Rico terbangun. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat. Pandangannya sedikit kabur dan berputar-putar. Tapi yang lebih parah adalah rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Fira yang melihat suaminya sudah terbangun, langsung memeluknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hampir saja ia kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Mereka kini berada dalam sebuah kamar sel dengan kasur rawat di dalamnya. Kamar sel itu bisa dilihat dari mana pun, sehingga Fira tak mungkin memberi tahu apa yang tidak diinginkan oleh Ando. Apalagi kamar ini pun dilengkapi dengan CCTV yang juga memiliki suara. Sungguh tak mungkin untuk macam-macam.
“Apa yang terjadi?” Rico bertanya sembari memandang sekelilingnya.
Fira melepas pelukannya. Ia masih terus saja menangis.
“Kenapa?” tanya Rico sembari menyeka air mata istrinya itu.
“Kamu harus melakukan apa yang dibilang oleh Ando, atau aku akan dibunuhnya.” Fira berbisik. Inilah poin terakhir dari pencucian otaknya. Menanamkan benih pikiran yang baru dengan kalimat yang begitu kuat.
Rico membelalak. Ia pun menatap ke istrinya dengan penuh tanda tanya. Napasnya sedikit tak teratur. Ia masih mengumpulkan informasi di otaknya.
“Kita telah ditangkap, Mas. Kita tak bisa kabur lagi. Kamu turuti mereka atau kamu bisa hidup tanpa diriku. Ya hanya diriku yang akan dibunuh dan kamu akan dikurung di sini sampai ajalmu sendiri yang menjemput.”
Rico sama sekali tak bisa berpikir dengan jelas. Ia hanya samar-samar mengingat ia pernah bertarung. Entah untuk siapa, tapi ia juga melihat ada Ando di sana.
Fira menangkap ada keraguan di mata suaminya. Ia pun lebih meyakinkan suaminya akan cerita yang dikarangnya. Dengan Rico yakin bahwa dirinya adalah anggota dari kelompok penjahat ini dan menjalankan misi yang diberikan oleh Ando, maka Fira dan Rico akan dibebaskan begitu saja. Itulah janji Ando.
***
Akhirnya setelah beberapa saat, Rico mempunyai mata itu lagi. Mata yang tajam dan penuh akan tujuan. Dia menjadi Rico yang aku kenal meski dengan presepsi yang berbeda. Aku sekali lagi berhasil mencuci otaknya seperti dulu.
Setelah kami berpisah tanpa berpamitan di atas rooftop dan kuputuskan untuk segera meninggalkan negara ini, aku begitu terkejut dengan siapa yang menghuni kursi di sebelahku, padahal awalnya kursi itu kosong.
Aku hanya diam melintas di depannya. Sepertinya dia tertidur atau memang pura-pura tertidur. Aku memilih untuk tidak peduli. Kududuk di kursi yang memang di dekat jendela lalu memandang langit.
Jika ada tempat yang paling kunikmati di bumi ini ialah langit. Di atas sini, tidak ada manusia b***t yang berkuasa. Sekali mereka macam-macam dengan korbannya, bisa jadi mereka juga akan mati. Langit menjadi saksi bahwa seperti apa pun manusia berkuasa di atas tanah, mereka tidak akan berkuasa mutlak di langit. Setiap hal yang dilemparkan ke atas pastilah akan jatuh ke bawah. Jadilah langit milik semua makhluk di bumi ini. Langit adalah hal terbersih yang ada di planet ini.
Aku tetap terjaga sampai matahari beralih ke sisi barat cakrawala. Pesawat yang kutumpangi sedikit berenang di atas awan-awan cumulonimbus, membuat pesawat seakan berjalan di atas kumpulan kapas berwarna orange. Retinaku menangkap semua keindahan itu. Bagaimana sesekali sayap pesawat membelah awan, sehingga akan ada goresan tipis awan yang mengikutinya. Dan bagaimana pesawat secara bertahap memasuki pekatnya awan tebal lalu keluar lagi.
“Sampai kapan kamu mau memandangi langit terus?” tanya Rico dengan setengah mendengkus.
Aku sontak menoleh. Padahal aku sedang ingin-inginnya menatap bintang kejora di ungunya langit. Jarang-jarang kan bisa menyaksikannya sedekat ini.
“Kenapa tidurnya nggak dilanjutkan?” tanyaku sedikit sebal.
“Inginnya sih begitu.” Rico terlihat kesusahan membenarkan posisi duduk. Kulihat wajahnya sedikit pucat dan tangannya terus-menerus memegangi perutnya.
“Kamu kenapa?”
Rico berusaha tersenyum. Tapi tetap saja dia tak bisa menyembunyikan raut kesakitannya dari mataku. “Aku dapat kenang-kenangan dari bosmu.”
“Ya ampun, kenapa nggak bilang dari tadi?” aku tanpa permisi mengangkat tangan Rico yang memegangi perutnya. Kulihat di sana sudah banyak darah yang berceceran. Begitu menyadari kondisinya tidak dapat ditolerir, aku melotot ke arahnya. Bagaimana bisa orang yang hampir kehabisan darah malah bercanda.
“Ah sudah tidak apa-apa. Nanti juga berhenti,” ujar Rico yang diakhiri dengan sedikit tawa.
Aku kembali melotot, “Berhenti darahnya, berhenti juga nyawamu. Ayo ke toilet, biar kuhentikan pendarahanmu.”
“Ke toilet berdua? Apa kata orang?” cegahnya.
“Apa juga kata orang kalau lihat perutmu penuh dengan darah seperti ini.”
Aku pun bangkit lalu mengambil tasku yang di dalamnya terdapat peralatan P3K. Setelah melangkah beberapa jauh, kulirik Rico untuk segera bangkit juga. Laki-laki itu walau sudah pucat pasi, dia masih bisa berjalan dengan tegap layaknya orang yang sehat. Hebat juga dia.
Aku masuk pertama kali ke toilet dan menyiapkan peralatan yang kubutuhkan. Baru selang beberapa saat Rico pun masuk.
“Buka bajumu!” kataku tegas.
Rico menggeleng.
“Mau diobati atau tidak? Lagian yang luka cuma perut, kan? Nggak usah ngeres. Kebiasaan laki-laki.” Aku mengomel. Paling tidak suka dengan cara berpikir lelaki yang sedikit-sedikit langsung mengarah ke ranjang.
Tanganku masih cekatan menyiapkan segala yang kuperlukan. Namun Rico tetap saja mematung tanpa membuka bajunya.
“Tidak perlu kubukakan, kan? Kamu bukan anak kecil.”
Rico mengembuskan napas. Akhirnya ia melepas bajunya dengan sangat pelan. Dan dapat kulihat di sana, di perut bagian samping, terdapat luka gores yang cukup lebar.
“Kamu kenapa bisa sampai seperti ini?” tanyaku sembari membersihkan luka dari darah yang ada.
“Aku mencari temanku yang katanya masih hidup.”
Aku terperangah. “Sendirian? Apa kamu sudah gila?” Aku mulai menyuntikkan obat bius semprot lalu menyemprot area sekitar luka Rico lalu menjahitnya. “Tahan ini akan sedikit sakit!” kataku.
“Aku bisa lebih gila kalau membiarkan rekanku di sana dalam keadaan hidup-hidup.” Rico menjawab pertanyaanku sebelumnya. Ia sesekali menggigit bibir, menahan rasa sakit atas perlakuanku padanya.
Untungnya aku selalu membawa surat-surat pelengkap penelitian medis sehingga aku dapat dengan bebas membawa barang-barang medis seperti ini. Aku bersyukur dengan adanya diriku nyawa seorang telah terselamatkan bukan malah terenggut.
“Sudah! Jangan bergerak dulu dan minum ini! Penerbangan kita masih jauh.” Aku berdiri merapikan peralatan. Sebenarnya aku sedikit tidak fokus saat mengobati Rico. Tanganku dan pandanganku sesekali teralihkan pada liat otot perutnya yang begitu sempurna. Apalagi ketika aku berdiri dan menyadari bahwa dadanya sangat bidang bagai bandara. Aku sempurna merinding. Namun aku langsung mengondisikan diri.
Rico hendak memakai kausnya kembali. Sayangnya ia tidak bisa. Wajar saja, setelah luka itu kututup, ia pasti merasa sangat kesakitan jika menggerakkan tangannya ke atas.
“Biar aku bantu!” aku kembali berbalik menghadap Rico. Kuambil kaus yang masih dipeganginya lalu melonggarkan bagian leher. Perlahan kumasukkan kepala Rico dan membantunya memasukkan tangannya. Saat itu untuk pertama kalinya aku tak dapat mengatur ritme jantungku. Pandangan kami yang begitu dekat, membuatku menyadari betapa indahnya mata Rico. Mata itu layaknya danau di musim gugur yang membawa nuansa begitu tenang.
“Terima kasih,” ucap Rico setelah berhasil memakai pakaiannya dengan benar.
“Sama-sama. Jangan sekali-kali kamu bertindak ceroboh seperti ini, aku tak mau menyia-nyiakan waktuku untuk mengobati orang yang melukai dirinya sendiri,” seruku sok tegas. Padahal aku hanya ingin menghilangkan sosok Rico dalam pikiranku. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Cinta hanyalah kesengsaraan.
Ingatlah, Fir! Siapa pun yang kamu cintai, dia akan mati.
“Baik, Bu Dokter Fira yang cantik.”
“Dih gombal!” aku buru-buru keluar dari toilet. Sebelum diriku benar dikuasai oleh perasaan bodoh ini, lebih baik aku menghindar secepat muungkin.
Ternyata malam sudah datang. Selang beberapa saat setelah aku duduk dan kembali menyaksikan rasi bintang di atas sana, Rico duduk kembali di sampingku. Ia kini sudah memegangi sepotong roti dan minuman yang ia dapatkan dari pramugari. Lelaki ini pasti sedang berencana meminum obat yang kukasih.
Aku menyendehkan bahu ke kursi. Sesekali aku menatap Rico yang sedang makan. Kini wajahnya tak sepucat yang tadi. Entah kenapa baru kali ini ada wajah lelaki yang sanggup memalingkan perhatianku dari bintang-gemintang di langit.
Wajah Rico yang terbalut oleh kulit sawo matang dengan letak dan bentuk tulang yang sempurna. Ia tidak mancung, tidak juga pesek. Kedua pojok alisnya sedikit terangkat dan menurun ke titik tengah hidungnya. Terkesan seperti selalu marah, tetapi tidak juga. Rico bahkan sering menunjukan wajah yang membuatku sering sekali gemas ingin mencubitnya.
“Kenapa?” tanyanya saat menangkap basah aku yang terus-terusan menatapnya.
“Nggak papa,” kataku jengah. Kurasa pipiku dibuat merona olehnya. “Kamu kenapa bisa tahu aku ada di sini?” tanyaku mengalihkan pikiranku yang semakin terselimuti oleh wajah Rico.
“Hmm … setelah aku memporak-porakdakan markas mereka, aku mencarimu dan nihil. Aku main tebak-tebakan dengan memilih penerbangan tercepat dan binggo aku ada di sini.”
“Kamu memporak-porakdakan markas Ando? Imposible. Ando itu kuat. Bahkan ia bisa dengan entengnya menang dari seratus serangan musuh.”
“Yaah. Aku akui aku kalah melawannya. Tapi paling tidak, kami sama-sama berbagi luka di perut. Dan jika dia tidak mendapat pertolongan seperti yang kudapat sekarang, aku yakin dia akan segera berpindah alam.” Rico tertawa yang langsung disusul dengan suara mengaduhnya. Mana mungkin dia bisa tertawa leluasa sementara perutnya dijahit.
“Semoga saja begitu.”
Hening. Hanya desingan mesin pesawat yang terdengar. Untungnya malam ini tak ada satu pun awan yang menghadang, sehingga setiap penumpang bisa tidur dengan lelap.
“Oh iya aku hampir lupa.”
Aku menoleh. Rico mengambil sesatu di saku celananya.
“Terima kasih karena selalu menyelamatkanku.” Rico mengeluarkan seuntai kalung emas dengan liontin berbentuk bintang biru.
“Bagaimana kamu tahu aku suka bintang?”
Rico menggaruk kepalanya. “Aku selalu melihatmu menatap langit saat malam. Heem … bolehkan aku memasangkannya?”
Aku terdiam. Lagi-lagi aku terpaku pada mata Rico yang setenang danau. Cahaya dari matanya itu seperti memiliki cahaya rembulan, begitu tenang sekali.
“Dengan senang hati,” kataku lalu berbalik. Kubiarkan Rico memasangkan kalung emas itu di leherku.
Aku meraba kalung yang diberikannya. Liontin yang dibuat dari permata berwarna biru dengan bentuk bintang yang begitu indah. Kalung ini mirip sekali dengan kalung milik Rose dalam film Titanic. Untung saja kami menaiki pesawat, sehingga tak akan ada gunung es di depan yang tiba-tiba muncul dan menghujam pesawat.
“Terima kasih,” kataku setelah Rico dengan sempurna memasangkannya.
“Hanya ini yang bisa kuberikan.”
“Ini lebih dari cukup. Tapi ngomong-ngomong sudah berapa banyak gadis yang kamu berikan seperti ini?” aku langsung menatap tajam matanya. Rico mundur, ia sedikit kaget.
“Hanya kamu.”
“Oh dasar buaya.”
“Serius hanya kamu.”
“Semua buaya bilang seperti itu.” Aku tertawa melihat expresi Rico yang tidak terima.
“Hatiku hanya ada satu, jadi cukup satu wanita yang menghuninya. Dan kurasa kamulah wanita itu.”
Mendengar itu, tawaku langsung lenyap. Kini aku malah terpaku olehnya. Wajah Rico benar-benar berada tepat di depan mataku. Birunya langit dan remangnya cahaya membuat suasana kian terasa tenang. Aku dan Rico saling menatap. Lalu entah kenapa ada hasrat yang mendorong kami untuk saling mendekatkan bibir. Sampai akhirnya pesawat memasuki awan besar dan membuat itu tak terjadi.
Aku yang sadar langsung menepikan diri dan kembali menatap bintang. Berulang kali kukatan pada diriku. Jangan jatuh cinta. Cinta hanya membawa penyakit berupa kesedihan akan kehilangan. Jangan. Rico tak boleh mati karenaku.
Rico pun kembali duduk. Sepertinya efek samping dari obat yang kuberikan membuatnya mulai kehilangan konsentrasi. Ia akan tidur beberapa saat lagi. Dan begitu pesawat ini turun, aku akan menghilang dari hadapannya. Jika aku benar mencintainya maka aku harus melepaskannya. Tak akan kubiarkan dia tenggelam dalam hidup yang kujalani.
***
Aku mengelap bibir. Kini aku sudah berada dalam bus yang akan membawaku menyebrangi negara bagian. Masih jelas kehangatan pipi Rico yang semalam kukecup.
Selama perjalanan, aku terjaga total. Aku berencana turun paling awal sehingga Rico tak akan tahu ke mana aku pergi. Namun sebelum itu, kuberanikan diriku untuk mengecup pipinya walau sekejap. Sepanjang hidupku, aku tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Ayahku saja, sosok yang begitu kupercayai bisa menjagaku, malah membuangku ke tempat Ando.
“Terima kasih, Mas!” kataku.
Setetes air mata mengalir kala aku melangkah keluar sementara Rico masih tidur dengan manis di kursinya. Sebentar lagi keributan akan membangunkannya. Dan kuharap dengan perginya diriku, dia tidak akan pernah dalam masalah lagi. Tak akan.
Maka di sinilah aku sekarang. Aku tahu ke mana pun aku pergi, Ando pasti akan mencariku. Hanya aku yang memegang dan mengerti cara kerja serum White Memory yang selama ini ia incar. Serum ini satu-satunya senjata mutakhir dan pencuci otak yang baru ditemukan. Selain aku ada satu lagi peneliti yang mengerti akan itu. Tapi kukira ia adalah musuh dalam musuh. Dia tidak berpihak pada Ando tapi berpura-pura berpihak padanya.
Namun itu tidak penting. Selama tidak ada yang bisa meniru serum ini, dunia akan aman. Tak akan ada pihak yang mendominasi pihak lain. Dengan begitu, dunia ini akan aman. Anak-anak tak akan kehilangan orang tuanya dan semua bisa berkumpul dengan keluarganya masing-masing.
Bus yang kutumpangi melaju dengan cepat. Kuraba kalung yang diberikan oleh Rico. Di sana masih ada kehangatan yang terasa.
“Selamat tinggal Rico Adi Saputra,” lirihku sembari membuang muka, memandang indahnya pemandangan.
Aku tak akan menyalahkan takdir yang ditimpakan kepadaku. Aku percaya semua orang punya takdir yang berat. Aku hanya akan menyalahkan diriku sendiri karena tak mampu melawan takdir hidupku. Tapi walau berat menjalaninya, aku ikhlas jika itu berarti orang yang kucinta akan tetap hidup.
Bus tiba-tiba berhenti. Beberapa penumpang tampak naik. Aku yang menyadari sesaknya penumpang, inisiatif berpindah tempat duduk ke samping jendela, memberikan ruang untuk orang lain duduk. Dan dengan tiba-tiba seorang pemuda bertopi duduk di sampingku.
“Kau tak akan bisa pergi dariku!” katanya dengan nada yang sangat mengintimidasi.
Aku tercengang kala melihat wajahnya. Bagaimana bisa?