Rico dan laki-laki berjaket itu saling beradu pukulan. Keduanya sama-sama gesitnya. Tidak ada satu pun pukulan yang terkena dengan telak. Masing-masing pukulan dapat ditangkis dengan mudahnya.
Rico sadar jika keadaan seperti ini, dia yang terlebih dulu akan kehabisan tenaga. Maka ketika musuhnya melancarkan pukulan, Rico langsung merendahkan tubuhnya dan dengan cepat kakinya menghantam kaki musuhnya sehingga lelaki berjaket itu jatuh. Tak hanya sampai di situ, Rico pun menjatuhkan tubuhnya dengan bertumpukan siku. Namun belum juga berhasil mengenai si musuh, lelaki berjaket itu langsung bisa menghindar dan langsung menendang tubuh Rico.
“Aku akui kehebatanmu, Rico!” teriaknya.
Yang diteriaki hanya diam. Matanya tajam melihat pergerakan musuh sementara tubuhnya yang lain bersiap melancarkan serangan. Lalu ketika ia melancarkan serangan, Rico langsung menarik lengan musuhnya untuk membantingnya. Namun ia kalah perhitungan. Musuhnya masih bisa berdiri dengan tegak setelah Rico membantingnya. Lelaki berjaket itu berputar dan menendang Rico sekuat tenaga.
Rico saat itu langsung terpelanting dan menghantam mobil. Belum juga dia sempat berdiri dan mengondisikan tubuhnya, musuhnya sudah terlebih dulu terbang dengan menginjakkan kakinya di dasbord mobil lalu memukul Rico dengan telak. Alhasil Rico pun kesulitan bernapas.
“Kau tahu? Aturan pertama dari pertarungan adalah jangan biarkan musuh membaca taktikmu!”
Rico masih terduduk. Si lelaki berjaket itu menarik tubuh Rico dan ingin segera mengakhirinya.
“Ternyata pemimpin agen mereka lemah. Pantas saja semua anggotanya mati seperti binatang-binatang tak berguna.”
Rico sadar yang dimaksud oleh orang dilawannya adalah para teman-temannya yang mati pada misi beberapa waktu lalu.
“Asal kau tahu saja. Aku menikmati setiap kali menyiksa temanmu yang melemparmu ke jurang.”
Mendengar itu, Rico mungkin teringat akan seorang rekannya yang hampir saja bisa ia selamatkan. Rico mungkin sekarang sedang berandai-andai. Andai saja saat itu jalan tidak buntu. Andai saja saat itu Rico jauh lebih kuat daripada saat ini. Dan andai saja ia bisa membaca kalau saat itu ada yang aneh, semua rekannya pasti saat ini bisa berkumpul kembali dengan keluarganya masing-masing.
“Sayangnya dia harus menderita terus-menerus karena ditinggal olehmu.”
Mata Rico membelalak. Ia baru tahu kalau rekannya itu masih hidup. Ia pun tersulut amarah. Rico bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Ia menangkis serangan musuhnya lalu menghantam dadanya dengan sikut. Belum selesai sampai di sana, agen itu menerjang musuhnya lalu menjatuhkannya bersamaan dengan menjatuhkan tubuhnya sendiri.
Si lelaki berjaket itu hendak mengangkat tangannya, tapi Rico dengan sigap menggagalkannya dengan cara mengarahkan tangan musuhnya ke arah yang tidak seharusnya. Si lelaki itu pun berteriak kesakitan. Rico menduduki musuhnya lalu memukuli wajahnya.
“Katakan di mana dia!” bentak Rico.
Musuh Rico itu malah tersenyum. Ia mengunci mulut dan itu membuat Rico semakin marah. Rico hendak memukul musuhnya lagi, tapi tiba-tiba dor! Sebuah tembakan melesat dan mengenai bahu Rico.
Aku menyadari ada yang tidak beres lalu mendekati Rico dan menembakkan revolvernya ke sumber tembakan.
“Cepat pergi!” teriaknya pada Rico.
Namun yang diteriaki tak menjawab. Aku pun menembak orang yang sedang dihajar Rico lalu berteriak kembali.
Rico pun bangun, “Berikan senjata itu padaku!” katanya.
Aku memberikannya. Rico dengan cakapnya menembak ke arah tembakan musuh lalu perlahan mundur bersama Fira.
***
Rico menghirup napas. Baru saja ia keluar dari rumah sakit, rasanya sudah selamanya dia di sana. Rumah sakit adalah rumah paling tidak nyaman di dunia ini.
Rico pun membuka jendela. Dihirupnya napas dalam-dalam udara di luar. Segarnya udara setelah disapu hujan semalam memang tidak ada tandingannya. Rico merenggangkan badan. Ia tak menyangka badannya bisa sepegal ini setelah tidur di rumah.
Hari ini istrinya masih tertidur. Rico memang sengaja melakukannya. Ia ingin mengobrak-abrik semua isi rumah. Bukan. Bukannya ia curiga kepada istrinya. Perasaan tidak mungkin berbohong. Rico menyanginya. Dia bersedia mati untuknya. Justru penggeledahan ini ia lakukan untuk membuktikan bahwa istrinya sama sekali tak bersalah.
Rico sudah menggeledah isi kamarnya semalam. Nihil. Dia tak menemukan apa pun. Setelah itu ia juga memeriksa, dapur, ruang tamu, dan ruang makan, semuanya nihil. Yang tersisa hanyalah kamar mandi. Namun dia ragu untuk memeriksanya. Pasalnya kalau saja benar di dalam sana ada sebuah obat yang mencurigakan, apakah Rico akan mengadili istrinya?
Rico memandang ke luar. Dilihatnya langit yang begitu cerah. Sebuah awan dengan santai berjalan di antara cakrawala biru itu. Tiba-tiba saja sebuah kilatan ingatan terngiang di otak Rico.
Di sebuah lapangan tembak, ia dan seorang laki-laki tengah merentangkan badan. Angin bertiup sepoi-sepoi, menggerakkan ujung-ujung rumput di lapangan itu. Matahari sudah berada di ujung kaki bukit. Tinggal menghitung waktu sampai matahari itu beralih ke belahan bumi lainnya.
“Apa harapanmu sebelum kamu mati, Ric?”
Rico tertawa, “Harapan? Mana ada harapan bagi kita yang bekerja seperti ini.”
“Kalau aku ingin sekali memiliki keluarga. Entah itu atasan setuju atau tidak.”
Hilang. Ingatan itu hilang kembali. Belum sempat Rico mengingat kapan kejadian itu berlangsung dan di mana tempatnya, ingatan itu sirna sudah. Dan Rico sama sekali tak bisa mengingat siapa lawan bicaranya.
Rico mengepal. Ia memukul daun jendela. Tidak ada waktunya untuk ragu. Sekarang atau tidak sama sekali. Lelaki itu pun membuka pintu kamar mandi lalu masuk dan menguncinya. Meski samar, Rico dapat mengingat kalau istrinya sering ke kamar mandi sebelum menyiapkan makanan.
Rico memandang sekeliling. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya normal dan tertata sebagaimana mestinya. Rico sudah melihat ke balik cermin, nihil. Melihat ke belakang closet, nihil juga. Dia pun sudah melihat ke bathtub serta wastafel, barang kali ada di sana, tapi ternyata nihil juga. Tak ada apa pun yang mencurigakan. Rico pun mengembuskan napas lega.
“Syukurlah ternyata istriku bersih,” desahnya.
Merasa bodoh dengan dirinya sendiri, Rico pun berniat membuat kejutan untuk istrinya dengan membuatkannya masakan. Sudah lama sekali ia tak menyentuh bahan atau alat masak. Terakhir kali ia memegangnya sepertinya entahlah Rico bahkan tidak ingat.
Rico mengiris bawang serta cabai. Kali ini ia memilih untuk masak yang sederhana saja. Ia takut nanti rasanya tidak keruan. Rico mengambil telur, lalu mencplokkannya di atas bumbu yang sudah matang, menambahkan nasi dan kecap. Alhasil jadilah nasi goreng.
Perlahan Rico mendekati kamar. Ia buka pintu dan mendapati istrinya masih lelap tertidur di atas kasur. Rico mengecup dahi Fira untuk membangunkannya.
“Cantik … ini sudah pagi. Ayo sarapan!”
Fira menggeliat. Ia lalu mengerjap-ngerjapkan mata. “Ini sudah jam berapa, Mas?” tanyanya sembari duduk dan menguap.
“Jam 9.”
Seketika mata Fira membelalak. “Aduh aku belum ngapa-ngapain. Atau mau makan di luar aja?”
“Tenang! Aku sudah masak, kok.”
“Heee? Tumben!”
“Ya kan istriku lagi tidur manja. Mana tega aku bangunin.”
Fira nyengir. “Masakanmu bisa di makan atau nggak? Kok aku curiga, ya.”
“Aduh capeknya punya istri durhaka gini. Sudah dimasakin bukannya berterima kasih malah ngejek.”
Fira mencium Rico. Ia benamkan seluruh cintanya pada ciuman itu lalu dengan lembut berkata, “Makasih ya, Mas!”
Rico mengangguk. Ia tersenyum lalu mengisyaratkan agar Fira cepat-cepat keluar. Fira pun mengiyakannya lalu memakai sweaternya dan keluar ke ruang makan.
Beberapa saat kemudian, Fira keluar. Ia dapati suaminya yang sudah duduk dan di depannya ada dua piring nasi goreng. Dari aromanya tercium bau enak, khas rempah-rempah dan juga bawang goreng. Kalau soal penampilan, biasa-biasa saja. Lelaki memang tak begitu peduli soal penampilan bukan?
Fira pun duduk. Ia berdoa lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Dan rasanya ….
“Mas, kamu nggak pingin nikah lagi, kan?”
“Ha?”
“Coba rasain nasi buatanmu.”
Rico yang sedari tadi sibuk menanti ekspresi istrinya dalam mencicipi makanannya, sekarang malah bingung sendiri. Ia pun menyendok nasinya lalu memakannya. Tidak perlu lama-lama wajah Rico pun berekspresi secara tak wajar. Pantas saja istrinya menanyai dia mau nikah lagi tidak. Soalnya masakan keasinan itu tanda orang ingin menikah.
“Jadi … mau sarapan di luar?” tanya Fira setengah mengejek.
Rico dengan muka sedikit masam pun mengangguk.
Fira bangkit. Ia kecup pipi Rico. “Masakanmu enak kok, Mas. Andai nggak kebanyakan garam, dua porsi pun aku habis.”
Fira pun berlalu. Ia bersiap-siap di kamarnya. Ia usap sedikit wajahnya dengan make up yang ia simpan di balik kaca hias. Rico pun masuk ke kamar. Ia merebahkan diri di kasur sembari memandangi istrinya.
“Kapan-kapan ajari aku masak, ya!”
“Buat?”
“Menang kontes masak denganmu. Ya biar istriku nggak repot, dong.”
Hati Fira tersentuh mendengarnya. Ia pun senyum-senyum sendiri. Fira sangat bersyukur memiliki suami seperti Rico. Tapi tidak untuk waktu yang lama.
Rico mengubah posisi dari yang terlentang sekarang tengkurap. Pandangannya menuju ke arah make up Fira yang disimpan di balik kaca rias. Ia merasa janggal. Ada sesuatu yang aneh di sana. Rico pun mendekati istrinya lalu memeriksa lebih jelas lagi.
“Ini apa?” Rico mengambil sebuah botol kecil berwarna putih.
“Hmm?” Fira yang masih sibuk dengan make upnya sedikit menoleh. Betapa kagetnya ia kala melihat serum White Memory berada di tangan suaminya. “Itu ….” Dia pun terbata-bata menjawab. “Itu salah satu make upku, Mas!” akhirnya sebuah alasan pun keluar dari mulutnya.
“Coba pake!” Rico yang merasa aneh dengan alasan istrinya, pun mencoba membuka botol kecil itu. Meskipun ia tak begitu paham dengan dunia permake upan, setidaknya ia tahu kalau tak mungkin ada make up dengan botol yang sekecil ini – yang mana botol ini identik dengan botol yang hanya bisa diserap cairannya dengan suntikan.
Fira terdiam. Ia menatap tajam ke suaminya. Di dalam otaknya, ia tengah merangkai bagaimana ia melawan Rico.
“Apakah obat ini, yang kau gunakan untuk menghapus ingatanku?”Akhirnya Rico langsung mengutarakan kecurigaannya.
Fira tetap diam. Lalu tiba-tiba sebuah suara dobrakan pintu terdengar.