013 Cinta

2402 Kata
Aku menghirup udara pagi. Sepertinya pagi ini lebih dingin daripada tadi malam. Semuanya sudah berubah warna menjadi putih. Tanaman, jalan, bangunan, semuanya tertutup selimut putih itu. Benar-benar seperti negeri dongeng. Keindahannya tak dapat dicerna secara halus oleh kata-kata. Aku jadi merasa kasian dengan orang-orang di negara tropis yang belum merasakan salju seperti ini. “Pagi, wanita asing!” sebuah sapaan mengusikku dari menikmati keindahan alam. Aku membuka mata. Sebal rasanya sepagi ini sudah diganggu oleh kedatangan yang sebenarnya tak kuharapkan. “Bisa nggak jangan panggil aku dengan itu.” “Kita kan belum berkenalan. Dan kamu yang menolak mengatakan namamu.” “Ok fine!” aku menjulurkan tangan, “Fira,” ujarku setengah terpaksa. Antonio tersenyum. Ia pun menjabat tanganku. “Jadi aku bukan orang asing lagi?” “Whatever,” kataku sekenanya. Sebenarnya Antonio tergolong baik, terlalu baik malah. Dia semalam benar-benar menemaniku sampai menemukan apartemen yang nyaman berharga murah pula. Dan keamanannya jangan ditanya. Sudah jelas terjamin pula. Untuk ukuran lelaki, Antonio dapat dikategorikan ke dalam lelaki tampan. Dengan perawakan setinggi seratus sembilan puluh centi, badan tegap, d**a bidang, dan lengan kekar, sudah tentu menjadi incaran para perempuan. Apalagi mata hanzelnya yang begitu menggoda. Hanya saja hatiku sepertinya sudah ditundukkan oleh Rico, sehingga Antonio dengan ketampanannya tidak berdampak apa pun. “Sudah makan?” tanyanya lagi. “Jangan sok perhatian, deh. Nanti istrimu cemburu baru tahu rasa kau!” aku tak berhenti memasang raut galak, masih enggan didekati oleh orang ‘asing’. Antonio tertawa. Dapat kulihat rentetan gigi putihnya yang amat rapi. “Kamu anggap aku sudah menikah? Come on, menurutmu berapa umurku?” “Pria mapan dengan wajah tampan dan berseragam seperti dirimu tak mungkin belum memiliki pasangan.” “Terima kasih.” “Buat?” “Bilang aku tampan.” “Dih.” Pipiku memerah, malu. Lagi-lagi Antonio berhasil membuat logikaku terpental. “Ayo sarapan!” “Bukannya biasanya polisi sepertimu sarapan bersama rekan-rekan yang lain?” aku menggaruk-garuk salju dengan ujung kaki. “Iya sih, untungnya aku hari ini ditugaskan untuk menjagamu sampai kasus itu selesai,” katanya sembari menatap langit yang masih saja mendung. “Aku tak pernah dengar ada tugas seperti itu di kepolisian.” Aku melempar pandang curiga. Setahuku seorang saksi memang tak pernah dilindungi. Mereka hanya disamarkan namanya dan nantinya dihadirkan ke persidangan. Kecuali saksi itu juga korban yang masih dimungkinkan akan dibunuh. Sedang aku? Aku malah seperti korban perampokan tanpa motif apa pun, jadi kecil kemungkinan akan didampingi seperti ini. Antonio diam. Ia lagi-lagi membuang muka. Seperti yang kubilang, ia hanya mengada-ngada. “Kamu ini memang wanita unik, ya,” tukasnya. “Ha? Maksudmu?” aku mengerutkan dahi. “Ya unik. Belum pernah ada seorang wanita yang bisa menganalisis sedimikian rupa kata orang. Mungkin kita cocok.” “Cocok?” aku lagi-lagi mengerutkan dahi. Aku tak mau menyimpulkan perkataan pria ini sembarangan. Bisa-bisa aku malah yang dianggap GR duluan. “Iya cocok. Aku polisi kan membutuhkan seseorang yang ahli dalam mengintrogasi orang.” “Sudah berapa banyak wanita yang kau gombali seperti itu?” “Baru kamu doang. Udah ah, ayo sarapan. Aku yang traktir.” Tanpa meminta jawaban, Antonio telah melangkah terlebih dahulu. Ia bahkan melambaikan tangannya, agar aku cepat mengikutinya. Andai aku bukan berasal dari salah satu negara dengan kepulauan terbesar, aku akan menolak mentah-mentah ajakan Antonio. Pasalnya aku sudah biasa sarapan jam tujuh dan berkat salju serta malam yang penuh drama, aku kesiangan dan bangun dengan perut keroncongan. Tak punya pilihan lain, daripada aku kedinginan karena belum ada karbohidrat yang masuk, aku mengikuti Antonio. Kami menuju sebuah restoran cina. Restoran itu tak besar, hanya saja interiornya dapat dikatakan indah. Semuanya terbuat dari kayu dan lampunya yang dinyalakan berwarna merah. Ada juga lilin-lilin serta lampu minyak yang dipasang. Penghangat ruangan sudah barang tentu menyala, tapi dengan adanya lilin, aku bisa menghangatkan telapak tanganku lebih cepat. “Baru pertama mengalami musim salju?” Aku mengangguk. Aku mulai menyudahi sifatku yang agak kasar pada Antonio. “Oh ya ngomong-ngomong gimana penjahat yang berusaha merampok apartemenku?” Antonio diam. Pastinya bukan wewenangnya untuk menjelaskan secara detail. Berkas kepolisian selalu bersifat rahasia. Hanya yang dianggap wajar saja yang akan diutarakan kepada pers. “Mereka baik-baik saja. Oh ya, kamu kenal dengan orang yang menyerang mereka?” “Wait-wait, bukankah pertanyaan seperti ini harusnya ditanyakan di ruang interegoasi?” Antonio tersenyum. Bibirnya yang tipis sangat tepat dengan wajah dadu tegasnya. “Kamu benar-benar wanita yang cerdas. Aku suka itu!” “Apa? Kamu suka denganku?” aku memasang muka sok serius. Antonio salah tingkah. Ia langsung memalingkan muka. Aku rasanya wajahnya bersemu kemerahan. Dia bahkan kini menceracau dengan tidak jelas. “Bukan … anu … bukan itu maksudku. Aku suka dengan wanita yang cerdas itu maksudnya ….” “Kalau yang kamu maksudkan aku juga nggak papa, kok.” Aku pun memasang wajah kemerahan, membayangkan kalau yang mengucapkan kata-kata itu adalah Rico. Sumpah dalam hatiku terdalam, aku benar-benar ingin tahu keadaan Rico seperti apa. Lawan yang dia hadapi bukan sembarang orang. Nyatanya dia bisa selamat dalam kecelakaan mobil yang Rico buat. Bahkan dia pun masih bisa bertahan setelah mendapat luka seperti itu. Aku yakin paling tidak Rico juga mengalami setengah dari luka yang diderita musuhnya. Antonio terdiam. Ia menunjukkan senyum yang aneh. Wajahnya benar-benar tak bisa digambarkan kali ini. “Kamu itu lucu ya, kalau sedang malu,” candaku sembari menepuk punggungnya. Antonio yang sedang memegang cokelat pun gugup dan menjatuhkan cangkirnya begitu saja. Celananya pun kotor oleh tumpahan cokelat. Lelaki itu semakin malu lalu meminjam toilet di restoran. Aku tertawa melihat itu. Di saat itulah, seseorang melangkah di depanku. Ia membuka penutup kepalanya di depanku sembari tetap melangkah. “Rico?” panggilku sangat pelan. Dapat kulihat goresan luka-luka di wajahnya. Bahkan jalannya pun sedikit pincang. Kuyakin dia mengawasiku selalu. Ingin sekali kurawat dia, tapi ini sudah menjadi keputusan. Aku akan menjauh sejauh mungkin darinya. Aku hanya sumber musibah bagi Rico. Rico terus melangkah. Wajahnya terlihat muram kali ini. Bukan, bukan sebab pertempuran semalam. Ia pasti tengah merasa iri dengan kedekatanku dengan Antonio. Mau bagaimana lagi, memang itulah tujuanku di negara ini. Menjadi warga negara asli di negara orang lain, sehingga Ando tidak akan bisa macam-macam lagi. Jalan itu bisa aku tempuh dengan mnedekati Antonio lebih jauh lagi. *** Hari demi hari berganti. Aku dan Antonio semakin dekat. Bahkan kami sudah sering jalan bersama atau pergi belanja bersama. Beberapa kali aku diajak untuk ke rumahnya, tapi dengan pasti aku menolak. Aku tak akan membiarkan orang lain terlibat dalam hal ini. Antonio memang orang yang tangguh, tapi apakah keluarganya juga? Aku rasa tidak. Kasus yang aku jalani sudah resmi menjadi perampokan. Dengan matinya si penyerang dengan mendadak – yang aku yakin ia lebih memilih mengambil nyawanya sendiri ketimbang membongkar kedok Ando – maka semuanya selesai sudah. Aku telah bebas. Dan hanya masalah waktu sampai aku bisa menjadi warga negara di daerah sini. Tapi masih ada yang mengganjal dalam benakku, bagaimana Ando bisa melacakku sampai ke luar negeri pula. Dunia ini memiliki seratus sembilan puluh negara, lalu bagaimana Ando bisa langsung menemukanku di negara ini dalam waktu yang relatif singkat pula. Mobil yang kukendarai bersama Antonio, berbelok manis. Antonio sangat cakap mengendalikan mobilnya. Tampaknya juga pengendara mobil di kota ini semuanya santai-santai, tak ada yang ngebut atau bahkan memasang knalpot blombongan. Kota ini begitu damai dan minim suara. Sampai-sampai sebuah mobil yang ugal-ugalan pun dapat dengan mudah diketahui. “Dia pasti tengah dikejar polisi,” ucap Antonio santai lalu sembari menepikan mobilnya. Ia tak ingin mobilnya menjadi santapan oleh mobil yang ugal-ugalan. Namun sayangnya Antonio salah. Bukan mobil itu yang dikejar polisi, tetapi mobil itu mengejar polisi itu sendiri, yakni Antonio. Dalam sekejap mata, mobil itu menabrak pojok samping kanan mobil yang hendak menepi, alhasil mobil Antonio terpelanting. Untungnya Antonio dapat mengimbangi kecepatan berputarnya mobil dengan kecepatan stirnya. “Kamu nggak papa?” tanyanya setelah mobil sempurna berhenti. Aku menggeleng. Ujung mataku menangkap ada satu mobil berkecepatan penuh dari depan yang siap menabrak. “Awas!” Antonio menggeram. Ia dengan cepat memundurkan mobil sehingga mobil yang hendak menabraknya, hanya menabrak angin semata. Lelaki itu lalu menarik tuas persneling dan menginjak gas. Mobil kami melesat secepat mungkin. Dua mobil yang hendak mencelakai kami itu pun tak tinggal diam. Dalam kejapan mata, mereka berhasil menjajari mobil kami kembali. Aku menggigit bibir, sementara pandangan Antonio kian tajam. Ia berulang kali melihat mobil kanan dan kirinya yang secara bersamaan menabrakkan diri ke mobil Antonio. Mulut Antonio seperti bergumam. Lalu tiba-tiba ia menarik rem dan membuat dua mobil itu malah saling menabrakkan diri dan terbalik. Antonio kali ini benar-benar menghentikkan mobil lalu bersiap. Ia membawa sebuah revolver sembari mendekati kedua mobil yang mengejarnya tadi. Dapat kulihat orang-orang di mobil itu perlahan keluar. Mereka juga mengacungkan senapan ke Antonio. Dalam keadaan yang saling mengancam seperti itu, tiba-tiba sebuah tangan menarikku keluar dari mobil dan mengajakku lari begitu saja. “Rico?” tanyaku sembari memperjelas arah pandanganku. Setelah yakin benar bahwa orang yang mengajakku lari adalah Rico, aku langsung berhenti. “Lepaskan!” teriakku. Rico turut berhenti. Tiba-tiba suara adu tembakan terdengar. Teriakan orang-orang pun memekik, memenuhi jalanan. Apakah Antonio baik-baik saja di sana? “Aku akan membantu Antonio,” ujarku lalu membalikkan tubuh. Rico menghadang. “Percuma. Mereka terlalu kuat.” Aku menatap wajah Rico. Wajah itu bersimbah darah, bahkan matanya yang begitu bening, kini berubah menjadi merah. Ujung bibirnya pecah. Ia seperti habis berkelahi. Aku tanpa kusadari menyentuh wajahnya perlahan. Kuusap pelipisnya yang lebam dan pipinya yang sedikit bengkak. “Kenapa?” “Banyak yang mengejarmu. Aku telah menyelidikinya beberapa waktu lalu.” Air mataku menetes. “Bodoh! Kenapa kamu melakukannya? Untuk apa? Aku tidak mencintaimu, Ric!” aku histeris. Rico tersenyum. Gigi-giginya yang masih terbalut darah pun terlihat. Keadannya cukup parah. “Aku tahu itu. Tapi fakta itu tak mencegahku untuk tidak menjagamu. Bukankah aku pernah mengatakannnya?” Aku menangis sudah. Usahaku untuk membuat Rico cemburu dan memilih untuk menjauh, gagal total. Ia benar-benar seorang laki-laki yang mencintai tulus dari hati dan menepati apa yang ia katakan. Rico tetap menjagaku, walaupun ia tahu aku bersama orang lain. Aku menatapnya lagi lalu memeluk dan merebut bibirnya dengan bibirku. Kini tak ada lagi yang harus kututup-tutupi. Aku mencintainya. Kupikir dengan membuatnya cemburu, dia akan pergi, ternyata salah. Ia tetap saja melindungiku dari bayang-bayang. Rico membalas ciumanku. Kami pun berpelukan sebelum akhirnya, Rico mengajakku untuk melarikan diri kembali. Begitu posisi terasa aman, aku mengobati luka-luka yang Rico terima. Untungnya tidak ada luka yang begitu dalam, sehingga dia tak perlu dilarikan ke rumah sakit. Aku sendiri bisa merawatnya. “Bagaimana kamu menemukan mereka?” aku mengajukan pertanyaan. Rico mulai bercerita. Sesaat setelah dia berhasil memojokkan seseorang yang mengejarku, ia mengintrogasinya. Dengan penyiksaan yang begitu pedih, ia pun memberikan informasi. Aku mengangguk. Pasti dia mengatakannya. Toh, Rico juga salah satu target dari operasi mereka. Setelah mengetahui informasi itu, Rico kemudian melanjutkan pencarian. Butuh beberapa hari memang. Tapi akhirnya pencarian itu berhasil. Rico mengetahui basis cabang pergerakkan bawahan Ando di negara ini. Rico pun mengendap-ngendap masuk, nahas ia malah tertangkap basah. “Wah-wah-wah, kita kedatangan tamu. Seorang agen bernama Rico Adi Saputra. Apa yang kamu mau? Menyelamatkan rekanmu yang masih menjadi bulan-bulanan kami? Atau mau melampiaskan amarah karena Fira berselingkuh dengan seorang polisi?” tanya seorang di antara mereka. Rico tersenyum, “Aku tak akan termakan omongan busukmu itu.” bentak Rico “Oh jadi kamu menganggap ucapanku hanya bualan saja.” Orang itu tiba-tiba melontarkan sebuah revolver yang begitu akrab bagi Rico. Saat itu Rico benar-benar percaya kalau salah seorang rekannya masih hidup dan disekap oleh Ando. “Ah, tapi itu tak penting. Mumpung kamu berani datang ke sini, aku akan menangkapmu. Kamulah satu-satunya alasan Fira susah ditangkap.” Rico yang belum sembuh benar dari perkelahian, mempersiapkan diri. Ia pun hanya memiliki seperempat tenaga. Meski demikian, ia bersiap bertarung. Orang yang tadi menantang Rico memukul dengan cepat. “Kau tak lagi mempunyai siapa-siapa, sungguh malang nasibmu, Ric,” ejeknya. “Diam kau!” Emosi Rico meletup-letup. Dia sungguh tak bisa menghemat tenaganya. Dalam benaknya, Rico hanya ingin membalas dendam kepada orang di depannya. Akibat ejekannya, Rico menyerang kemana pun sekenanya. Satu pukulan melesat ke pipi si musuh, dia pun mundur. “Serang dia!” seru sang provokator kepada yang lainnya. Semua angota menyerang. Sekarang Rico benar-benar kewalahan. Akhirnya dia memilih untuk pergi. Tapi kemana pun ia melangkah, langkahnya dihadang. Akankah Rico selamat? Lebih parahnya lagi sekarang semuanya bersenjatakan pisau. Rico hanya bisa mengelak, tapi karena banyaknya penjahat, lengan, kaki, dan tubuhnya terkena pisau. Rico perlahan mendekati pintu keluar. Tapi serangan selalu terjun. Rico tak kehabisan akal, dia membiarkan dirinya ditendang agar bisa mendekati pintu. Sampai akhirnya, Rico mendebrak pintu. Dia langsung berlari sekencang-kencangnya. Dari arah bangunan, meluncur sebuah batu. Batu itu melayang tepat mengenai kaki Rico, sehingga dia terjatuh. Terdengar suara orang-orang berlarian mendekat. Rico kembali berdiri dan berlari pincang. Sekarang hanya sedikit peluang untuknya selamat. Saat itu, ia hampir menyerah. Tapi kemudian ia ingat akan janjinya untuk melindungi Fira. Ia pun bangkit lalu menyelamatkan diri sebisa mungkin. *** Mendengar itu, aku kian terharu. Aku menangis dan memeluk Rico seerat mungkin, seakan-akan ia akan pergi dan tak pernah kembali. “Sekarang tolong berjanjilah kamu akan tetap di sampingku apa pun yang terjadi!” ucapku dengan nada yang bergetar. “Aku berjanji,” ucap Rico. Pria itu kemudian mengecup dahiku. Dapat kurasakan kehangatan cinta yang tiada tara dari kecupan Rico. Aku pun berjanji pada diriku sendiri tak akan membiarkan apa pun menimpa Rico kembali. Aku akan menjaganya, bukan dengan menjauhinya, tapi dengan bersamanya. Aku memapah Rico untuk berdiri. Ia setelah kukasih sebuah serum tenaga, terlihat lebih bercahaya. Hanya tinggal masalah hari sebelum kami tertangkap. Sebelum itu, kami harus meninggalkan negara ini. Belum sempat kami berjalan jauh, orang-orang berdatangan dan langsung menembak. Kami berada di atas jalan layang. Aku dengan cepat membaca situasi. Aku pun menyeret Rico untuk menjatuhkan diri di atas truk yang tengah mendekat. Salah perhitungan sedikit, kami akan berakhir tertabrak. Tapi apa boleh buat. Tetap di sini mati, jatuh ke bawah bisa mati bisa tidak. “Kamu siap?” tanyaku. Rico mengangguk dan kami pun bersama melompat ke bawah. Meski sedikit mengalami luka karena pendaratan tidak sempurna, kami berhasil berada di atas truk. Truk itu pun membawa kami pergi. Orang-orang yang menembaki kami menggeram. Mereka berlari entah ke mana. Akankah kami selamat? Aku tak tahu. Jika salah satu dari kami harus mati, aku memilih, menjadi onggok mayat itu. Rico harus hidup. Ia berhak hidup. Ia adalah penyelamat bagi banyaknya jiwa di masa depan nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN