Rico keluar dari kamar selnya. Matanya sekarang menyala tajam. Ada begitu banyak makna di dalam sana. Fira sudah berhasil meyakinkannya kalau Rico adalah anggota grup penjahat yang dipimpin oleh Ando.
Lelaki itu pun melangkah dengan pasti. Ia tak tergoda untuk menengok ke kanan maupun kiri. Tujuannya hanya satu, yakni menemui Ando
Orang-orang yang sadar siapa yang melangkah di daerah mereka, merasa risih. Terlebih beberapa di antara mereka mengalami luka serius akibat hajaran Rico. Beberapa hendak menyerang, tetapi seseorang yang bertampang sangat sangar, mencegah.
Ando yang tadi duduk, kini menyambut Rico dengan senang. Wajahnya sumringah, senyumnya khas senyum penjahat, sungguh menakutkan. Matanya tajam, alisnya menusuk. Tidak ada bekas jahitan atau bekas luka apa pun di wajah Ando, namun dengan melihatnya saja, Rico sudah tahu seberapa jauh pengalaman orang di depannya ini.
Rico menekuk lututnya. Ia menunduk. “Berikan tugas terakhirmu, Kapten Ando! Tapi tolong bebaskan kami setelah ini.”
Semua orang yang ada di ruangan itu tercengang. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Ando tersenyum sinis. Ia takjub akan pekerjaan Fira. Dalam waktu singkat, perempuan itu berhasil mencuci otak Rico. Lihatlah laki-laki ini! Semula ia seorang perwira yang sungguh merepotkan, tapi kini, ia bagai tikus yang memelas ingin dibebaskan dari kandang.
Fira yang memalingkan muka. Ia tak kuasa melihat harga diri suaminya terjatuh seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu-satunya tiket keluar dari markas busuk ini. Fira sudah muak berurusan dengan lelaki yang kini berdiri di depan Rico.
Fira tahu Ando adalah penjahat terkejam yang pernah ia temui. Dia penuh dengan tipu muslihat dan penuh dengan trik. Hanya satu kebaikan yang Fira tahu dari diri Ando, pria itu tak pernah berbohong dan mengingkari janji. Ando selalu menjunjung kedua nilai itu.
“Rampas data agen dan bunuh yang menghalangimu!” seru Ando dengan nada yang menggebu-gebu. Ia kemudian menjelaskan lebih detail tugas itu kemudian menepuk pundak Rico, “Kamu sanggup melakukannya?” tanyanya.
“Siap kapten!” Rico melakukan gerakan hormat.
Meski Fira memang sudah mencuci otak Rico dan meyakinkan pria itu bahwa dirinya adalah anggota komplotan penjahat, Fira tetap tak bisa mencuci bersih memori dasar Rico. Layaknya baju yang pernah dipakai dan dicuci berulang kali, baru itu tetap tak bisa menjadi baju baru, begitulah kira-kira otak Rico sekarang. Memori tentang pelatihannya, sikapnya ketika menerima perintah, dan cara bicaranya kepada atasan, tetap melekat di diri pria itu.
Rico pun balik kanan. Ia menuju pintu keluar. Fira buru-buru mengejarnya. Wanita itu memeluk Rico.
“Aku akan kembali dengan selamat, aku janji!” ucap Rico. Ia pun melepas pelukan Fira lalu dengan cepat menghilang.
***
Rudi mendobrak pintu. Kosong. Tak berhenti sampai di situ, pria itu pun menggeledah seluruh rumah. Setiap lubang ia periksa, setiap celah, ia masuki, tapi ia tak mendapatkan apa pun. Untuk kesekian kalinya, ia mendapati informasi yang salah. Mungkin tidak sepenuhnya salah, hanya saja ia terlambat. Rudi lupa kalau yang ia kejar bukan orang sembarangan. Rico juga sama terlatihnya dengan dirinya.
Rudi pun duduk di sofa yang diletakkan di tengah ruangan. Ia melempar begitu saja revolver yang ia pegang. Rudi pun meregangkan tangannya ke sisi-sisi sofa lalu mendongak. Pria itu perlahan memejam.
Sebenarnya, andai bukan misi yang berhubungan dengan Rico, dia pasti sudah menolak mentah-mentah perintah atasannya. Sejak pertama kali ia bergabung ke dalam agensi itu, ia sudah menjadi agen yang bebas dengan kontrak yang khusus. Pernah beberapa kali ia diburu oleh anggota agen yang lain, tapi semua serangan itu gagal. Mulai sejak saat itu, Rudi begitu disegani. Dia satu-satunya agen yang menyendiri dan menjalankan misi dengan keberhasilan hampir menyentuh angka seratus persen.
“Di mana sebenarnya kamu, Ric!” Rudi mendesah. Ia terlampau lelah untuk berpikir. Misinya kemarin bukan hanya meninggalkan bekas luka di dadanya – yang sampai sekarang masih terasa sakit – tapi juga meninggalkan bekas psikologis yang teramat berarti.
Rudi tak menyangka kalau targetnya kali ini adalah seorang wanita. Seumur hidup, ia belum pernah melukai perempuan. Semua yang pernah menjadi targetnya adalah laki-laki. Jika ada pembantu musuh yang berjenis kelamin perempuan, Rudi sudah pasti menangkapnya hidup-hidup, biar nanti agensi yang menentukan sanksi bagi mereka.
Namun kali itu berbeda. Rudi yang tidak tahu kalau targetnya perempuan pun, dibuat bingung. Pasalnya setelah menguak informasi bahwa hacker data pemerintah adalah perempuan, Rudi tak dapat berkutik.
Maka dari itu, ia menyamarkan keberhasilan misinya untuk pertama kali. Rudi tak mau melanggar prinsipnya. Seorang perwira tak akan melukai wanita dan anak-anak.
Angin sepoi-sepoi bertiup. Angin itu menghelai wajah Rudi, memikatnya untuk tertidur. Rudi mulai menguap. Sekuat apa pun dirinya, ia masihlah seorang manusia. Tak lama kemudian, Rudi pun tertidur.
Hanya saja tidurnya seorang agen tak pernah tenang. Sedikit suara saja, Rudi sudah terbangun kembali. Tangannya bahkan dengan sigap mengambil revolver yang ia letakkan di atas meja. Rudi pun berdiri. Ia mengambil air lalu meminumnya. Ditatapnya halaman luar lewat jendela. Di sana terdapat hamparan rumput yang luas lengkap dengan sebuah pohon besar yang terletak di tengah.
Rudi jadi teringat semasa dulu, ia sangat benci kepada Rico. Ia tak menyangka seorang pencuri seperti dia akan menjadi agen.
Pencuri? Kata itu seakan membangunkan pikiran Rudi yang tengah kalut.
“Pantas saja mereka membiarkan Rico hidup.” Akhirnya sebuah jawaban terentang jelas dalam benak pria itu. Tanpa menunggu aba-aba apa lagi, ia tahu ke mana Rudi harus mencari.
***
Rico sampai. Ia bersiap dengan senjatanya. Dalam benaknya, Rico tahu ini adalah tindakan bodoh. Bagaimana tidak? Satu kantor agensi yang bekerja dua puluh empat jam sehari, akan ia serang, sendirian. Mungkin memang sebuah jebakan. Jebakan yang dibuat Ando untuk dirinya. Tapi Rico tak akan menyerah.
Rico pun masuk melalui lubang ventilasi udara kantor. Ia merangkak mengikuti alur jalan itu. Perlahan namun pasti, Rico dapat menggapai titik tengah. Sesuai dengan peta yang ia pelajari, ia hanya perlu untuk masuk ke ruang komputer. Ruang yang akan membimbingnya untuk mendapatkan databese tentang semua agen di sini.
Pria itu mengamati sekitar. Ia pun mengeluarkan kepalanya terlebih dahulu dari ventilasi kantor. Terlalu banyak CCTV. Bahkan ia pun dapat melihat setiap ruangan itu harus dibuka dengan akses kartu setiap agen. Hal itu berarti ruang komputer pun hanya bisa diakses oleh agen yang bekerja di sana, padahal ventilasi ini sudah habis. Ke depannya hanya berupa lubang kecil yang tak mungkin dimasuki oleh Rico.
Tampaknya tak ada cara lain, selain memaksa masuk.
Di sisi lain, Rudi menggigit bibir. Ia melajukan mobil secepat yang ia bisa. Dalam otaknya sudah tergambar apa yang akan terjadi. Terlambat sedikit saja, maka semuanya akan fatal. Rudi mencoba menghubungi kantor. Gagal. Sialnya handphonnya rusak dikarenakan misi tempo hari. Rudi bahkan lupa untuk menggantinya karena keburu memburu Rico.
Rudi mendesis. Ia membunyikan klakson sepanjang perjalanan. Masih perlu tiga puluh kilometer lagi untuk sampai ke sana. Sempatkah ia? Rudi berharap-harap cemas. Semoga rekan-rekannya yang lain sanggup bertahan.
Kembali ke Rico. Kini ia merakit sebuah bom elektronik sederhana yang alatnya memang sudah ia persiapkan. Bom ini akan membuat semua listrik padam dan CCTV juga rusak. Setelah yakin, Rico pun mengeluarkannya. Selang beberapa detik, bom itu meledak dan mengeluarkan sederet listrik biru yang membuat listrik-listrik di sampingnya konslet.
Belum selesai di situ, kali ini, Rico merancang bom asap yang didalamnya juga ada bius. Ia pun memakai masker lalu turun. Pria itu siap untuk berperang. Dengan pergelangan tangan yang kuat serta akurasi yang mengerikan, Rico melempar bom asap itu. Tidak ada yang luput. Setiap ruangan, ia lontarkan sebuah bom. Alhasil semua agen yang menghirupnya serta-merta pingsan begitu saja. Ia tak peduli dengan fakta atau halusinasi yang berkecamuk dalam pikirannya. Yang ia peduli hanya Fira seorang. Level cintanya dan keinganannya untuk hidup damai dengan Fira sudah tak tertolong.