015 Asal-Usul Rico

2371 Kata
Rudi sampai. Ia melihat kantor yang kini telah gelap gulita. Rudi hendak membuka pintu, tapi ID card nya tidak berfungsi. Tentu saja, listrik mati total dan belum menyala. Rudi pun menembak shlot pintu lalu memaksa masuk. Lelaki bertubuh tegap itu langsung keluar ketika ia mencium bau yang sangat familiar dengannya. “Tidak salah lagi, di sana pasti ada Rico,” desisnya. Meski tahu di depan sana, banyak terdapat obat bius, Rudi tetap saja masuk. Ia tak memiliki masker, dan akan sangat menyita waktu jika ia mencarinya. Maka jalan satu-satunya hanyalah menahan napas. Rudi mengedarkan pandangan. Ia dapati rekan-rekannya yang sudah tumbang. Buru-buru ia mengecek denyut nadi mereka. Syukurlah mereka hanya pingsan semata. Mata Rudi kian tajam. Ia menyisir setiap ruangan dan menemukan hampir semua orang pingsan. Semakin Rudi masuk, ia semakin melihat pemandangan yang tidak mengenakan. Agen-agen serta para peneliti yang dekat dengan ruang komputer, semuanya sekarat. Mereka yang mengenakan pakaian khusus dengan masker khusus, masih mendesis kesakitan. Rudi memberikan pertolongan pertama. Meski tidak banyak membantu, tapi paling tidak nyawa mereka tak akan melayang. “Bertahanlah sebntar lagi,” lirih Rudi. Ia tak mau membuat keberadaannya diketahui oleh musuh. Orang yang ditolong Rudi mengangkat tangannya. Dia memegang tangan Rudi dengan erat. “Hati-hatilah, dia bukanlah orang yang kita kenal.” Rudi mengangguk. Lewat perkataan singkat orang di depannya, Rudi dapat mengetahui kalau musuh yang menyerang cuma satu orang. Ia pun meninggalkan rekannya itu lalu melangkah dengan hati-hati. Rudi menyembunyikan dirinya di balik pintu yang terhubung ke ruang komputer. Lelaki itu sedikit mengintip. Ia yakin tidak membuat suara sedikit pun, tapi ketika ia melihat ke ruang komputer, tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada suara mesin komputer yang bunyi tanpa layar yang menyala. Rudi menelan ludah. Ia pun perlahan masuk ke sana sembari tetap mempersiapkan revolvernya. Namun belum juga sampai langkah kedua, sebuah tendangan berhasil menghempaskan revolver itu dari tangan Rudi. Rudi langsung melepaskan tendangan ke segala arah, tapi gagal. Tendangannya itu tidak mengenai apa pun. Malah tanpa terduga, seseorang menubruk Rudi dan mengunci tangannya dengan melipatnya ke belakang. “Lepaskan aku dasar pencuri!” Rudi menekankan kata pencuri di akhir kalimatnya. Rico sedikit terhentak. Rudi menyadari itu dari gengaman Rico yang melemah. Ia pun dengan sekuat tenaga menekuk kakinya dan menendang tubuh Rico sekuat yang ia bisa. Berhasil, Rico pun terhempas dan Rudi bisa berdiri kembali. Kedua lelaki itu kini berhadap-hadapan. Rudi terkekeh. Ia membuang ludah yang di dalamnya terdapat darah. Berkat tubrukan Rico tadi, ia tak sengaja mengigit lidahnya sendiri. “Lihat siapa yang kembali!” lantang Rudi dengan nada mengejek. Ia tak melepaskan pandangannya dari Rico. Rudi sadar, gerakan Rico jauh lebih lincah dari dirinya. Rico juga pandai menahan napas dan menahan nafsu membunuhnya, sehingga keberadaannya terasa menghilang. “Seorang pencuri kembali ke kandang.” Rudi melanjutkan perkatannya. Ia memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang. Rudi dapat dengan jelas melihat bahwa tidak ada lagi jiwa Rico yang ia kenal bersarang dalam tubuh pria di hadapannya. Rico terdiam. Ada sebuah kilas balik yang ia rasakan. Hanya saja tak seperti kemarin-kemarin saat dirinya disuntikkan sesuatu oleh orang asing, ia sama sekali tak bisa mengingat apa pun selain Fira dan Ando. Rudi melompat. Ia melancarkan sebuah pukulan. Namun dengan entengnya Rico menghindar lalu berputar dan menendang tubuh Rudi. Rudi pun terhempas dan menabrak sebuah monitor. “Sialan!” desis Rudi sambil berdiri. Terlambat. Ia malah kembali mendapati tiada orang selain dirinya di ruangan ini. Kabut bius yang Rico ledakkan memang sudah menipis, tapi dampaknya masih terasa. Meski demikian, Rudi sangat tahu kalau menghilangnya Rico bukan karena efek bius ini, itu adalah bakat alami yang dimiliki oleh Rico. Ya bakat alami saat dia baru direkrut setelah mencuri sebuah monumen paling berharga di negara ini. Kali ini Rico tak muncul di belakang Rudi. Pantang baginya untuk mengulangi trik yang sama. Pria itu kini muncul tepat di depan Rudi saat ia berpaling dan melancarkan serangan pukulan, sehingga Rudi kembali terjatuh. Rudi memejam. Ia hampir lupa pelajaran utama dari pertarungan. Jika mata tak dapat digunakan, gunakan indra yang lain. Bukan hanya mata yang dapat melihat. Rudi membiarkan beberapa serangan Rico mengenainya sampai kemudian di saat serangan yang ke lima, ia berhasil memegang kaki Rico tepat sebelum kaki itu sampai ke wajahnya. Rudi kemudian melompat dan berputar di udara lalu menendang Rico. Kini giliran Rico yang terhempas. Rudi yang jatuh memutar kakinya ke udara kemudian dengan sigap berdiri. Lelaki dengan tubuh tegap dan wajah yang tegas itu tak akan lagi menyerang duluan. Percuma. Ia hanya akan menghabiskan kekuatannya tanpa bisa mengalahkan Rico. Rudi kembali memejamkan mata. Rico pun berdiri. Ia salto tepat ketika ia hendak mendekati Rudi. Lelaki yang diserangnya itu tak bereaksi. Baru ketika Rico mencoba untuk melancarkan sebuah serangan, Rudi tiba-tiba menyerang duluan. Rudi kali ini tak menunggu Rico bangkit dan mengusai diri. Kini dia melancarkan serangan bertubi-tubi sampai Rico hanya bisa bertahan. Rico mencoba menjaga jarak. Terlambat. Rudi sudah dalam mode penuhnya. Lelaki itu kini berputar dan menghempaskan Rico dengan lengannya. Ia lalu melompat dan mengakhiri pertempuran ini dengan menendang d**a Rico. “Jangan harap kau bisa mengalahkanku, pencuri!” ucap Rudi. Rico yang kesulitan bernapas itu akhirnya memejamkan matanya. *** Sebuah sinar yang silau. Teramat silau untuk dilihat. Suara-suara yang ramah terdengar menyapa. Rico mencoba untuk berlari ke arah suara. Ia mencoba memanggil-manggil. Namun setelah cukup dekat, bukannya ia mendapati apa-apa, ia hanya mendapati sebuah ruang hampa berwarna putih. Tiada ada orang. Hanya sebuah gulungan kertas di tengah. Rico mengambilnya dan terdengarlah suara-suara itu lagi. “Woy pencuri!” Rico menatap sekeliling, masih kosong. “Pencuri!” masih tak ada orang. Baru setelah Rico berbalik, sebuah wajah menatapnya secara penuh. Wajah itu begitu tegas. Matanya tajam menusuk. Kedua alisnya bertaut, seakan-akan membentuk raut wajah marah. Lalu orang itu mendekati Rico dan ia berteriak, “Pencuri!” Sebuah retakan terdengar. Retakan itu kian kencang lalu tiba-tiba pecah semua. Rico pun terbangun oleh siraman air. “Bangun dasar kau, pencuri!” lantang Rudi. Rico tersedak. Beberapa air masuk ke hidung dan mulutnya. Listrik sudah hidup kembali. Lampu-lampu menyala. Bau asap pembius itu pun sudah sirna. Rico mencoba untuk menggerakkan tubuhnya. Percuma, ternyata ia diikat di kursi. “Akhirnya kau bangun juga.” Rudi mengambil sebuah kursi lalu mendudukinya. Ia menghadap Rico. Mereka kini masih di ruang komputer. Terpaksa. Ruang lainnya tengah digunakan untuk perawatan. Mungkin dampak ini bisa dicegah kalau yang datang orang asing. Pasalnya yang menyerang adalah mantan rekan mereka sendiri, sehingga para agen lengah dan timbullah beberapa korban. “Siapa kau?” Rico menyalak. Ia terus berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat tubuh dan tangannya. Rudi tertawa sinis. “Apa yang dilakukan para penjahat itu kepada otak pencurimu ini?” katanya sembari memukul halus kepala Rico, seakan-akan ia hendak mengecek di tempurung sana ada otaknya atau tidak. “Aku bukan pencuri!” Rico kembali berteriak. Entah mengapa, ia sangat benci dengan kata itu. Rico memang tak ingat apa pun, hanya saja telinga dan hatinya sangat risih mendengar tuduhan pencuri. Terlebih ia merasa apabila Rudi yang mengatakannya, rasa tidak enaknya itu malah berlipat ganda. “Oh tentu saja kamu pencuri, lihat ini!” Rudi mengambil sebuah laptop lalu menunjukan sebuah rekaman. Rico menyipitkan mata. Ia lihat di dalam video itu ada seorang laki-laki yang mengendap-endap. Ia membuat sidik jari palsu dengan mengambil sampel sidik jari yang ada di gagang pintu menggunakan selotip. Lelaki itu pun mencetak sidik jari itu dengan lem lalu membakarnya agar lem mengeras. Setelah cukup ia merobeknya dan jadilah sebuah sidik jari. Lelaki yang ada di dalam video langsung masuk dan merampas sebuah gulungan yang belum diketahui isinya apa. Nahas sebelum ia keluar, lampu tiba-tiba menyala dan ia ditodong oleh beberapa orang berseragam hitam. Lelaki itu pun langsung paham dan melambai ke kamera. Rencananya untuk mematikan CCTV ternyata belum sempurna. Begitu lelaki itu menatap ke kamera, Rico benar-benar kaget. Lelaki yang mencoba mencuri benda itu adalah dirinya. Rico benar-benar tak mengingatnya. Hanya saja fakta di depan matanya sungguh membuatnya terdiam. “Sekali pencuri tetap pencuri,” tanggap Rudi. “Siapa kau?” Rico mengulangi pertanyaannya. “Aku adalah orang yang sangat membencimu sejak kedatangan pertamamu ke sini.” Rudi mulai bercerita. Ia tak akan mungkin bagaimana bencinya ia dengan keputusan sepihak dari atasan yang merekrut penjahat seperti Rico ke dalam agensi ini. *** Ayam berkokok menimbulkan suara yang mengguncang telinga setiap makhluk. Terlihat mega kuning dari ufuk timur disambut oleh kicauan burung. Sudah saatnya bagi anak-anak sekolah untuk berangkat dan para polisi lalu-lintas untuk terjun mengurusi jalan. Sedangkan bagi para agen sudah saatnya untuk bergantian shift sembari menunggu sebuah misi. Rudi dan beberapa agen lain tengah menjalankan latihan rutin. Rudi dengan wajahnya yang sangat serius menembak targetnya tampa ampun. Kedua titik vital target, tak ada yang meleset. Semuanya tepat sasaran. Dalam latihan itu, tiba-tiba seorang atasan membawa masuk seseorang yang baru beberapa hari kemarin ditangkap karena mencoba mencuri sebuah dokumen negara yang bersifat sangat rahasia. Rudi dan teman-temannya yang lain langsung sigap berbaris dan menghadap si atasan. “Dia akan menjadi agen di sini!” sang atasan berkata singkat yang tentu disambut tanda tanya dari anggota agen yang lain. “Rudi, kamu yang akan melatihnya!” Rudi hanya diam. Ia tak mengangguk maupun menggeleng. Ia hanya menatap atasannya dengan tatapan tajam. Bagaimana mungkin pekerjaan terhormat seperti agen penyelamat dunia, akan disusupi oleh penjahat serta pencuri rendahan seperti Rico. Setelah memastikan semua paham, sang atasan itu meninggalkan lapangan tembak. Rico pun mendekati Rudi, minta untuk diajarkan cara menembak. Rudi hanya diam dan menyerahkan sebuah tembakan. Satu tembakan, tentu saja gagal. Dua tembakan, gagal lagi. Tiga dan seterusnya sampai stok peluru habis. Anggota agen yang lain tertawa, sementara Rudi hanya diam. Dia tak memberikan instruksi apa-apa. Seorang agen bagian analisis, datang dengan tergesa-gesa. Dia meminta Rudi untuk menemui Erik komandan tertinggi dari agensi ini. “Menyerahlah jadi agen!” kata Rudi sebelum pergi meninggalkan lapangan. Rico hanya menatap Rudi tanpa ekspresi apa pun. Ia tahu keberadaannya sangat ditentang di sini. Hanya satu yang membuatnya tetap bertahan. Sebuah kehormatan. Rudi segera berlalu. Ia mengikuti langkah agen di depannya. Sementara Rico kembali berlatih. Meski demikian, ia tetap saja terpojok. Hampir disetiap latihan dia gagal dan selalu ditertawakan, hanya pada ilmu bela diri dan pengetahuannya, ia dapat mendapat tepuk tangan. Kegelisahan dalam hatinya, membuat Rico terus berlatih. Ia mengasah setiap hal yang ia ketahui. Ia pun turut meminta saran walau pada beberapa kasus, ia ditolak mentah-mentah. Rico yang awalnya makan siang sendirian, mulai ditemani. Diantara yang mendektinya tentu agen-agen yang akan bekerja sama dengannya. Sebuah misi telah diturunkan. Meskipun semua orang mulai welcome kepada Rico, Rudi tetap pada pendiriannya. Di matanya hanya ada ketidak sukaannya dan kebenciannya menatap Rico. Awan cumulonimbus tak mau berpindah dari hatinya. Sepertinya hari ini bergulir sangat cepat. Rico duduk sembari menatap matahari yang sudah termakan oleh ufuk barat. Sisa-sisa cahaya mentari itu menyelimuti cakrawala. Rico sama sekali tak menyangka kalau dirinya akan berakhir di sini, menjadi agen. Jujur, ia memang telah terbiasa menjadi pencuri, bahkan uang haram itu rasanya sudah sempurna menjadi daging di seluruh tubuhnya. Hanya saja jiwanya begitu haus akan kata kehormatan, dan itu tak akan dia dapatkan jika terus-menerus menjadi pencuri. Burung-burung mulai kembali ke peraduan. Alam mulai menyibakkan selendang hitam. Rico menarik napas dalam-dalam. Ia akan kembali ke markas. Tapi belum sempat ia melangkah, seseorang tengah menghadangnya. Orang itu menatap Rico tajam. “Jadi kau sudah merasa hebat?” tanya Rudi dengan nada yang begitu tidak mengenakan. Rico bergeming, “Aku tak pernah mengakuinya. Hebat atau tidaknya orang itu tergantung lawannya,” bantah Rico. “Oh jadi kau menganggap aku lemah!” “Asal kau tahu saja, Kapten! Aku tak pernah menganggap remeh seseorang. Kau pasti tahu hal itu adalah hal paling mendasar dalam larangan agen.” “Oh jadi kamu berani mengajariku! Maju sini dasar kau pencuri!” Rico naik pitam. Ia sudah tak mau ada yang memanggilnya seperti itu. Rico pun langsung menyerang, tapi setiap serangannya ditangkis. Tangannya ditarik ketika melancarkan sebuah pukulan dan Rudi langsung menghantam perut Rico dengan lututnya. Rico tersungkur. “Berdiri pencuri!” Rico mendengus. Ia berputar bagai orang yang sedang melakukan breakdance sehingga salah satu kakinya mengenai kepala Rudi. “Bagaimana?” tanya Rico dengan nada mengejek. Rudi membuang ludah. Ia menyerang duluan. Dia berputar dan menganyunkan sebuah tendangan. Di saat bersamaan, Rico juga melakukan hal yang sama. Kaki-kaki mereka saling beradu. Belum sempat Rico memperbaiki posisi, Rudi melompat dengan kaki satunya. Ia memiting dan dengan telak menendang kepala Rico. Rudi jatuh, Rico terpelanting. Keduanya sudah mulai panas. Baru saja mereka hendak melanjutkan, sebuah suara tembakan terdengar. “Cukup!” lantang Erik. Lelaki paruh baya itu pun mendekat. “Kalian sungguh memalukan,” katanya sembari memandang Rudi dan Rico secara bergantian. “Terutama kau, Rud! Kamu adalah kapten di agensi sini. Seharusnya kamu bisa membimbing juniormu, bukan malah mengajaknya berkelahi.” “Tapi, Komandan ….” “Cukup!” urat-urat di leher Erik mencuat. “Jangan libatkan urusan pribadi dengan urusan agen. Apa slogan kita? Hah?” “Setiap agen adalah keluarga,” ucap Rudi. “Bagus. Aku tak mau kejadian ini terulang kembali. Cepat kembali dan beristirahat!” Rudi memandang sinis Rico lalu melangkah gontai menuju markas. Seiring berjalannya waktu, Rico kian menjadi-jadi. Dia pergi ke tempat latihan saat semuanya beristirahat. Bermodalkan pengetahuan dan peralatan seadanya, dia mulai latihannya. Rico sama sekali tak bisa menghilangkan amarahnya kepada Rudi. Ia muak dianggap rendah. Sungguh yang namanya kerja keras itu, hasilnya memang memuaskan. Napas yang terengah-engah membuat Rico ingin duduk, matanya yang melirik kesana-kemari membuatnya melihat seseorang yang tengah berjalan mendekatinya. Lama-kelamaan orang itu semakin menampakan rupanya. Dia membawakan sebotol minuman, lalu memberikannya kepada Rico. “Terima kasih,” ucapnya. “Kembali,” kata Arya. Rico membuka tutup botol lalu meminumnya. “Aku dengar-dengar kamu berkelahi dengan Kapten.” Rico mengangguk, “Sebenarnya apa coba masalah orang itu. Sejak aku datang ke sini, tak sekali pun dia menyapa.” Arya duduk. Ia meluruskan kaki. “Wajar saja. Ayahnya adalah seorang pencuri yang dihukum mati. Profesimu kan seorang pencuri pada awalnya. Aku rasa Kapten Rudi tak senang dengan fakta itu. Rico tercengang mendengarnya. Jika memang itu sumber masalahnya, ia mau tak mau harus meluruskan pemahaman mereka. Rico harus mengajak Rudi bicara empat mata. “Sudahlah, ayo istirahat. Besok akan ada misi baru. Aku tak mau sampai ada anggota yang sakit,” ujar Arya ramah. Rico pun mengangguk. Ia pun berdiri lalu pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN