Rico dan yang lainnya bersiap. Mereka akan melakukan misi untuk pertama kalinya. Tentunya bagi Rico ini hal yang sangat ditunggu-tunggunya.
Pasukan yang dipimpin oleh Arya berangkat. Pasukan itu hanya berjumlah lima orang. Tentu lebih sedikit lebih baik, mengingat ini bukanlah perang, melainkan sebuah pengintaian. Tidak ada yang tahu tentang misi apa yang tengah dikerjakan, tapi biasanya sesama agen akan mengucapkan salam perpisahan sebelum agen yang lain berangkat. Semuanya kecuali Rudi kepada Rico. Lelaki itu tetap saja menatap Rico dengan tatapan tidak suka.
Arya dan keempat timnya berangkat. Mereka tak berangkat bersama, mereka mempunyai tugas untuk mengumpulkan informasi terlebih dahulu. Maka misi yang pertama adalah penyamaran.
***
Suara putu ayu terdengar nyaring. Rico dengan senyuman menawarkan dagagannya. Ia memakirkan sepedanya di depan sebuah rumah besar. Rumah itu berada di sebuah gang dengan pagar yang rapat. Pagar itu pun ditutup dengan sebuah papan plastik, sehingga siapa pun tak dapat melihat ke dalam.
Rico mengaktifkan walkie talkienya sembari tetap memunyikan sirene dari cara masak kue putunya. Ia menyembunyikan walkie talkienya itu sembari berteriak menawarkan kue putu. Ia ingin orang di dalam rumah itu keluar, walau hanya sebentar.
“Bang kue putunya goceng!” teriak anak kecil sembari menyeka ingusnya.
Rico tersenyum. Ia pun membuatkan pesanan.
“Adek pernah liat orang yang punya rumah ini, nggak?” tanyanya.
“Tahu. Orangnya pendiem, disapa aja kagak pernah nengok tuh!”
“Bang putunya dong sepuluh ribu.” Seorang wanita muda, tiba-tiba mendekat. Ia menggandeng seorang anak kecil yang sepertinya masih berumur lima tahunan. Dari wajah mereka, Rico dapat mengirakan kalau mereka adalah kakak-beradik.
“Baik, Mba. Tunggu sebentar, ya!”
“Abang baru ya di sini? Kok aku baru lihat.”
Rico menelan ludah. Ia buru-buru menguasai diri lalu tersenyum dengan penuh keramahan, “Iya, Mba, baru. Dulu jualannya nggak di sini, itulah cari peruntungan. Siapa tahu banyak yang beli.”
“Oh gitu!”
Rico menyerahkan pesanan putu milik anak kecil yang pertama kali beli. Setelah diberikan, anak itu langsung lari kegirangan dan menghilang di ujung gang.
“Mba, rumah itu ada orangnya atau nggak, ya? Kayaknya sepi banget,” tanya Rico hati-hati.
“Oh rumah itu. Sebenarnya ada sih, Mas. Kenapa emang?”
“Nggak. Cuma merinding aja gitu kalau lewat. Seperti ada penunggunya.” Rico menggoyangkan badannya. Ia berpura-pura merinding.
“Aelah, Mas. Di sini mah nggak ada hantu. Orang rumah di sana itu aja sering kok pergi malem-malem.” Wanita itu menunjuk ke rumah yang tadi ditanyakan Rico.
Bagus, batin Rico. Sebuah informasi didapatnya dengan mudah. Ia ingin bertanya lebih lanjut. Andai saja ia tak ingat akan pelatihannya, ia sudah melakukan itu.
“Jangan pernah bertanya kepada orang lain, lebih dari satu pertanyaan.”
Kata-kata Pak Erik itu terus terngiang dalam otak Rico. Untuk itu Rico pun membungkus pesanan si wanita dan menyerahkannya lalu beranjak dari tempat itu.
***
“Bagaimana? Ganti,” tanya Arya lewat walkie talkienya.
“Target belum terlihat. Ganti,” jawab yang lain.
“Tetangga tidak pernah melihat target ketika pagi hari. Ganti,” sambung Rico.
“Apakah kita paksa masuk? Ganti,” tanya agen yang lain.
“Jangan. Kita belum cukup bukti. Bisa saja kita salah sasaran. Tetap awasi dan lanjutkan pengintaian,” perintah Arya.
“Siap,” jawab yang lain hampir bersamaan.
Sayangnya mereka tidak menyadari ada satu dari mereka yang tidak ikut dalam perbincangan singkat tadi. Mereka ada lima orang, sedang yang menjawab hanya ada empat. Satu titik dari lima titik rumah di beberapa blok perumahan itu, sudah menunjukkan taringnya.
Ketika malam kian kelam, Rico memutuskan untuk mengintai dengan memaksa masuk. Tidak lupa ia memakan permen karet, hal yang wajib ia lakukan sebelum melakukan pencurian. Mungkin inilah alasannya agensi merekrutnya. Rico dapat bermanuver tanpa perlu adanya saksi ataupun bukti. Semuanya bersih.
Rico melompati pagar. Aman. Tidak ada anjing penjaga. Rico pun membobol pintu dengan sebuah kawat dan sebuah peniti. Meskipun memerlukan beberapa waktu, Rico akhirnya berhasil. Pria itu pun mengendap-ngendap dan mencari barang bukti.
Sementara di sisi lain, ketiga rekannya tetap mengintai. Masing-masing ada yang menyamar sebagai tukang pijat, penjual nasi goreng, dan sate. Dengan ketiga profesi itu, mereka dapat berjaga di luar tanpa ada kecurigaan. Apalagi penjual sate dan penjual nasi goreng dapat mangkal dengan menggelar karpet sebagai persiapan ada yang makan di tempat. Sementara tukang pijat, tentu dapat masuk ke rumah dengan leluasa.
Target tim Rico kali ini adalah gembong penjual senjata ilegal. Tentu di dalam gembong itu bukanlah orang sembarangan. Maka sudah barang tentu kesalahan sedikit saja, mereka akan ketangkap basah tengah menjalankan operasi mata-mata.
“Pengirimannya sudah sampai?” sebuah suara terdengar. Rico yang tengah menggeledah ruangan lain pun langsung sembunyi. Seperti apa yang biasa dilakukan pencuri lain, ia meniadakan keberadaannya.
“Sudah berapa kali kubilang, jangan lupa mengunci pintu!” sebuah suara terdengar amat marah kala ia membuka pintu.
“Demi apa pun, aku sudah menguncinya.”
Orang yang membuka pintu itu langsung memukul rekannya. “Kau masih tergolong muda, tapi sudah pikun. Sudah berapa kali kau bilang sudah kau kunci, tapi tetap saja terbuka.”
Kedua orang itu masuk. Salah satunya mengunci pintu. Untungnya Rico sudah belajar untuk membobol pintu tanpa merusaknya, sehingga kedua tersangkanya itu tak memiliki kecurigaan sama sekali.
“Bagaimana pengirimannya?” orang yang membuka pintu terdengar sedikit emosi dengan lawan bicaranya di telepon. Ia terus-terusan menceracau, sementara temannya pergi. Dia menghidupkan lampu dan terdengar sebuah guyuran air.
Selang beberapa saat, orang yang tengah menelepon pun berlalu. Rico langsung mengikutinya. Di balik pintu, Rico dapat mengetahui orang itu tengah membuka pintu yang sepertinya pintu kamar dengan akses khusus. Pintu itu punya dua pengaman. Satu dengan kartu dan satunya lagi dengan kunci biasa.
Rico segera mendekat. Ia tempelkan permen karet ke gawang pintu itu sehingga pintu tak akan mungkin akan tertutup rapat. Setelah yakin bahwa orang yang masuk agak jauh, Rico turut masuk.
Dilihatnya orang yang tadi masuk kini tengah menghadap ke layar komputer. Di sana terdapat gambar-gambar senjata laras panjang, lengkap dengan harganya. Rico memeriksa lebih jauh. Nahas, ia tak menemukan apa pun selain banyak komputer yang entah digunakan untuk apa.
Merasa tidak ada informasi lebih lanjut, Rico memutuskan untuk keluar. Sayang ketika ia sudah di ambang pintu, ia lihat orang yang satunya lagi baru keluar dari toilet dan orang itu tengah menuju ke ruang berkunci ganda itu.
Rico langsung bersembunyi lagi. Ia kali ini bersembunyi tepat di samping pintu. Orang yang masuk cenderung tak menatap apa yang ada di sebelah pintu, ia akan langsung menatap ke depan, menatap apa yang menjadi tujuannya. Di saat orang itu masuk, Rico langsung keluar. Namun sesaat sebelum ia keluar, ia melihat ada sebuah tangan yang tergeletak.
“Sepertinya tadi ada yang lewat,” ucap orang yang barusan masuk.
“Ah palingan anjing. Makanya kalau pintu itu jangan sampe lupa dikunci,” jawab satunya tidak peduli.
Rico lega mendengarnya, namun di sisi lain, ia juga khawatir dengan tangan yang tergeletak itu. Apakah ada mayat di sana?
***
“Bang nasi gorengnya satu,” ucap Arya riang. Ia tengah duduk di salah satu rumah yang mereka sengaja sewa untuk rapat.
“Aku juga pesen satenya dong dua ratus tusuk!” timpal Rehan kepada Arya. Ia tak mau dirinya menjadi satu-satunya olok-olok yang ada.
“Oh, ok. Kita juga perlu makan. Aku buatkan sate, kau buatkan nasi goreng, nanti kalau kita pegal, kita minta Galang untuk mijitin kita.” Semua orang tertawa kecuali Rico. Rico masih terpikir akan tangan yang ia lihat tergeletak di rumah yang jadi intainnya.
Arya yang melihat gelagat aneh dari salah satu anggotanya pun menyapa Rico.
“Kenapa kau Ric? Tegang? Kita tahu ini misi pertamamu, tapi nggak usah tegang seperti itu lagi.”
Tatapan Rico tiba-tiba menajam. Ia angkat kepalanya dan berkata, “Ada yang lihat Anton?”
Pertanyaan Rico membuat semua orang sontak terbungkam. Mereka baru menyadari ada yang tidak beres. Salah satu anggota mereka lost contact.