Rico tertawa terpingkal-pingkal. “Bodoh!” serunya.
Rudi mengernyitkan dahi. Tangannya mengepal. Ia siap untuk menghujani Rico pukulannya.
“Cerita bualanmu itu mengantarmu pada kematian,” sambung Rico sembari terus tertawa. Matanya menatap sinis Rudi di depannya.
Rudi pun mengcengkram kerah Rico. “Apa maksudmu?”
“Kukira semua agen itu hebat, ternyata sama-sama lemah!” Rico menekankan kalimat terakhirnya.
Rudi menelan ludah. Ia berpikir sejenak. Lalu setelah menyadari sesuatu, air wajahnya tiba-tiba berubah. Lelaki itu pun berbalik. Telinganya sayup-sayup mendengar CPU yang masih menyala. Rudi pun buru-buru menghidupkan monitor dan mendapati ada data yang telah dikirimkan.
Rudi ingin mencegahnya, tapi terlambat. Sebuah virus telah dikirimkan balik oleh penerima file. Tak hanya itu, ternyata Rico juga telah mengatur peluncuran virus yang membuat komputer itu mati total.
Belum sempat Rudi berbalik, Rico salto dan mematahkan kursi yang menahannya. Ia pun kemudian lari secepat yang ia bisa. Rudi menembakinya. Gagal. Ia pun mengejar Rico. Rudi sama sekali tak bisa meminta bantuan. Hampir semua rekannya tengah menyembuhkan diri. Efek gas bius milik Rico belum sepenuhnya hilang.
Rico memanfaatkan bakat dan heningnya malam. Lelaki itu memanfaatkan apa pun untuk menyamarkan keberadaannya. Rudi mendesis. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak mungkin bisa menembak. Salah-salah, pelurunya akan nyasar dan mengenai penduduk.
Rico tersenyum. Ia pun melemparkan bom asapnya yang terakhir.
“Selamat tinggal Rudi!”
Satu dua tiga. Bom itu meledak dan Rico menghilang.
“Argh!” Rudi berteriak kesal.
***
Sementara itu, di sebuah sisi yang tak terlihat, seseorang tengah mengamati apa yang terjadi. Seseorang yang tidak terkait oleh kedua belah pihak. Seseorang yang bekerja secara individu. Orang itu hanya tidak suka akan penindasan. Dan di matanya itu Rico tengah ditindas. Ia tahu persis siapa yang salah dalam perbuatan kali ini.
Lelaki itu keluar dari persembunyiannya. Ia menuju Rudi yang masih was-was dengan serangan yang mungkin akan terjadi. Rudi masih saja berusaha mengejar Rico yang sudah jelas telah menghilang.
Lelaki berjubah itu punya misi sendiri. Dan misi itu harus melibatkan Rudi. Maka lelaki yang juga memakai masker itu pun menjajari kecepatan larinya Rudi.
Mengetahui ada yang mengikuti, Rudi tak tinggal diam. Ia langsung berbalik sembari menendang lalu menjaga jarak.
“Diam! Atau aku akan meledakkan diriku sehingga kau akan mati bersamaku!” kata lelaki berjubah itu sembari memperlihatkan beberapa bom yang menggantung dibalik jubahnya.
Rudi menelan ludah. “Apa yang kau inginkan?”
Si lelaki berjubah itu melemparkan sebuah botol. “Jika kau ingin Rico ingat kembali, suntikan serum ini padanya! Rico telah dicuci otak dan dipermainkan memorinya oleh musuh.”
Rudi menangkapnya lalu tertawa, “Haha buat apa? Sekali pengkhianat tetap pengkhianat. Akan aku bunuh saja dia.”
“Benarkah kau berani melakukannya?” tantang si lelaki berjubah.
“Tentu aku berani melakukannya.”
“Tapi aku yakin kau tak akan melakukannya.”
Rudi terdiam. Ia memandangi serum yang diberikan kepadanya lalu mendongak lagi. Ia ingin melihat siapa identitas asli si lelaki berjubah, namun lelaki itu telah menghilang.
Di sisi lain, setelah beberapa waktu kemudian, Rico telah sampai di markas Ando. Ia menghadap Ando. Wajahnya tampak lelah. Napasnya memburu. Luka-luka di sekujur tubuhnya mulai terasa. Begitu juga dengan retaknya tulang akibat perkelahian yang hebat dengan Rudi.
“Misimu sudah aku lakukan Tuan Ando. Sekarang bolehkah saya menemui istri saya dan pulang?” ujar Rico dengan polosnya.
Ando tersenyum. Ia pun berkata, “Bawa Fira ke sini!”
“Tapi Tuan ….” Salah seorang bawahannya menolak secara halus.
Senyum Ando tiba-tiba berubah menjadi murung. Air wajahnya yang tadinya berseri kini mendung. Ia berbalik, menghadap bawahannya yang tadi menolak.
“Bawa Fira ke sini!” ulangnya sekali lagi.
Saat itu juga, suasana berubah menjadi tegang. Tidak ada yang berani bicara. Kehadiran Ando benar-benar terasa mendominasi. Si bawahannya yang tadi menolak, kini berbanjirkan peluh. Langkahnya patah-patah masuk ke dalam. Selang beberapa saat ia kembali dengan Fira.
Melihat suaminya yang kembali dengan selamat, Fira langsung berlari dan memeluknya. Ia membelai wajah Rico yang penuh akan luka dan bersimbah darah.
“Kamu tidak apa-apa, Mas?” tanyanya.
Rico tersenyum tapi belum juga senyum itu mekar sempurna, Rico merintih kesakitan. Salah satu bibirnya telah pecah, sehingga ia tak dapat menampilkan senyum indahnya.
“Kalian boleh pergi,” kata Ando.
Rico mengangguk. Ia pun melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari tempat terkutuk ini.
“Tapi jika kalian berusaha mengkhiati kami, kami tak segan-segan memberikan yang lebih kejam selain kematian,” sambung Ando.
Rico mengangguk. Sementara Fira sempat memandang Ando dan para bawahannya. Ia mendapat kode yang tak baik dari mereka dan Fira paham akan terjadi sesuatu yang mengerikan.
***
“Aku obati dulu ya lukanya,” kataku halus sembari memegangi betadin dan beberapa kasa.
Rico meringis, perih. Sudah pasti. Tak kusangka rencanaku yang hanya tinggal beberapa bulan lagi, gagal total. Aku tak bisa menghapus penuh memori Rico. Alih-alih dia menjadi milikku, dia malah menjadi aset berharga bagi Ando. Untuk itu tidak ada yang kubenci di dunia ini selain diriku sendiri. Seharusnya waktu itu aku tak pernah memberinya White Memory.
“Kenapa?” tanya Rico. Tangannya dengan halus menghentikan tanganku yang tengah membersihkan lukanya. Dia tampaknya menangkap ada keraguan yang terpancar dalam diriku.
Aku menggeleng lalu senyum.
“Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, sayang. Kita sudah aman.”
Meski aku tahu kalau Ando benar sudah melepas kami, tapi tidak dengan para bawahannya. Ando itu penjahat yang memiliki sifat tepat janji, sedang yang lainnya benar-benar penjahat bersifat busuk. Mereka pasti akan mengawasi kami dan saat Ando sudah tak membutuhkan kami, para bawahannya itu akan dengan sigap membunuh kami.
Aku melanjutkan membersihkan luka-luka Rico. Aku meneteskan air mata kala melihat tubuh suamiku. Banyak sekali luka lebam di tubuhnya. Beberapa kulitnya juga sobek. Dan aku kira tulang rusuknya patah.
Aku terisak, tak sanggup aku menahan guncangan emosi yang mengalir dalam otakku. Apakah cinta kami memang harus mengorbankan banyak hal? Apakah kami tidak bisa menjadi pasangan seperti pada umumnya? Mempunyai anak? Berlibur bersama? Dan bebas dari kata peperangan. Tak bisakah aku memiliki Rico seutuhnya?
Rico dengan menahan sakit, berbalik. Ia tatap wajahku begitu lekat. Ia tak berkata dan lansung memelukku. Aku yang sedari tadi menahan tangisku agar tak pecah, pun tak kuasa. Aku benar-benar menangis dalam pelukan Rico.
“Kita bisa menghadapi ini sama-sama, sayang.” Rico mengecup ubun-ubunku.
Sering dengan bergantinya posisi sang surya, aku merawat Rico sepenuh hati. Lambat laun keadaannya makin membaik. Tidak ada tanda-tanda trauma fisik yang berat. Tampaknya Rico berhasil mengolah ilmu bela dirinya sehingga luka yang diterimanya bisa diminimalisir.
Dengan Ando yang sudah menangkap kami, aku tak memberikan lagi serum terkutuk itu kepada Rico. Aku tak mau lagi mencuci pikirannya. Meski demikian, ia tak lagi mengigau akan kejadiaan nahas yang menimpa timnya. Apakah dia benar-benar sudah lupa? Apakah serum terakhir yang kuberikan serta sugesti yang kubisikkan benar-benar mencuci bersih masa lalunya? Entahlah hanya Rico yang bisa menjawab. Tapi andai dia mengingat dan bertanya kepadaku tentang masa lalu asli yang ia lalui, aku siap menjawabnya.
Aku memandang wajah suamiku. Dia masih tertidur lelap. Ada sedikit senyum yang terukir di sana. Walaupun dalam keadaan tidur seperti ini, wajah Rico mengandung cerita yang teramat dalam. Dari wajahnya aku sudah bisa mengira bagaimana kerasnya kehidupan yang telah ia lalui. Aku menghela napas tak sabar menunggu kesadaran Rico. Kukecup bibirnya lalu hendak bangun tapi sebuah tangan menarikku.
“Temani aku, sebentar lagi!” lirih Rico.
Aku tersenyum. Aku pun kembali berbaring di sampingnya dan menyendehkan kepalaku di dadanya. Rico melentangkan tangan kanannya untuk memelukku.
“Mau sarapan apa, Mas?” tanyaku halus. Aku tahu Rico sudah bangun. Dia kalau sudah mengatakan sesuatu, akan susah untuk kembali tidur.
“Apa pun asal kamu yang masak.”
“Sarapan air aja berarti. Pasti enak kan?” selorohku.
Rico tertawa sembil mengaduh-aduh. Lukanya belum sembuh benar sehingga ia tak bisa tertawa lepas, “Kalau gitu aku aja yang masak.”
“Nggak ah. Mulai saat ini, kamu nggak boleh pegang alat dapur.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau jadi istri yang sholehah buatmu. Kalau kamu sendiri yang masak gimana aku jadi sholehahnya? Jadi durhaka lah iya.”
Rico tersenyum tipis. Ia memiringkan badan. Aku yang sedari tadi berbantal dadanya pun berpindah ke bantal. Kini wajah kami saling berhadapan. Aku dapat dengan penuh melihat matanya yang begitu teduh. Napasnya yang sesegar samudra. Dan tatapannya yang begitu menenangkan layaknya mentari pagi.
“Makasih ya,” ucapnya.
“Untuk?” tanyaku sembari mengernyitkan dahi.
“Selalu ada untukku.”
Aku membuang muka. Dapat kurasakan darah mengalir deras di pipiku. Sepertinya wajahku sudah sempurna memerah.
“Udah ah, aku mau masak.” Aku menyibak selimut lalu bangkit dan menuju dapur.
“Jangan masak air doang, ya!” sahut Rico yang membuatku melemparkan bantal kepadanya.
***
Di bawah cakrawala keemasan, kami berjalan-jalan. Aku tersenyum, menyambut cahaya matahari yang menyinari wajah. Kupejamkan mata sembari menikmatinya sekejap. Aku mengajak Rico jalan-jalan. Tujuannya tentu agar tulang-tulangnya dapat diabangkitkan dengan vitamin D alami yang disinari oleh matahari.
“Aduh.” Rico mengaduh dan membuat aku langsung menengok ke arahnya.
“Makanya kalau jalan lihat-lihat.”
“Gimana mau lihat, orang mata aku nggak bisa lepas dari wajah cantikmu.”
Aku tersipu, “Lebay!”
Rico tertawa ringan. Ah mendengarnya benar-benar membuat hatiku teduh. Sudah lama sekali aku tak mendengar tawa itu. Apakah artinya hidup kami sudah benar-benar bisa dinikmati?
Aku mendudukkan Rico di bangku taman. Sementara aku beralih ke tukang bubur kacang hijau dan memesan dua mangkuk. Sementara menunggu pesanannya dibuat, Fira menoleh ke arah Rico. Lelaki itu menopang dagu, matanya lurus melihat anak-anak yang tengah bermain sepak bola. Aku pun termenung melihatnya.
“Ini, Mba!” ucap penjual sembari menyodorkan dua mangkuk bubur yang masih mengepul. Aku pun membayarnya lalu kembali ke Rico.
“Ini, Mas,” tawarku sembari menyodorkan semangkuk bubur.
Rico tersenyum, “Kamu ingin aku buncit atau gimana?” selorohnya.
“Biar cepet sembuh. Syukur-syukur kalau badanmu tambah berisi,” timpalku.
Perlahan Rico menyendok bubur kacang hijau yang masih panas. Ia pun memakannya. Pandangannya tak lepas dari anak-anak kecil yang masih asyik bermain.
“Lihat apa?” tegurku.
“Eh, oh nggak. Aku lagi lihat … pohon.”
Angin berembus sepoi-sepoi. Simfoni alam yang syahdu mulai menjamah seluruh alam. Matahari mulai meninggi. Cahanya bukan lagi hangat melainkan panas. Burung-burung pun sudah jenuh berkicau dan mulai beburu makanan.
Kami saling terdiam di jalan pulang. Aku sibuk dengan pikiranku yang mulai ingin menikmati pagi dengan tangisan bayi. Tapi apakah mungkin.
“Mas …,” panggilku halus.
“Hmm …,” sahutnya.
“Apa Mas ingin punya anak?” tanyaku hati-hati.
Rico tak menjawab. Tapi raut wajahnya sudah mewakili mulutnya untuk berkata.
“Apakah mungkin bagi kita untuk mempunyai anak?” lanjutku dengan nada lemah.
Rico menghentikan langkah. Ia menatap wajahku lekat-lekat. “Asal kamu siap, aku akan melindungimu apa pun yang terjadi,” ujarnya lalu mengecup keningku.
Aku memeluknya. Dalam hatiku masih bertanya-tanya.
Apakah kamu masih mau melindungiku jika tahu hal yang sebenarnya?
Kami pun berjalan kembali. Jalan demi jalan mereka telusuri. Keheningan menemani perjalanan kami kembali ke rumah. Hanya sesekali aku menatap wajah Rico yang terus-terusan melihat ke depan. Sesampainya di rumah, aku kembali membaringkan Rico. Ia masih perlu istirahat yang banyak. Kutinggalkan dia dan kukecup keningnya. Aku akan pergi sebentar, pergi untuk mengurus masa lalu yang belum juga terselesaikan.
***
Rudi tengah menghidupkan laptop. Yang diberikan oleh lelaki misterius itu bukan hanya sebuah serum, tetapi juga sebuah kartu memori. Rudi tengah menimang-nimang akan membukanya atau tidak, mengingat apa yang dilakukan Rico kepada kantornya.
Pasca Rico menyerang kantor, kini tempat itu telah pulih sediakala. Komputer utama pun sudah bisa ditangani, hanya saja data yang terkirim dan yang diunduh belum jelas data yang mana. Pak Erik marah besar ketika mengetahui markasnya diserang. Bukan kalah karena diserang gerombolan penjahat tetapi kalah satu orang. Sungguh memalukan. Untuk itu dia melakukan pengetatan di berbagai aspek, termasuk memindahkan markas, mengingat markas ini bukan lagi markas rahasia. Dia juga mengirimkan lebih banyak agen untuk menangkap Rico, tapi tak ada satu pun yang memberikan informasi. Mereka seperti hilang ditelan bumi.
Rudi mengembuskan napas. Ia akhirnya menancapkan kartu memori itu ke laptopnya. Sebelumnya ia memastikan ia tak terkoneksi internet dan laptop itu tak memiliki data lain.
Tak ada file lain di kartu memori itu selain sebuah video. Rudi langsung membuka dan menontonnya. Ternyata rekaman dari lelaki berjubah dan bermasker itu. Dia menjelaskan tentang serum yang disebut dengan White Memory yang dapat menghapus ingatan orang dan membuatnya seakan-akan menjadi halusinasi. Ada beberapa serum lain yang serupa tapi tak sesempurna White Memory itu. Lelaki itu pun menjelaskan bahwa serum-serum ini dikembangkan oleh Ando beserta senjata biologis lainnya.
“Rudi, aku bisa mempercayakan Rico kepadamu. Hanya dia yang nantinya bisa membantuku memecahkan semua masalah ini. Ini adalah penawar dari White Memory. Dan jangan percaya pada siapapun!” ucap lelaki berjubah itu.
Rudi menangkupkan tangannya ke wajah. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kode etik, tentu ia harus menghabisi Rico. Tapi apa ia mau? Dan siapa pula orang berjubah itu? Dia seakan tahu seluk-beluk hubungan Rudi dan Rico.
Tiba-tiba sebuah asap keluar dari laptop Rudi. Rudi yang melihatnya sontak kaget.
“Are you kidding me!” umpatnya. Baru saja ia beli laptop ini sekitar beberapa bulan yang lalu, kini laptop yang disayanginya itu telah rusak. Rudi tak mau tahu. Jika ia mengetahui identitas si lelaki itu, ia akan minta ganti rugi.
Rudi berganti menatap serum. Ia tahu tak mudah melakukan ini. Rico bukan orang sembarangan. Presepsinya waktu itu salah. Bukan Rico penyebab kegagalan misi pengintaian itu. Ia baru menyadarinya kala melakukan misi bersama Rico. Misi yang menyadarkan Rudi bahwa tidak semua pencuri itu busuk.
Rudi pun mengemasi barang seperlunya. Lelaki itu mengambil persenjataan dan juga alat GPRS. Inilah keunikan Rudi. Ia tak pernah lekang menandai musuhnya dengan alat pelacak. Setiap perkelahiannya pasti disusupi dengan sesuatu. Ia akan menuntaskan misinya menangani Rico dengan caranya sendiri. Peduli apa kata atasannya. Ia lebih peduli pada Rico yang telah menyadarkannya bahwa ayahnya bukanlah seorang laki-laki yang pantas diinjak-injak.
“Tunggu saja kau Ric! Aku akan menyadarkanmu bahwa kamu adalah pencuri yang bisa dihormati!”
Rudi menaiki motor. Ia pun pergi. Pergi dengan misinya sendiri. Misi yang lebih penting dari misi atasannya. Dan mungkin misi ini juga yang bisa menyelamatkan semuanya.