012 Keselamatan

2268 Kata
“Kamu ini kayak kutu, deh. Nempel terus, mana susah disingkirkan lagi,” desis Fira. “Butuh puluhan tahun agar kamu bisa lepas dariku. Asal kamu tahu saja Fir, kamu adalah orang terakhir yang kucintai. Akan kujaga dirimu apa pun yang terjadi.” “Buaya mode on,” nyinyirku. Rico memasang muka kecut. Sedangkan aku tertawa dengan puas. Tapi harus aku akui, lepas dari Rico adalah sesuatu yang sulit. Sudah jelas beberapa saat lalu dia masih tidur di kursi pesawat, kini dia berhasil menyusulku berjalan di taman kota ini. “Kenapa kamu ikut aku ke sini?” tanyaku sembari menatap tajam ke wajah Rico. Aku ingin memastikan tidak ada kebohongan di sana. Jika pupil mata orang membesar, itulah tandanya mereka berbohong. “Sudah kubilang, aku akan menjaga orang yang kusayangi seumur hidupku.” Aku memejamkan mata lalu mengembuskan napas. Tidak ada kebohongan dalam perkataan Rico. “Kok aku jadi merinding ya.” Rico memiringkan dahinya. “Kata-katamu seakan tak membolehkanku bareng orang lain.” Kini Rico menjadi terdiam. Raut wajahnya yang tadinya ramah berubah menjadi kaku. “Apakah kamu tidak mencintaiku.” Aku menelan ludah. Sebenarnya dengan aku rela hampir berciuman dengannya di pesawat semalam, itu sudah menjelaskan banyak hal. Kenapa pria ini malah tidak peka? Tapi bagiku ini sebuah kesempatan bagus. Aku mencintainya, maka aku tidak bisa mengungkapkannya. Aku tak mau membawa pergi kehidupan Rico yang cerah ke dalam kehidupanku yang gelap. Maka dengan begitu banyak tekad dan juga perasaan yang kupendam, aku mengatakan yang sebenarnya tidak kurasakan. “Tidak. Aku tidak mencintaimu.” Aku melangkah pergi secepat mungkin. Aku takut Rico mendengar nada ragu dalam perkataanku barusan. Aku juga takut dia melihat tubuhku yang bergetar karena tak kuasa mengatakan hal itu padanya. Buat dia pergi ya, Tuhan! Aku tak ingin melihat siapa pun terbunuh lagi. Aku melangkah cepat. Kupacu kakiku yang sebenarnya sudah lelah untuk segera pergi dari tempat Rico berada. Sebelum lelaki itu bisa menguasai dirinya, aku harus sudah berpindah tempat. Aku menangis sejadinya kala aku yakin bahwa Rico tak lagi mengikutiku. Mau bagaimana lagi, aku harus kuat. Aku harus benar-benar yakin dengan pilihanku ini. Setelah yakin Rico tak mengikutiku, aku berhenti di samping sungai. Sungai di luar negeri memang beda jauh dengan yang ada Indonesia. Sungai di sini bersih, bahkan tepian sungainya dibatasi dengan pagar hitam dan juga dibuatkan taman yang sangat bagus buat rekreasi. Aku menyendehkan kepala ke pagar dengan bertumpukan tangan. Akhirnya mata ini bisa keluar dengan leluasa. Aku akui cinta dengan Rico. Tawanya yang mendamaikan, kehadirannya yang membuatku merasa aman, dan sikapnya yang selalu membuatku gemas. Namun di saat aku ingin bersamanya, di saat bersamaan aku juga sadar tak bisa dengannya. Cepat atau lambat Rico akan kembali ke agensinya dan aku juga akan ditangkap kembali oleh Ando. Dunia yang kami tempati tak akan pernah bisa membuat kami bersama. Angin musim gugur bertiup sedikit kencang, menyapu dedaunan yang tergelatak begitu saja di taman samping sungai ini. Angin-angin itu pun juga membuat rambut panjangku berkibar-kibar. Air yang tadi tenang, kini bergerimicik, memantulkan bulir-bulir cahaya mentari yang tak begitu terang. “Aku tak pernah melihat ada wanita yang menangis sendirian di sungai ini,” seseorang tiba-tiba berujar di belakangku. Aku sontak menengok ke belakang. Kudapati seorang pria berwajah tegas dengan perawakan yang tegap pula. Dapat kutebak kalau pekerjaannya kalau tidak polisi pasti tentara. “Maaf?” tanyaku sembari memiringkan kepala. “Perkenalkan namaku Antonio, namamu?” “I’m sorry. Saya tidak memberikan namaku semudah itu kepada orang asing.” “Bagaimana caranya tidak jadi orang asing kalau kita tidak berkenalan terlebih dahulu? Bukankah itu berarti kamu tidak mau berkenalan denganku?” Wow. Baru kali ini ada orang yang bisa menebak apa maksud perkataanku. Hebat. Namun aku tak menghiraukannya. Aku pun melangkah pergi dari tepi sungai itu dan membiarkan Antonio sendirian. Sejenak kulihat dia kembali fokus menatap luasnya sungai. *** Malam kian kelam. Dinginnya kali ini bukan main. Mungkin akan turun salju malam ini. Untungnya aku sudah menyewa apartemen. Meski kecil, tapi ini yang terbaik. Dengan ranjang berukuran satu orang dengan selimut tebal dan juga penghangat ruangan. Hal yang paling membuatku nyaman dan betah adalah tembok ruangannya yang sempurna terbuat dari kayu, tidak seperti di Indonesia yang mayoritas rumahnya menggunakan batu bata. Aku menyeduh kopi. Minuman itu mengepul dan aromanya menguar. Sepertinya malam ini aku akan semalam suntuk di kamar, tidak berniat sama sekali keluar. Aku pun telah membuat omelet untuk menemani malam ini. Dengan lagu Sephia berdendang setengah keras, aku menikmati suasana malam. Ah sudah lama sepertinya aku mengidamkan kelonggaran waktu seperti ini. Dulu dalam pengawasan Ando, aku terus-terusan dikutuk dengan rasa bersalah. Siang dan malam tak ada bedanya, semuanya serba penelitian. Kepalaku saat itu rasanya ingin meledak. Tapi dengan adanya rekan yang juga senasib serta ancaman dan gaji yang tak pernah terpakai, rasanya stres itu sedikit bisa diatasi. Lebih tepatnya terpaksa dianggap biasa. Sebuah gumpalan kecil berwarna putih turun tepat di depan jendelaku. Perlahan namun pasti gumpalan-gumpalan putih kecil itu turun kian deras. Aku membuka jendela. Hawa dingin langsung menampar-nampar mukaku. Tapi apa kupeduli. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat langsung benda putih suci ini. Kujulurkan tanganku. Benda-benda putih itu langsung menggerumuti tangan. Dingin. Seperti ada yang gigit, tapi bukan semut. Lama-lama gumpalan itu kian menebal. Kutarik tanganku sebelum membeku lalu buru-buru menutup pintu. Gumpalan yang kudapat terlalu sedikit. Sebenarnya ingin sekali kubuat menjadi bola, tapi rasanya tidak akan jadi. Hmm … ngomong-ngomong seperti apa rasanya salju. Tanpa berpikir panjang, aku telan salju itu. Rasa dingin langsung menggigit lidahku. Dan aku terkejut kala mengetahui kalau salju ternyata rasanya seperti air biasa. Kupikir rasanya akan seperti vanila, berhubung warnanya putih, tapi ekspektasi itu terbantahkan begitu saja. Lagu yang kuputar sayup-sayup mulai terdengar lebih lirih. Aku pun menguap. Sepertinya tubuhku terlalu lelah untuk dikalahkan oleh kopi yang kubuat. Segera aku melangkah ke kasur. Kubalut tubuhku dengan selimut lalu memejamkan mata. Namun baru saja tubuhku mulai nyaman, sebuah teriakan terdengar dari lantai bawah. Teriakan itu tak berlangsung lama dan diganti dengan suara sebuah benda yang menggelinding. Aku pun langsung terjaga. Dengan sigap kuganjal pintu dengan barang-barang berat lalu mematikan semua peralatan listrik. Aku kemudian mengambil peralatan yang kubutuhkan dan bersiap pergi lewat jendela. Aku menunggu. Kutahu kalau pencuri biasa, dengan gampang bisa kuatasi. Bertahun-tahun dalam pengawasan Ando, aku sudah biasa berkelahi bahkan menghadapi lelaki yang lebih besar sekali pun. Hanya saja aku khawatir kalau yang menyerang adalah antek-anteknya Ando. Hening. Aku bahkan bisa mendengar deru angin di luar. Meski penghangat telah kumatikan dan seharusnya susana di kamar ini dingin, keringatku malah mulai keluar. Rasanya risih, tapi aku sama sekali tak bisa menggerakkan tanganku untuk menyekanya. Sayup-sayup langkah kaki terdengar mendekat. Engsel pintu perlahan bergerak. Sama sekali tak ada suara orang. Dengan begitu dapat kutebak yang beroperasi hanya satu orang. Aku menengok ke bawah. Tinggi kamarku dengan tanah sekitar lima meter. Jika aku menjatuhkan diri dengan posisi yang tepat itu tak masalah, tapi jika tidak, aku akan patah tulang. Nggak ada kerjaan banget sih ngejar pas musim salju pertama, desisku. Engsel pintu yang tidak bisa dibuka tiba-tiba meledak. Sepertinya orang yang hendak masuk, menembaknya dengan revolver yang sudah dipasangi peredam suara. Aku kian gugup. Tak ada pilihan lain. Kubuka jendela lalu melompat ke luar. Berhasil. Tak ada luka berarti pasca aku melompat dari kamar. Aku langsung berlari sembari memandang sekitar. Dapat kulihat beberapa orang sedang berjaga di pintu. Sial. Trernyata mereka tak sendirian. “Bagaimana mungkin sejauh ini mereka masih tetap bisa melacakku?” aku menggeram. Tanpa berpikir lama-lama, aku langsung berlari menjauh. Beberapa orang yang berjaga di pintu, berteriak. Mereka mungkin sudah menyadari bahwa aku sudah berhasil kabur. Itu berarti asumsiku benar. Mereka semua adalah antek-antek yang dikirim oleh Ando. Beberapa peluru dilesatkan. Terlambat. Aku sudah terlalu jauh. Peluru yang ditembakkan hanya mengenai udara-udara kosong. Dinginnya salju benar-benar mencekik tenggorokan serta kulit. Belum pernah aku merasa dingin serta panas di saat yang bersamaan. Rasanya setiap keringat yang kuhasilkan langsung berganti dengan cairan dingin. Setelah terasa cukup jauh, aku bersembunyi di sebuah gang sempit. Di sana kubuka handphone lalu mencari pos polisi terdekat. Percuma kalau menghubungi mereka. Pertama, aku akan menunggu. Dan waktu-waktu itu sangat krusial. Bisa-bisa saja antek-antek Ando sudah bisa melacakku. Kedua, aku tak yakin polisi-polisi itu akan sanggup melawan penjahat yang dilatih oleh Ando. Suara mobil mendekat dapat kudengar dengan jelas. Aku berhitung cepat. Satu detik sebelum mobil itu masuk ke gang, aku berhasil keluar. Makan itu! Aku kembali berlari. Bagaiman bisa mereka melacakku? Aku masih menebak-nebak alat atau apa pun yang digunakan untuk mereka mengetahui lokasiku saat ini. Mobil yang tadi masuk ke gang, kini berhasil keluar. Mobil itu langsung mengejarku di trotoar. Sepinya orang yang lewat, membuat mereka leluasa mengemudi tanpa ada hambatan. Sial. Tiga ratus lima puluh meter lagi, kantor polisi terdekat berada. Namun dapatkah aku bertahan sejauh itu? Seseorang berdiri di depan sana. Dia mengacungkan sebuah revolver. Melihat itu, jantungku berdetak tidak keruan. Jika dia menembak, sedang mobil di belakangku tengah dalam kecepatan sekitar lima puluh kilo per jam, dapat kupastikan selain menderita luka tembak, tubuhku juga akan terhempas, tertabrak oleh mobil itu. Sebuah suara tembakan terdengar. Aku memejam sembari terus berlari. Tidak ada tempat untuk menghindar. Di samping kananku, mobil terparkir rapi, sedang di samping kiri, tembok-tembok bangunan dengan kokoh berdiri. Aneh. Tidak ada rasa sakit apa pun yang kurasakan. Justru telingaku dibuat pekak oleh suara rem mobil yang menderu dengan hebat. Suara memekakkan telinga khas tembakan itu terdengar lagi. Lagi dan lagi, tapi tak satu pun peluru mengenaiku. Peluru-peluru itu malah dengan tepat menghujani mobil di belakang, membuat mobil rusak dan para penumpangnya tewas seketika. “Lari!” teriak seseorang itu kala aku sudah dekat dengannya. “Rico?” Aku memastikan mataku tak salah lihat. Pemuda itu tak menjawab. Matanya masih fokus melihat mobil yang kini sudah menghantam tembok. Gigi-giginya saling beradu. Rahangnya mengeras. Kuda-kudanya begitu kokoh. Ia siap dengan pertempuran yang mungkin akan terjadi di depannya. “Lari!” Dia meneriakiku sekali lagi. Kali ini dia bahkan mendorong tubuhku. Aku segera menuruti perintah Rico. Sesekali aku menengok ke arah pemuda itu. Dia kini menghadang seseorang yang berusaha mengejarku. “Minggir! Aku tak ada urusan dengan mayat hidup sepertimu!” teriak orang itu. Rico tak bicara. Ia langsung meluncurkan tinju. Ia sepertinya sadar bahwa pelurunya telah habis. Secepat mungkin aku menghampiri pos polisi. Dengan begitu, bantuan akan segera datang dan Rico dapat terselamatkan. Masih dengan jelas, kudengar adu jurus di antara orang itu. “Ya Tuhan, selamatkan Rico!” mohonku. Salju-salju turun kian lebat. Kakiku terasa lelah begitu cepat. Hawa dingin kini benar-benar terasa menusuk tulang. Aku bersyukur masih bisa menggapai pos polisi. “Tolong!” teriakku ketika jarak dengan pos polisi hanya sepelemparan batu saja. Orang-orang yang berjaga di sana langsung keluar. Mereka begitu sigap dan langsung siaga. Salah seorang polisi yang berdiri di sana, begitu familiar. Ternyata benar, pria yang kukenal di tepi sungai tadi siang adalah seorang polisi. “Tolong! Saya dikejar sekelompok penjahat!” rintihku yang kubuat setragis mungkin. Antonio segera mengamankanku di ruang polisi. Dia meminta rekannya untuk menjaga Fira sementara dirinya bersama polisi yang lain, menuju ke tempat yang kumaksud. Dalam hati terdalamku, aku berharap semoga mereka dapat menolong Rico bukan malah sebaliknya. Seorang polisi yang menjagaku, membuatkan cokelat panas. Namun aku malah sama sekali tak bisa menikmati cokelat di depanku. Padahal kalau menurut cuacanya ini sangat pas. Hatiku terlalu risau memikirkan apa yang terjadi kepada Rico. Jam berdetak terasa begitu lambat. Aku menghentakkan jari dan juga kaki. Belum ada laporan yang keluar dari walkie talkie di atas meja polisi yang berjaga. Lama sekali mereka untuk sampai ke arena yang di maksud. Padahal rasanya tak sampai dua ratus meter. Selang beberapa menit, akhirnya walkie talkie itu menyala dan mendapatkan sebuah pesan. “Penjahat berjumlah tiga orang. Dua orang telah tewas menabrak rumah dan seorang lagi mengalami patah tulang serta luka berat. Kami akan kembali secepat mungkin. Bawa wanita itu ke rumah sakit untuk diperiksa juga.” Polisi penjaga itu mengangguk. Ia segera mengajakku ke rumah sakit. Sebenarnya lebih baik aku di sini saja. Aku ingin menyisir area dan memastikan bahwa Rico baik-baik saja. Namun aku tak mau dicurigai sehingga aku menuruti mereka saja. Malam itu, sirene ambulan dan polisi meraung-raung di jalan. Semua korban di rumah penginapan, para penjahat, dan juga diriku, dibawa ke rumah sakit dengan pengamanan yang ketat. Setelah diperiksa dan diselidiki, tak ada sidik jariku yang ditemukan di lokasi kejadian sehingga aku murni menjadi saksi. Aku hanya diwajibkan memberikan keterangan tentang peristiwa dan tidak diperbolehkan pergi dari negara ini dalam waktu dekat. Aku mengangguk. Ada untungnya juga bagiku. Aku akan berada dalam pengawasan polisi sehingga Ando tak akan macam-macam. “Lebih baik kalau kamu tinggal di rumahku terlebih dahulu,” tawar Antonio. “Tidak, terima kasih. Aku bisa menjaga diri.” “Kamu tak lihat apa yang dilakukan penjahat-penjahat itu kepada pemilik apartemen?” “Ya. Tapi kamu lihat sendiri aku tidak kenapa-kenapa, kan?” “Baiklah. Tapi setidaknya saya temani untuk mencari apartemen baru malam ini.” Aku mengembuskan napas. Inginku menolak, tapi udara sudah terasa sangat dingin. Akan sangat membantu jika aku mencari apartemen baru dengan menggunakan mobil. Antonio orang sini, dia pasti bisa dengan cepat mencarikanku apartemen baru. Aku mengangguk. Antonio pun tersenyum. Ia lalu membuka jaket tebalnya dan memakaikannya kepadaku. Aku mengedarkan pandangan. Rasanya pipiku memerah dan aku tak mau Antonio mengetahuinya. “Rico?” seruku ketika melihat pria yang amat kucintai melangkah menjauh. Dia pasti mengikutiku sampai ke sini. Alih-alih memeriksakan tubuhnya sendiri, ia malah memastikan kondisiku. “Mari!” ajak Antonio. Tiba-tiba saja, aku mendapatkan sebuah ide yang amat baik. Ide yang bisa membuat Rico benar-benar dalam keadaan aman. Ya, dia pasti aman kali ini. Ando akan menghiraukannya dan akan mengejar orang lain. Tunggu saja Rico. Keselamatanmu berada di tanganku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN