Aku ingin segera menyuntikkannya White Memory. Rico sudah menunjukkan gejala-gejala aneh sedari dia pingsan dan demam tinggi. Apakah otaknya mulai merenspon ingatan yang lain? Kurasa tidak. Pasti ada zat penawar White Memory yang telah berhasil dikembangkan. Malam itu pasti telah terjadi sesuatu.
Karena White Memory bersifat hanya menutupi memori yang tidak diinginkan, jadi pasti penawarnya membuat selimut memori itu hilang. Dan jika selimut dari White Memory itu hilang, maka ingatan-ingatan yang dulu akan mencuat kembali.
“Bagaimana keadaanmu, Mas?” tanyaku semanis mungkin. Mana mungkin Rico aku biarkan mengetahui kecurigaanku.
“Sudah jauh lebih baik.”
Aku menelan ludah. Kini kata ‘baik’ memiliki banyak makna. Entah itu baik dalam artian tubuhnya atau baik dalam artian pikirannya.
“Kata dokter besok aku boleh pulang,” tambahnya.
Aku sedikit lega mendengarnya. Itu berarti besok aku bisa kembali menghapus ingatannya dan menjadikan hidup kami akan baik-baik saja.
Aku sangat bersyukur. Ternyata membawanya ke rumah sakit tidak begitu berdampak pada keselamatannya. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda orang yang akan merebutnya. Yah, meski beberapa ada yang mencurigakan, tetapi mereka tak melakukan pergerakan. Bahkan saat aku tinggal pun, Rico baik-baik saja.
“Kamu kok kelihatan seneng banget gitu,” ujar Rico.
“Ya harus dong. Kan suami tercinta aku mau pulang,” jawabku yang diakhiri dengan menciumnya.
“Ih nafasmu bau. Belum mandi pasti!” ejek Rico.
“Enak aja. Kamu kali yang belum mandi. Eh kayaknya malah belum mandi sejak siuman ya? Aduh bakalan tertular penyakit aku. Tolong!”
“Nggak papa. Biar sakit, sakit bareng. Kan romantis.”
Aku menyentuhkan tangannya ke dahi Rico. “Kayaknya kamu perlu di rumah sakit lebih lama deh, Mas. Otakmu sepertinya rada konslet sedikit.”
“Sejak aku ketemu sama kamu, otakku kan emang sudah konslet. Orang otak itu ibarat saluran listrik dan cintamu itu ibarat air. Jadinya konslet deh.”
“Untungnya tidak kebakar ya?”
“Kebakar kok. Kebakar api cemburu kalau kamu sama orang lain.”
“Dih, sejak kapan kamu bisa ngegombal.”
“Sejak hati dan pikiranku menghamba pada cintamu.”
Aku tergelak dan Rico pun menutup mulutku dengan ciuman manis dari bibirnya. Waktu serasa terhenti. Entah mengapa saat itu ada sensasi lain yang kurasakan dari ciuman Rico. Pria di depanku terasa sedikit asing.
“Kamu janji kan mau membantuku menemukan memoriku yang hilang?” tanyanya dengan napas yang begitu berat. Matanya tajam menusuk. Raut wajahnya berubah serius. Hawa kehadirannya pun sungguh terasa. Rico seakan mendapatkan setengah dari jati dirinya yang dulu sangat kucintai itu.
***
“Iya kamu seperti bukan perawat di sini,” ujar Rico yang masih sulit kucerna.
Aku hanya menatapnya. Tak mungkin penyamaranku terbongkar secepat ini. Tapi lelaki di depanku ini sudah mencurigaiku? Bahkan akulah orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.
“Lihat saja suster-suster di sini, mereka setiap kali bertemu denganmu, mata mereka saling bertanya. Bahkan kamu pun menunduk.”
Aku benar-benar tak bisa berkata apa pun. Rico terlalu jeli melihat keadaan di sekelilingnya.
“Atau mungkin mereka iri kalau kamu yang bertugas mengurusku di sini. Secara aku ini kan tampan,” candanya.
Raut mukaku yang sedari tadi tegang langsung mencair begitu saja. Aku pun menaikkan alisku, tak kusangka orang seperti Rico bisa juga bercanda. Kukira kehidupan polisi itu selalu saja serius. Apalagi Rico bukan sekadar polisi.
“Eh-eh apa-apa? Gimana? Kamu tampan? Kok kamu ge-er sekali jadi orang. Aku memang baru di sini, jadi wajar kalau aku belum akrab. Jadi bukannya mereka iri lihat kita berdua, lebih tepatnya mereka bertanya-tanya. Datang dari mana suster bak putri kahyangan ini?” aku menyibakkan rambutku ke belakang, berpose seperti seorang putri yang angkuh.
“Lah kamu juga ge-er.”
“Ge-er dibalas dengan ge-er dong.”
Rico tertawa. Lagi-lagi aku betah sekali melihat tawa itu. Tawa yang begitu indah seperti sebuah orkestra yang dimainkan oleh dirigen profesional.
“Sudahlah, aku mau kerja dulu. Sepertinya kamu nanti sudah bisa pulang. Jadi sampai jumpa kapan-kapan. Eh oh iya lupa. Kamu kan seorang perwira mana sempat berkunjung ke sini lagi. Jadi kuralat ucapanku, selamat tinggal,” ujarku lalu pergi.
Belum sempat aku melangkah lebih jauh, Rico menarik lenganku. “Kalau kita bisa bertemu lagi, maukah kamu menemaniku makan?”
“Kamu ngajak aku kencan?”
“Kencan? Oh tidak. Maksudku makan bersama. Aku yang traktir.”
“Ok. Hubungi aku jika kamu mau melakukannya.”
***
Aku sama sekali tak menyangka, Rico benar-benar melakukannya. Di malam yang begitu syahdu dengan ditemani rintik-rintik sendu, aku keluar dari rumah sakit. Kerjaku memang sudah beres. Begitu Rico keluar dari rumah sakit ini, aku pun ikut keluar. Mungkin suatu saat nanti aku akan benar-benar menjadi perawat, tentunya dengan jalur yang sah, bukan dengan masuk sembarangan seperti sekarang ini.
Aku pun melangkah dengan santai. Meski malam dan gerimis, aku sama sekali tak takut karena aku sudah keluar dari lingkaran setan yang benar-benar kutakuti. Jalanan sepi kali ini. Tak ada seorang pun atau taksi yang lewat. Hanya beberapa mobil dan motor yang masih terlihat melintas, itu pun aku rasa mereka terpaksa karena baru pulang seperti aku saat ini.
“Sampai kapan kamu mau kabur seperti ini?” seseorang dengan mengenakan jaket tiba-tiba hadir di belakangku.
Aku pun langsung balik arah dan memasang kuda-kuda. Dengan cepat aku mengetahui kalau orang di depanku ini adalah suruhan si bos. “Mana sudi aku kembali kepada kalian para penjahat.”
“Bos menyuruhku untuk membawamu ….”
“Aku sudah bilang aku tidak sudi.”
“Hidup … atau mati.”
Aku menelan ludah. Gerimis tak lagi terasa menyentuh kulit dengan manisnya. Otakku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk menghadapi laki-laki di depanku. Pengalaman bertarungku jauh di bawahnya. Tapi bagaimana pun lebih baik aku mati daripada dibawa ke sana hidup-hidup.
Aku bersiap. Lelaki itu pun demikian. Ia secara membabi buta langsung meringkus tanganku dan memelintirnya ke belakang. Dengan cepat tubuhku terkunci. Aku tak kehabisan akal. Kuhantam wajahnya dengan kepala bagian belakang lalu kuinjak kakinya. Begitu pegangannya sedikit kendur aku langsung melepaskan cengkeramannya dan melarikan diri.
Dengan terburu-buru aku kembali menuju rumah sakit yang jaraknya belum begitu jauh. Kuteriak berkali-kali meminta pertolongan dan yang terlihat di dalam retinaku adalah Rico yang seperti mencari seseorang dengan membawa bunga di tangannya.
Tak berpikir panjang, aku lansung bersembunyi di belakang pria itu.
“Kamu kenapa Fir?”
“Aku dikejar-kejar preman!” aku menunjuk laki-laki berjaket yang masih memburuku.
“Pegang ini! Biar aku hadapi dia!” Rico memberikan karangan bunga kepadaku lalu maju menghadapi si laki-laki berjaket. Lalu belum sempat dia berhenti, Rico langsung memukulnya dan dengan sigap si laki-laki itu menghalau pukulan itu.
“Apa ini?” laki-laki itu mendongak. Ia menatap wajah Rico lalu tiba-tiba saja ia bertepuk tangan. “Ada udang di balik batu …,”
Aku mengerutkan dahi. Untungnya kali ini bukan dalam keadaan santai, kalau ia sudah pasti kujawab pantun dia dengan kata ‘cakep’.
“Batu terbalik udang lari tanpa tanda. Aku kira aku bertemu hantu. Eh ternyata aku malah mendapat keuntungan ganda.”
“Apa maksudmu?” teriak Rico. Ia sudah siap dengan kuda-kudanya yang begitu kuat.
“Aku sudah mencarimu kemana-mana. Kau adalah ancaman bagi kami. Bukannya kau tetap sembunyi, kau malah bersama salah satu rekan kami.”
Rico melirik kepadaku. Sepertinya ia menebak-nebak siapa rekan yang dimaksud di depannya. Aku hanya bisa diam. Tak ada yang dapat kuperbuat selain menunggu keputusan Rico.