjahat yang di hadapinya masing-masing. Tanpa menunggu lama para penjahat pingsan. Dengan cepat dan sigap, mereka berempat memasang melempar bom asap yang telah dicampur dengan obat bius.
Sedikit demi sedikit penjahat mereka temui dan lumpuhkan hingga mereka sampai di suatu ruangan yang isinya para penjahat sedang berjudi. Erik mengeluarkan bom tidur dan melontarkannya ke para penjahat. Berhasil! Tanpa selang waktu yang lama beberapa menit, mereka pingsan. Rico dan teamnya mengikat mereka.
Di sisi lain ada tiga penjahat yang tengah mengewasi gerak-gerik Rico dan yang lainnya. Di belakang penjahat itu ada para agen yang pucat pasi dan duduk pasrah apa yang akan terjadi dengan mereka.
Rudi dan yang lainnya sampai di sebuah ruangan yang cukup besar, di sana teman-teman agen mereka telah menanti untuk diselamatkan. Rudi mengepalkan jarinya ke atas, memberi isyarat untuk tidak bergerak terlebih dahulu. Dan benar saja. Selang beberapa detik, beberapa tembakan menghujani mereka.
Para penjahat bersedia menembak. Rico, Rudi, Doni, dan Rehan dengan gesit menghindar. Rico menggulingkan sebuah meja lau membalas tembakan penjahat. Rehan ikut-ikutan, dia berguling ke Rico lalu mempersiapkan revolvernya. Di lain sisi, Rudi meloncat, melindungi diri di balik tumpukan besi. Dia mengambil revolvernya lalu membidik dan menembak. Berhasil satu penjahat telah terkena tembakan. Rudi ingin menembak lagi. Sial pelurunya habis.
Rudi segera keluar dan menyerang. Tendangan dia arahkan ke kepala penjahat, namun si penjahat menghalaunya dengan tangan dan membalasnya dengan meninju perut Rudi. Tidak akan menyerah, itulah prinsip semua orang yang tengah mati-matian membela kebenaran. Rudi menendang kaki si penjahat hingga penjahat jatuh lalu diteruskan dengan menyikunya di bagian perut. Si penjahat terlihat kesakitan. Telinga Rudi meminta perhatian untuk melihat apa yang terjadi dengan temannya. Mereka terlihat baik-baik saja dan mulai menyerang balik para musuhnya.
Rudi berguling ke arah senjata. Belum sempat digunakan, tangannya telah ditendang oleh sang musuh, sehingga revolver itu lagi-lagi terbang. Tiba-tiba penjahat yang tadi kesakitan, menendang d**a Rudi sehingga terjadilah pertarungan lagi. Rico dan Rehan juga langsung menyerang penjahat yana melawannya. Rudi hendak menginjak perut penjahat yang melawannya, tapi kakinya dipegangi dan diputar mengakibatkan Rudi terjatuh. Rudi membebaskan dirinya dengan menendang si penjahat dengan kakinya yang lain.
Sedangkan Doni bertubi-tubi mencoba memukul si penjahat, namun penjahat yang di lawannya terlalu gesit untuk menghindar dan menyerang. Si penjahat merendahkan dirinya sembari menendang kaki Doni sehingga Doni terjatuh. Dan Rehan, dia malah asyik bermain kejar-kejaran sampai penjahat yang dilawannya berhenti dan menodongkan pisau ke arahnya. Rehan tak mau diam, dia menendang tangan penjahat di depannya hingga pisau melambung tinggi dan terlontar jauh. Rehan langsung saja menendang perut penjahat sampai terjatuh. Penjahat itu bangun dan menatap Rehan sembari menyiapkan pukulannya. Rehan juga demikian. Mereka maju bersama kemudian memukul d**a lawannya. Sesaat keduanya terdiam, namun beberapa detik kemudian Rico terlutut dan penjahat yang dilawannya jatuh tak bertenaga.
Sedangkan Rudi dan penjahat yang dilawannya sedang terdiam kekuatan mereka sama-sama seimbang. Pikiran Rudi teringat akan pelajaran yang akan diajarkannya yaitu kepala adalah sumber kekuatan. Apabila kepala terluka, maka semua tubuh akan lemas. Oleh karena itu, dia terfokus untuk menyerang kepala si penjahat. Tak tunggu berapa lama, dia meloncat dan menendang kepala si penjahat. Dan si penjahat langsung terkapar lemas. Rudi mengakhirinya dengan menginjak d**a si penjahat hingga pingsan.
Di sisi lain, Doni melangkah mundur lalu berlari dan merendahkan dirinya untuk meluncur layaknya pemain bola yang hendak merebut bola. Penjahat yang dilawannya jatuh, Doni segera bangun dan mengarahkan tumitnya ke perut penjahat, namun si penjahat menghindar dan berputar dan menendang perut Doni. Kedua orang itu meloncat dan mengarahkan tendangan sehingga mereka sama-sama terkena dan terjatuh. Bersamaan keduanya berdiri dan berlari hendak memukul. Setelah ukup dekat penjahat yang dilawan Doni mengepalkan tangannya dan mengarahkannya ke pipi Doni, tapi Doni menghindar dan melakukan tinjuan ke kepala si penjahat hingga dia pingsan.
Pertarungan berlangsung sengit, namun akhirnya semua pertarungan dimenangkan oleh pihak pembela kebaikan. Dua penjahat telah pingsan sedangkan penjahat yang dilawan Rehan masih terjaga sambil memegangi dadanya mundur-mundur mencari jalan tikus untuk kabur. Tim Rudi meneruskan pencarian. Mereka menemukan sebuah ruangan yang digunakan untuk menyekap. Mereka pun membebaskan mereka, sayangnya beberap di antara mereka telah gugur. Begitu juga Arya, Galang, serta Anto – teman-teman misi pertama Rico.
“Kalian tak apa?” tanya Rico
“Kami sudah dipasang bom oleh mereka,” jawab salah satu di antara mereka.
“Penjahat itu!” kata Rudi sembari mendekati penjahat yang masih sadar dan hendak mengintrogasinya.
“Dimana pengendalinya?” gertak Rudi.
Si penjahat tertawa, “Percuma. Kita akan mati bersama. Bom itu dikontrol secara jarak jauh,” jawab si penjahat
Rudi hendak memukul penjahat yang telah di ambang kesadaran.
“Rudi!” cegah Rehan dan Doni.
Namun Rudi dengan bengisnya langsung memukul dan tidak mneghiraukan cegahan teman-temannya. Seketika itu si penjahat pingsan. Rudi tak mengelakan kata penjahat itu, dia mencari-cari pengendali bom itu. Tak sengaja tangannya menekan tombol mengakibatkan keluarnya sebuah disc yang merekam pertarungannya, Doni dan Rudi. Ternyata benar, mereka telah diawasi.
Sudah hampir setengah jam Rudi mencarinya, tapi tak kunjung jua ditemukan. Doni sudah menghubungi tim khusus penjinak bom dan juga medis. Tapi perlu waktu lama untuk sampai di sini. Medan di sini berat, sedangkan waktu di bom kian berkurang.
“Sialan, di mana alat pemicunya!” geram Doni dan Rehan.
Waktu kian menipis. Hanya tersisa hitungan detik. Melihat itu, Rudi dan yang lainnya mulai putus asa. Mereka pun duduk dan bersiap dengan apa yang terjadi.
Lima ….
“Baiklah kalau ini akhirnya. Aku bersyukur bisa menjadi agen yang menyelamatkan dunia,” ujar Rehan dengan senyum.
“Maafkan aku tidak bisa menyelamatkan kalian,” kata Doni sembari menatap ke teman-temannya.
Dua ….
Rudi memejamkan mata.
Dan bom berhenti. Lalu sebuah langkah terdengar. Langkah yang sedikit pincang.
“Maaf ya lama. Susah ngretasnya tadi,” kata Rico dengan santainya.
Sontak semua orang hanya bisa melongo melihat kedatangan Rico. Semenjak mereka masuk, mereka tidak menyadari kalau Rico menghilang. Misi pun sukses.
Para agen yang terluka segera dievakuasi. Mereka semua pun pulang. Dan mulai saat itu, Rudi bisa mulai menghargai Rico. Menghargainya sebagai agen terbaik yang pernah ia kenal sekarang.
“Maafkan aku selama ini Ric!” Rudi menatap ke depan. Ia mungkin akan membicarakan masalah ini kepada Rico. Sekarang tanpa emosi sama sekali. Ya, masalah mereka harus segera diselesaikan. Sekarang atau tidak sama sekali. Harus Rudi yang mengakhiri masalahnya.