Fira membelalak, melihat siapa yang datang. Ia tak menyangka para berandalan itu akan datang secepat ini. Di waktu yang tidak tepat pula.
“Siapa kalian?” bentak Rico.
Orang yang dibentak hanya tersenyum sinis. Ia kemudian bertepuk tangan kemudian duduk dan melewati Rico tanpa permisi sedikit pun.
“Fira!” dia malah meneriaki Fira yang masih setengah bersembunyi di balik daun pintu.
Fira bergidik. Ia pun perlahan menunjukkan dirinya.
“Kenapa kau tidak tanya saja kepada istri cantikmu ini?”
Rico terperangah. Ia tak menyangka apa yang selama ini ia sangka ternyata benar. Istrinya punya hubungan erat dengan alasan kenapa dirinya sama sekali tak mengingat masa lalu selain bersama Fira.
“Pergi dari sini! Atau tidak kutembak!” Fira bersikeras. Tangannya sudah memegang sebuah revolver.
“Kau berani menembakku?” orang yang tengah duduk kini bangkit. Dia menuju Fira, lalu berdiri di depannya. “Tembak!” matanya tepat di depan mata Fira.
Tangan Fira bergetar. Tubuhnya tiba-tiba bergeming. Keringat perlahan membanjiri tubuh.
“Jauhi istriku!” bentak Rico.
“Istri? Kau masih percaya dengan wanita ini?” orang yang tak diundang itu menunjuk Fira dengan entengnya. “Lihat! Dia bahkan tak berani menembak pria yang ia anggap penjahat ini!”
Kini giliran Rico bergeming. Ia tak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Lalu di tengah kebingungannya, tiba-tiba kepalanya terasa nyeri. Terlintas di sana sebuah gambaran tentang bagaimana Fira tersenyum saat memberinya sebuah obat bius.
“Oh, lihat! Apa ini?” orang itu kini mendekat ke Rico. Ia merampas sebuah serum yang berada dalam genggaman Rico.
Pria dengan tubuh tegap dan kulit cokelat itu mengangkat serum itu dan memandanginya. “Setelah sekian lama, kau masih melaksanakan perintahku untuk mencuci otaknya? Hahaha hebat!”
Sebuah desing peluru terdengar. Satu peluru terlepas dari sarangnya. Peluru itu mengenai tembok.
“Wah-wah-wah. Lihat siapa yang kini sudah berani macam-macam dengan bosnya.” Pria itu beralih mendekati Fira kembali.
Rico langsung melepaskan pukulannya. Tapi ternyata tanpa berbalik sama sekali, orang yang dilawannya berhasil menahan pukulan itu.
“Jangan campuri urusan keluarga kami!” Rico masih bersungut-sungut, meski ia tahu yang dilawannya bukanlah orang sembarangan.
Si pria tersenyum sedikit. Dengan gerakan super cepat, ia mengangkat tangan Rico lalu menghempaskan tubuhnya dengan tendangan yang telak mengarah ke perut lawannya. Rico pun menabrak tembok dan tersungkur.
Suara tembakan terdengar lagi. Fira mengarahkan tembakannya ke pria yang tak diundang itu. Lagi dan lagi, pria itu dapat menghindar dengan entengnya dan ia beralih dengan cepat lalu menghempaskan revolver dari tangan Fira. Setelah itu, ia memojokkan Fira dan memegang lehernya sembari mengangkat tubuh wanita itu ke atas.
“Kau pikir, siapa yang melatihmu selama ini, hah?” katanya dengan nada datar tetapi tatapannya begitu mengintimidasi.
Melihat itu, Rico bangkit. Ia berlari dan menendang tangan yang mencengkeram leher istrinya. Rico pun meloncat sembari berputar lalu menendang sekuat tenaga musuhnya. Orang itu pun terhempas dan menabrak kaca. Rico sekejap melihat istrinya. Ia ingin bertanya bagaimana keadaannya, tetapi logikanya menolak. Pria itu pun mengejar musuhnya yang terlontar ke luar.
Musuh Rico itu ternyata tidak terluka sedikit pun. Ia bahkan kini sudah berdiri dan menatap tajam Rico.
“Siapapun dirimu, pergi! Jangan mendekati kami lagi, atau tidak ….”
Belum selesai Rico bicara. Orang yang dilawannya sudah bergerak dan melancarkan pukulan secara bertubi-tubi. Rico langsung bersiap. Ia menangkis beberapa serangan. Sayangnya ia kalah cepat sehingga beberapa pukulan telak mengenai organ-organ vitalnya.
Menyadari lawannya sudah sedikit goyah, pria dengan tatapan mengintimidasi itu langsung menyeret lengan Rico, balik badan dan membanting Rico sekeras mungkin.
“Kau masih terlalu mentah untuk bisa menang melawanku!” pria itu pun mengakhiri pertempuran ini dengan memukul kepala Rico sampai Rico pingsan. Ia kemudian menyeret tubuh Rico untuk masuk kembali ke rumah dan menunjukkannya pada Fira.
Fira yang masih terengah-engah, buru-buru mendekat. Wajahnya pucat pasi melihat suaminya yang tak sadarkan diri. Fira bersusah payah menggapai suaminya dan pria yang tadi melawan Rico langsung melempar tubuh Rico begitu saja ke Fira.
“Bawa mereka!”
Ternyata ada beberapa orang yang bersembunyi. Mereka baru keluar ketika si penyerang menyuruhnya. Fira yang masih sesenggukan, memeluk Rico dipaksa untuk pergi. Fira pun memberontak, tapi dia tak sanggup melawan. Ketika sisa tenaganya ia gunakan agar tetap bisa bersama Rico, salah seorang dari bawahan si penyerang menyuntikkan obat bius.
“Maafkan aku, Mas. Maafkan aku!” lirih Fira.
***
Aku benar-benar tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Rico yang begitu kucintai, kini terbaring di depanku. Aku bahkan belum memastikan ia hidup atau sudah mati. Aku berteriak dan memberontak sebisa mungkin, tapi apalah dayaku. Seorang perempuan tak akan menang melawan tiga orang pria kecuali dengan cara licik.
Andai aku tak sebodoh ini. Andai aku tak membawa Rico dalam kehidupanku. Andai aku membiarkan Rico berada dalam ingatannya saja, semua pasti tak akan terjadi seperti ini.
Malam itu, setelah si bos dan yang lainnya mengetahui keberadaanku, aku dan Rico langsung berlari. Ke mana pun yang penting tidak diketahui oleh mereka. Saat itu semua masih biasa saja. Rico masih mengingat semuanya dengan jelas. Ia bahkan tak kusentuh sejengkal pun. Dia masih bersih.
Namun aku tak menyangka jika jalan cerita kami akan mengarah ke hal lain. Aku pikir setelah kabur itu, cerita kami akan usai, tapi ternyata tidak. Cerita kami tak sesimpel itu. Dan aku juga tak pernah menyangka akan menggunakan serum ciptaanku pada Rico.
Apa gunanya sekarang penyesalan itu. Lihatlah! Satu-satunya keluarga dan satu-satunya orang yang kucinta sudah tak berdaya. Mau berbuat seperti apa pun, kondisi tidak akan berubah. Tapi andai bisa. Andai bisa sekali lagi diberi kesempatan. Aku akan berbuat apa pun untuk tetap bisa bersama Rico. Apa pun. Tapi bisakah? Tapi mungkinkah?
“Fira … Fira, kamu pikir segampang itu kabur dari kami? Ingat sekali kamu bergabung, maka selamanya kamu menjadi bagian dari organisasi ini.”
Aku muak mendengar ocehannya. Aku pun melemparkan pandangan sinis kepadanya.
“Lebih baik aku mati daripada masuk ke sini lagi!” raungku.
Si bos yang kini duduk di tengah ruangan itu tersenyum.
“Aku suka. Aku suka. Tapi bukan itu penawaranku. Sekarang pilihanmu hanya tinggal dua. Membiarkan Rico mati atau membuatnya sembuh tapi dengan satu syarat.”
Sekali lagi tubuh Rico digelatakkan tepat di depanku. Aku langsung buru-buru mengecek nadinya. Ada tapi begitu lemah. Sepertinya dia juga susah bernapas. Ingin kulakukan pernapasan buatan, tapi orang-orang di sekitarku langsung mencegahnya.
“Bagaimana?”
Aku menjerit. Dengan lantang kujawab iya tanpa berpikir apa pun yang akan terjadi ke depannya. Bagiku yang penting nyawa Rico terselamatkan. Aku tak peduli dengan diriku. Hanya Rico yang kupedulikan. Ya hanya dia, maka dari itu, dia harus selamat. Harus.