010 Masa Lalu

1035 Kata
Aku mengusap-usap wajah Rico. Ia sudah stabil sekarang. Luka-luka di tubuhnya sudah mendingan walau belum sembuh benar memang. Hanya saja aku tak menyangka akan memberikan serum terkutuk ini lagi. Awalnya aku memang berniat memberikannya sepulang dari rumah sakit dulu, tapi setelah dia mengetahuinya, aku menyadari bahwa percuma saja memberikannya serum White Memory ini. Toh pada akhirnya ia akan ingat atau paling tidak memergokiku tengah meramunya. Setetes air mata keluar dari pipiku. Tanganku sudah memegang suntik yang telah diisi oleh White Memory. Kamar perawatan ini diawasi dengan sangat ketat. Tak ada pilihan lain selain menuruti orang-orang ini. “Maafkan aku, Mas!” lirihku lalu menyuntikkan serum ini ke Rico. Setelah itu aku bercerita. Ya bercerita untuk memanage pikiran yang aku buat di otak Rico. Cerita itu akan dilakukan berulang-ulang sampai Rico nantinya bangun. Bahkan cerita yang dikehendaki pun harus diceritakan kembali kepadanya sampai ia benar-benar yakin. Cerita-cerita yang dikisahkan ketika dia pingsan akan membentuk sebuah ilusi di alam bawah sadarnya, sedangkan cerita-cerita yang dikisahkan sesudah ia bangun, itu untuk membentuk keyakinan di alam kenyataan. Aku pun memulai kisah yang kubuat. Kisah yang betentangan dengan kejadian sesungguhnya yang dialami Rico. Andai tidak ada paksaan seperti ini aku ingin sekali menceritakan kisah yang sesungguhnya. Kisah yang membuat kami saling mencintai dan berakhir dengan terpaksanya aku menyuntikkan serum ini. *** Dulu setelah bisa kabur dari serbuan musuh, kami berlari dan bersembunyi. Aku memutuskan untuk pergi sendiri. “Pergilah. Kamu akan mendapatkan masalah jika terus bersamaku,” kataku sembari membelakangi Rico. Pria itu masih terdiri, terdiam. Dia tak berkata apa pun selain mengatur napas. Ia sepertinya mengalami tekanan mental yang amat tinggi. “Tunggu! Siapa kamu sebenarnya?” tanyanya sembari memegangi pundakku yang hendak beranjak pergi. Aku mengurungkan niat lalu mengembuskan napas. Kurasa kami sudah aman di atas atap salah satu bangunan ini. Tak mungkin mereka akan mengejar kami, tidak dengan keributan yang sudah kami ciptakan dan polisi yang sudah berkeliaran. “Aku adalah anggota penjahat yang sedang kamu incar,” kataku jujur. Aku tak maumenutup-nutupi apa pun lagi. Terutama kepada orang yang sudah kuselamatkan. Rico mengerutkan dahi. Dari raut mukanya, aku dapat menebak ia ingin sekali mengajukan berbagai pertanyaan. Tapi entah kenapa, dia memilih diam, membiarkanku menyelesaikan cerita. “Aku adalah salah satu peneliti senjata biologis di sana. Awalnya begitu kooperatif sampai aku tahu bahwa penemuan-penemuan kami digunakan hanya untuk kepentingan perang semata. Tak ada janji-janji untuk menyembuhkan orang atau bahkan janji-janji bahwa kami akan segera dipulangkan. Tidak.” Aku menghela napas. Dengan susah payah kutahan air mata untuk tidak keluar. Aku tak mau terlihat lemah atau dianggap lemah lagi. Hanya kepada suamiku kelak, aku akan menangis sepuas-puasnya di dekapannya. Hujan kini turun lebih deras. Kami yang berada di rooftop sama sekali tak bisa berteduh. Hanya ada sedikit ruang di dekat tangga yang diayomi atap. Kami tak mungkin duduk persis di tangga. Terlalu beresiko. Jika musuh keluar dari tangga, mereka akan dengan entengnya menembaki kami. Tanpa aba-aba apa pun, kami pun berteduh bersama di atap itu. Kini aku terdiam. Lidahku terlalu kelu untuk melanjutkan. Dan terlebih lagi kini udara kian dingin, sedanga aku hanya berpakaian hem yang berbahankan kain tipis. Aku pun memeluk diriku sendiri, sedang Rico diam mematung entah apa yang dipikirkannya saat ini. Angin semakin kencang berembus. Air hujan yang semula tidak bisa menjangkau Rico dan aku, kini dengan mudahnya menyentuh kami. Alih-alih Rico memastikan keadaan agar bisa turun ke bawah, dia malah tetap diam, membiarkan derasnya air mengenai tubuhnya. “Bagaimana bisa kamu kabur dari mereka?” tanyanya tiba-tiba. Aku menghela napas. Malas rasanya menjawab. Kalau bukan karena wajah Rico yang begitu serius dan dinginnya malam, aku lebih baik diam saja. “Malam itu, malam saat kalian menyerang kami, Ando – bos kami sempat kewalahan. Dia tidak fokus dengan penjagaan. Kami para peneliti yang memang sudah ingin sekali keluar, menerobos. Beberapa dari kami ada yang tidak selamat, tapi beberapa dari kami juga ada yang selamat. Semuanya pergi begitu saja, menanggalkan setiap kontak yang berhubungan dengan gembong penjahat itu. Namun aku hafal sekali. Ando pasti tak akan membiarkan para peneliti terbaiknya pergi begitu saja. Dan saat aku pergi, aku menemukanmu jatuh dari jurang, tepat di depan mobilku.” Meski samar, aku dapat melihat seuntai senyum di wajah Rico. “Maka demi kebaikanmu, pergilah! Jangan sekali-kali kamu bersamaku.” Rico lagi-lagi tak menjawab. Ia menegakkan kepalanya, memandang langit. Angin terasa kian dingin, tapi aku tak berani turun ke bawah. Tubuhku sudah sangat lelah. Besok ketika mentari sudah terbit, aku akan segera pergi. Pergi yang jauh dari tempat ini. Dan pergi juga dari kehidupanku yang terikat dengan Ando. *** Silaunya mentari yang mengenai wajahku, membuatku terjaga. Aku langsung mengedarkan pandangan. Tidak ada orang sama sekali. Entah bagaimana ceritanya semalam aku tertidur. “Ini?” Aku meraba jaket yang menutupi tubuhku. Bau harum ini amat kukenal. Rico. Dia menanggalkan jaketnya untuk menutupi tubuhku dari kedinginan. Pantas saja tidurku bisa sangat nyenyak. Tapi tidak ada waktunya untuk menikmati keromantisan ini. Aku harus segera pergi. Aku pun memakai jaket Rico lalu buru-buru turun. Sesekali aku berpapasan dengan penghuni bangunan ini. Pandangan mereka mengikuti sampai aku menghilang. Aku sama sekali tak peduli itu, yang penting bukan Ando dan anak buahnya yang mengintai langkahku. Begitu sampai di apartemen, aku mengemasi semuanya. Tidak rapi, yang penting barang-barang yang kubutuhkan masuk ke bagasi. Setelah selesai, aku menuju bandara untuk memesan pesawat yang segera lepas landas. Ke mana pun pesawat itu pergi, aku akan menumpanginya. Semakin cepat semakin baik. Maka ketika aku mendapatkan tiket, aku langsung pergi begitu saja mengejar pesawat. Segera kucari tempat duduk lalu beralih ke kamar mandi. Bagaimana pun caranya aku harus mandi. Aku tak mau menarik perhatian para penumpang lainnya dengan penampilan acak-acak dan bau tubuhku. Saat aku membasuh muka dan membasahi tubuh dengan air yang ada di wastafel, pikiranku sedikit melayang. Aku teringat akan Rico. Pria itu meninggalkan banyak kenangan. Aku masih dengan jelas mengingat candaan Rico, helaan napasnya, dan juga senyumannya yang sehangat mentari pagi. Aku mengakui sempat membelai wajahnya saat pertama kali kubawa di ke rumah sakit. Wajahnya yang begitu tampan sangat disayangkan untuk dilewatkan. Namun semua itu hanyalah masa lalu. Aku dan dia tak akan pernah bertemu kembali. Dan sebagai catatan wanita sepertiku tak pantas menjadi istri siapa pun, karena siapa pun yang kucintai akan mati di tangan Ando.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN