“Dia juga tak menjawab panggilanku,” keluh Rehan.
Suasana yang tadinya riang, menjadi canggung. Malam kian dingin, tapi di ruangan malam justru kian panas. Tak ada yang berani bersuara. Masing-masing sibuk mengupayakan cara untuk menghubungi Anto.
“Atau jangan-jangan yang kulihat tadi ….” Rico membuka informasi.
Sontak semua yang ada di ruangan itu kini menatap Rico. Rico membuang muka, ia menelan ludah. Lelaki itu mengingat tentang cemooh Rudi kepadanya. Namun selang beberapa saat ia kemudian kembali menatap rekan-rekannya. Ia tak boleh ragu. Meski caranya mungkin salah karena menggunakan cara seorang pencuri, tapi ia tak boleh merasa rendah diri.
“Aku melihat sebuah tangan yang tergeletak di rumah Pak Burhan.” Rico menelan ludah. Yang lainnya juga terus-menerus menatap Rico. Mendapati perlakuan seperti itu, Rico pun langsung menguraiakan apa yang dilihatnya semenjak pengintainnya dimulai.
Setelah selesai, Arya dan yang lainnya baru bisa menarik napas. Mereka seperti baru mendengarkan cerita horor yang paling mengerikan sepanjang hidup mereka.
“Aku juga menangkap gelagat yang aneh dari target.” Galang menambahkan. Ia memperbaiki posisi duduk lalu sejenak menarik napas. Semua anggota sama-sama paham. Tidak boleh ada rasa gugup atau tegang walau sejenak.
“Aku berhasil masuk ke rumah target. Dia minta dipijat seluruh tubuh. Di tubuhnya itu banyak luka terutama bekas luka tembak. Kupikir dia tidak ke dokter karena lukanya itu tidak dijahit dengan benar. Lalu ketika dia menerima telepon, dia langsung menyuruhku pulang begitu saja. Bahkan dia tidak meminta kembalian atas uang yang diberikannya kepadaku,” ujar Galang panjang lebar.
Rehan yang sedari tadi berdiri, kini ikutan duduk. “Targetku juga mulai menunjukan pergerakan,” katanya sembari memperbaiki posisi duduk.
Rehan menarik napas. “Aku dengar dia semalam berteriak-teriak. Bahkan sampai membanting sesuatu. Aku juga mendengar seperti ada yang berteriak tapi sangat lirih. Aku khawatir kalau itu Anto, terlebih targetku itu tiba-tiba membuka gerbang lalu pergi menggunakan mobil. Meski sekilas, aku dapat melihat dia menjinjing tas yang kucurigai sebagai senjata. Ia juga menatapku dengan tajam sebelum akhirnya pergi. Aku yakin dia telah mengendus niat kita.”
“Ok, ok. Baiklah seperti ini. Target kita ada lima dan Anto tiba-tiba menghilang. Untuk itu aku perlu membagi tim. Karena hanya target Rico dan Galang belum menaruh curiga, kalian bisa terus mengawasi mereka. Sementara aku dan Rehan akan menyelidiki kasus di sana lebih dulu. Ingat! Meskipun kita diajarkan untuk lebih baik mati daripada membocorkan rahasia, aku ingin kalian tetap hidup. Mengerti!”
Semuanya mengangguk.
***
Malam berikutnya pun datang. Entah mengapa, Rico merasa ada yang berbeda kali ini. Hawa di rumah yang diintainya serasa sesak. Untuk mengurangi risiko, Rico pun memakai topeng. Seperti biasanya, pencuri tak mau pernah terlihat identitasnya secara pasti.
Dalam perjalanan kesana, dia memakai topengnya. Rico menyempatkan untuk memanggil teman-temannya lewat walkie talkie. Sayangnya panggilannya itu sama sekali tak dijawab. Rico sempat khawatir, tapi ia segera menepis anggapan yang tidak-tidak.
Rico menghembuskan napas panjang. Ia pun menata hati lalu masuk. Tidak sangka ada beberapa orang tepat di depan pagar yang Rico lompati. Tanpa ampun, mereka menyerang Rico bertubi-tubi. Gerakan gesit diperlukan Rico untuk menghindari serangan, dia berhasil menjaga jarak.
Pertandingan sebenarnya pun dimulai. Ini adalah langkah awal, jadi sebisa mungkin Rico tak boleh membuat suara. Rico pun dengan cepat melesat ke belakang musuhnya lalu memukul tengkuknya. Satu tumbang, sedang satunya malah berteriak. Rico langsung menubruknya lalu membungkam satu musuhnya itu.
Ini aneh. Rico membatin.
Lelaki itu pun meneruskan misinya, dia masuk ke rumah utama yang semalam juga disusupinya. Lampu mati, tapi ketika Rico melangkahkan kakinya, ia disambut dengan berpuluh-puluh pukulan. Rico menepis sebuah pukulan. Ia pun melindungi wajahnya lalu berdiri dan menendang sekuat mungkin salah satu musuhnya. Rico lalu menjaga jarak dan membiarkan musuhnya mengejarnya.
Rico menarik napas. Ia pun mengambil kuda-kuda lalu kakinya menendang seseorang, sementara tangannya meninju seorang musuhnya. Serangan terus berdatangan, tapi Rico tak kewalahan. Ia tak mengikuti kemauan musuh. Lelaki itu terus mencari jarak untuk melumpuhkan satu per satu musuhnya.
Ketika ia hampir menang, tiba-tiba lampu menyala dan sebuah tepuk tangan terdengar.
“Ternyata segerombolan agen tak sehebat yang aku kira. Serang!”
Seketika itu, orang-orang yang bersama yang punya Rumah, menyambut Rico. Semua penjahat yang berjumlah sekitar dua puluh orang bekerja sama mengalahkan Rico. Terpaksa. Langkah membabi buta adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan mereka.
Rico berlari lantas mengayuhkan kakinya ke wajah tiga orang di depannya. Akibatnya tiga orang itu jatuh dengan luka memar di wajah. Yang lainnya tidak terima. Mereka memegangi Rico dari belakang dan serempak perampok yang lain memukulinya. Rico jatuh dengan napas terengah-engah, dia meluruskan kakinya lalu mengayunkannya ke orang di sekililingnya seraya berputar sehingga mereka jatuh secara bergantian.
Tanpa membuang waktu, Rico berdiri menginjak d**a mereka satu per satu sekeras mungkin. Belum sempat menyelesaikan mereka, Rico mendapat sambutan tendangan oleh musuh lain di pinggangnya hingga dia jatuh terguling-guling. Amat sakit dirasanya, namun Rico mencoba untuk tidak menghiraukannya. Ia segera bangkit dan melawan lagi. Pukulan demi pukulan mereka hantamkan. Rico merendahkan dirinya lalu menendang paha orang itu sehingga dia jatuh. Dia hendak berdiri, tapi kakinya keseleo. Melihat hal itu, Rico langsung menendangnya hingga pingsan. Pertarungan yang tidak seimbang itu terus berlanjut. Darah bersimbah kemana-mana pergi dari pemiliknya. Tenaga Rico yang tadinya penuh sekarang sudah berkurang lebih dari separuh.
Seberapapun kuatnya kejahatan pastilah kebaikan yang akan menang. Sebuah bunyi suratan takdir yang pasti terjadi di dunia ini. Kurang lebih delapan belas orang sudah Rico kalahkan. Hanya tinggal dua orang lagi. Rico meloncat dan mengayuhkan kakinya ke mereka dan berakhirlah pertempuran Rico dengan pingsannya mereka. Secepat mungkin Rico mengatur napas untuk membangun energinya kembali.
Rico berjalan sempoyongan. Ia sempat menyalakan walkie talkienya tapi tetap nihil. Tak ada yang menjawab. Kepalang tanggung, Rico pun melangkah, mendekati si pemilik rumah yang belum tumbang. Pemilik rumah yang Rico kenal sebagai Pak Burhan berlari sembari memegangi sebilah pisau. Dia bertatapan dengan Rico dan pecahlah sebuah perkelahian antara hidup dan mati.
Orang itu menjulurkan pisaunya dan Rico menghindar sebisa mungkin lalu memegangi tangan orang itu. Spontan orang atau penjahat itu menarik tangannya supaya terlepas sehingga lengan Rico. Rico tidak membiarkannya. Dia menendang tangan Pak Burhan hingga dia menjatuhkan pisaunya kemudian menendang pisau itu jauh-jauh.
Tidak terima dengan perlakuan atas dirinya, Pak Burhan menedang dengan gesit perut musuhnya menjadikannya jatuh dan menginjak dadanya. Tapi saat dia mau menginjak yang kedua kalinya, Rico menahan injakan itu lalu berdiri sehingga mereka bergantian jatuh. Kesempatan bagus bagi Rico untuk memulihkan keadaan sejenak.
Pak Burhan bangkit. Kelihatannya dia semakin garang akan Rico. Dia berlari menuju Rico lalu memukuli dadanya bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan untuk Rico mengelaknya. Setelah puas, dia menendang Rico hingga Rico berjalan mundur sambil memegangi dadanya.
Lagi-lagi Pak Burhan menyerang, dia mengayuhkan pukulannya ke perut Rico dan terjatuhlah dia. Penjahat itu terlihat mengambil revolver sembari menodongkannya ke Rico. Sekarang hanya Yang Maha Kuasa yang bisa menetukan kejahatan atau kebajikan yang menang karena tubuh Rico sudah kehilangan tenaga sebanyak delapan puluh persen ditambah lagi adanya luka di tubuhnya. Rico memejamkan mata.
Rico tak menyerah. Ia salto lalu dengan sigap melancarkan tendangan berputar sehingga tendangannya itu mengenai senjata si Burhan, membuat revolver itu terhempas. Rico memejamkan mata. Sekaranglah gilirannya ia melakukan apa yang ia lakukan selama ini. Rico menarik napas. Ia lenyapkan keinganannya untuk menyerang lalu mengatur napasnya seperti biasa.
Kala Pak Burhan menyerang, Rico segera melesat ke belakangnya dan menghilang. Pak Burhan berputar lalu menghempaskan pukulan, tapi Rico berhasil menghindar dan menghilang kembali. Pak Burhan memandang ke segala arah, nihil. Tidak ada Rico. Yang ada hanyalah para bawahannya yang telah tak berdaya.
Lalu tiba-tiba dengan kecepatan beberapa detik saja, Rico berada di belakang Pak Burhan lalu menendang lelaki itu sekeras mungkin. Pak Burhan terhempas dan tubuhnya menghantam tembok dengan keras. Rico dengan santai menghampirirnya. Ia kemudian meremas kerah musuhnya.
“Katakan di mana temanku yang kau sandera itu!” bentaknya.
Si Burhan hanya tertawa mengejek. Ia masih berusaha mengambil revolver yang tergeletak di sampingnya. Rico dengan cepat menyadari dan menginjak lengan Burhan untuk mencegahnya.
Belum sempat Rico mengajukan pertanyaan lagi, ada yang menebakinya dari lantai dua. Spontan dia melihatnya. Tembakan demi tembakan mengarah padanya tanpa ampun. Untuk menghindari tembakan, Rico berguling dengan cepat ke depan. Rupanya masih ada satu penjahat lagi yang sedang menuruni tangga seraya menembaki Rico terus menerus. Mata Rico tertuju pada tembakan penjahat yang baru ia kalahkan. Demi mendapatkan tembakan itu, Rico melakukan roll secepat yang ia bisa. Dia mendapatkannya dan langsung membalas serangan.
Baku tembak pun tak terelakkan. Tidak ada yang bisa maju. Ternyata bidikan mereka seimbang hingga peluru mereka habis. Rico yang pertama menyerbu, tapi ternyata penjahat itu juga berlari ke arahnya. Mereka sama-sama berputar seraya mengayunkan kakinya sehingga kaki mereka berpapasan. Pukulan menggantikan serangan penjahat itu, tapi ditangkis oleh Rico. Tenaga Rico yang sedikit tidak dapat dikompromi jadi Rico hanya dapat menghindar dan bertahan sesekali.
Penjahat dengan cepat menguasai keadaan, dia menyerang bertubi-tubi. Sangat terlihat bahwa tubuh Rico sudah sangat terluka, namun dia tetap berusaha. Dia salto, kakinya mengenai kepala si penjahat lalu meroda dan lagi-lagi kakinya mengenai si penjahat. Namun itu belum cukup sehingga si penjahat masih bisa berdiri. Segera mungkin Rico menendang kaki musuhnya, tapi dia menghindar. Penjahat pun tidak ingin tertinggal dia menggeluarkan senjata berwujud pisau.
Rico menghela nafas, dia bersuaha mengendalikan diri. Konsentrasinya hampir memudar. Namun kalau sampai ia mati di sini, semua yang ia inginkan akan musnah. Penjahat mulai menggunakannya, dia menendang kaki Rico hingga jatuh lalu menubruknya dan mengayunkan pisau ke leher Rico. Sekuat tenaga Rico menahannya. Dia mencoba untuk mengarahkannya ke samping kananya. Suasana amat tegang. Kaki Rico berayun menendangi punggung penjahat yang dilawannya. Lama kelamaan penjahat melemah dan Rico terhindar dari maut. Mereka berdiri. Sekali lagi penjahat itu mencoba menghujamkan pisaunya, namun Rico berhasil memegangi lengan si penjahat lalu sekuat tenaga dan membantingnya. Seketika itu, si penjahat teramat kesakitan dan tidak sanggup untuk berdiri.
Dengan tidak adanya serangan lagi, Rico pikir misinya sudah selesai dan tinggal mengikati mereka saja sembari menunggu para polisi datang. Tapi kenyataan berkata lain. Ada tiga orang yang membuka pintu berpenampilan perampok. Salah satu dari mereka melihat-lihat sekitarnya kemudian menodongkan revolver yang ada di tangannya. Rico menarik napas. Ia siap bertarung kembali, walau kecil kemungkinannya akan menang, tapi tidak ada alasan untuk menyerah.
Sebuah tembakan melesat, namun yang tumbang adalah salah satu anggota penjahat. Dua tembakan terdengar lagi dan ketiga orang itu tumbang.
“Ric, kau tidak apa-apa?” tanya Galang. Tangan satunya mencoba menolong Rico sementara tangan satunya masih memegangi senjata laras panjang.
“Aku tak apa-apa,” jawab Rico sembari terengah-engah. Ia lalu menatap Rehan dengan heran, “Kok kamu bisa di sini?”
“Aku tadi mendengar adu tembak saat melintasi pemukiman sini. Aku khawatir karena di rumah intaianku tidak ada tanda-tanda. Ternyata dugaanku benar. Mereka sudah menyiapkannya untuk menangkapmu,” jelas Galang, matanya dengan cermat menatap ke segala penjuru, mewaspadai kalau-kalau ada musuh yang datang kembali. “Ayo, kubantu kau keluar dari sini.”
Rico menyeka darahnya di ujung bibir. “Aku mau memastikan sesuatu.” Ia pun kemudian berjalan sempoyongan ke arah ruangan yang ia susupi semalam. Tak lupa ia merampas kartu dan juga kunci dari tubuh Pak Burhan.
Sesampainya di sana, Rico membuka ruangan itu lalu mencari tangan yang tergeletak kemarin. Ia akan membuktikan kalau itu bukanlah tubuh manusia. Sementara Rehan menghidupkan komputer lalu mencoba melihat apa isinya.
Rico bernapas lega kala mengetahui yang ia lihat kemarin hanyalah sebuah manekin. Tapi tidak bagi Rehan.
“Ric! Kemari!” teriak Rehan.
Mendengar temannya berbicara dengan nada yang tak biasa, Rico segera menghampirinya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat keempat foto rekannya sudah ada dalam target.
“Kenapa data ini bisa bocor?” tanya Rico.
“Kita semua dalam bahaya,” sahut Rehan.
“Tunggu, kenapa tidak ada fotoku di sana!”
“Bisa jadi ini data lama, dan datamu belum diinput. Yang jelas kita harus menyusul Arya dan Galang. Mereka bisa mati.”
Rico mengangguk. Setelah Rehan menyalin semua berkas yang ada di komputer itu, mereka lantas menuju ke rumah yang diintai oleh Arya dan Galang. Dengan kecepatan yang mereka bisa, mereka berlari. Rumah itu berjarak satu kilometer dari rumah Pak Burhan, membutuhkan waktu memang, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada kendaraan.
Baru setengah perjalanan, tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan cepat. Mobil yang melihat ada Rehan dan Rico di jalan, tak mengurangi kecepatan. Mereka malah kian menambah, sengaja mengincar Rehan. Rehan yang tahu itu, langsung melompat memanjat pagar. Sementara mobil yang satunya mengarah ke Rico. Rico tak punya celah. Ia pun melompat ke sisi yang lain secepat yang ia bisa. Nahas salah satu kakinya masih terkena imbas tabrakan itu.
“Cepat selamatkan diri kalian!” teriak sebuah suara ketika mobil itu melintas. Dan tiba-tiba terdengar suara tembakan yang membungkam si pemilik suara.
Rehan turun. Ia membantu Rico berdiri. “Kita telah gagal,” lirihnya.
Rico menelan ludah. Ia tidak percaya dengan apa yang ia alami. Misi pertamanya. Kegagalan pertamanya. Hanya dua dari lima orang yang masih bisa menghirup udara dengan bebas, sementara yang lainnya entah sudah di dalam tanah atau masih di atas tanah.
“Kita harus menyelamatkan mereka,” ujar Rico.
Rehan memandang Rico dengan tatapan tak percaya, “Apa? Kau mau cari mati? Belum tentu juga mereka masih hidup.”
“Hidup atau mati kita harus temukan mereka. Hanya kita satu-satunya harapan mereka.”
Rehan menggeleng tegas, “Yang paling penting adalah kita temukan dulu siapa yang membocorkan operasi ini pada mereka.”
Rico menatap langit. Sudah hampir subuh. Sebentar lagi orang-orang akan datang dan sebelum itu terjadi mereka harus membersihkan lokasi. Tak boleh ada bukti atau sidik jari yang tertinggal. Masalah mereka nanti ditangkap itu urusan polisi. Rico dan Rehan mempunyai misi yang lebih penting lagi. Misi yang mereka awalnya kira hanya misi remeh temeh, sekarang menjadi misi yang sangat penting.
Data di tangan Rehan adalah bukti bahwa adanya penyusup atau pengkhianat di agensi. Tidak mungkin ada yang tahu operasi misi mereka selain beberapa orang saja. Tapi jika itu benar, Rico tak dapat membayangkan bagaimana kacaunya agensi nanti.
Tunggu apakah pengkhianat itu adalah Kapten Rudi? Dia yang selalu ingin melenyapkanku. Apakah dengan mengorbankan rekan-rekan dalam penyelidikan ini bisa membuatku dikambing hitamkan lalu dikeluarkan dari agen? Rico mencoba menerka-nerka.