Rico siuman. Yang ada dalam retinanya hanya marmer putih. Ia ingin sekali menggerakkan tubuhnya, tapi belum sempat ia bergerak, sebuah rasa sakit yang mendera kepalanya terasa kembali.
Memori-memori dalam kepalanya silih berganti seperti rentetan cuplikan film yang tidak lengkap. Potongan-potongan suara, teriakan, ancaman, bersatu dan bergulir begitu cepat. Ingatan Rico benar-benar parah sekarang.
Terlintas di depan matanya sebuah pemandangan yang tak begitu jelas. Kadang muncul sesosok wanita yang menyeramkan, wajah-wajah yang begitu kabur, dan wajah yang terasa begitu akrab tetapi tidak dikenalinya.
Penggalan-penggalan mimpi yang selalu mengusik malam-malam Rico, perlahan kian jelas. Ia dapat merasakan basahnya hujan, perihnya goresan, dan sakitnya tubuh ketika memapah temannya untuk melarikan diri dari sebuah tempat. Baru saja Rico hendak mengingatnya secara lebih jelas, ingatan itu sirna seperti hanya asap yang numpang lewat.
Untuk sesaat, akhirnya semua kilatan-kilatan ingatan yang begitu tak teratur itu sirna. Kepala Rico juga terasa jauh membaik. Rico pun menatap sekeliling. Ruangan yang ia huni, sempurna berwarna putih. Hanya gorden yang memilik warna selain putih. Gorden itu berwarna hijau. Gorden itu dipasang di depan jendela yang sedikit terbuka. Angin segar pun keluar dari sana.
Hening benar-benar hening. Tak ada sebersit pun suara yang masuk ke kamar Rico. Perlahan Rico berganti menatap ke lain arah. Ia baru sadar kalau istrinya ternyata tengah tidur terduduk di sampingnya.
Dengan lembut, Rico mengusap ubun-ubun Fira. Tapi tiba-tiba sebuah kilatan ingatan muncul lagi. Ia melihat seorang wanita yang mirip seperti Fira menyerangnya lalu entah mengapa Rico saat itu bisa kalah dengan mudahnya. Dan sebelum Rico bisa dengan jelas melihat wajah perempuan yang menyerangnya, seberkas ingatan itu langsung menguap.
Usapan Rico yang sedikit terhentak itu, membangunkan Fira. Wanita itu mengerjap-ngerjap. Begitu ia dapati suaminya sudah siuman, ia langsung memeluknya.
“Syukurlah, Mas! Syukurlah!” tutur Fira sembari menangis.
Rico yang mendapati perlakuan istrinya seperti itu tersenyum. Ia angkat tangannya. Ingin sekali Rico membalas pelukan istrinya itu, tapi begitu ia ingat akan kilatan memori yang barusan ia dapat, Rico mengurungkan niatnya. Ia pun menurunkan tangannya.
***
“Kamu kenapa, Fir?” tanya Rico kala mendapati istrinya tengah memandang kke sebuah tempat dengan tatapan yang amat tajam.
Rico masih belum boleh pulang. Dokter mendapati adanya benturan memori yang tak biasanya terjadi. Maka dari itu, dokter menyarankan untuk tetap di rumah sakit. Fira awalnya tidak setuju. Ia berkata bisa rawat jalan. Namun ketika Rico mengingatkan bahwa penginapan mereka jauh, Fira pun akhirnya mengalah.
Fira tak menoleh sedikit pun kala Rico memanggilnya. Tatapannya masih mengarah ke sosok lelaki yang berada di lorong. Awalnya Fira mengira kalau itu mungkin saja pegawai rumah sakit, tapi ketika melihat lebih teliti, Fira mendapati sebuah kejanggalan. Pria yang berada di lorong itu terlalu sering melihat ke arah Rico dan ketika Fira memergokinya, pria itu langsung mengalihkan pandangan.
“Sayang ….” Rico mengusap wajah Fira untuk mengalihkan pandangannya. Tapi tiba-tiba Fira menangkis dan memelintir tangan Rico.
“Ya ampun, Mas!” Fira kaget kala menyadari bahwa yang ia pelintir adalah tangan suaminya. “Maaf!” sambungnya terbata-bata.
Rico menyipitkan mata. Ia pun mengembuskan napas. Walaupun dalam benaknya ia sudah tahu kalau ada yang tidak beres dengan kelakuan istrinya, Rico tetap mencoba untuk tenang. Dia akan menyelidiki ini secara perlahan. Menurutnya tidak ada yang bisa dipercayainya saat ini kecuali dokter yang memeriksanya.
“Kamu lihat apa? Serius banget gitu,” tanya Rico dengan nada setenang mungkin.
“Nggak lihat apa-apa.”
“Kalau nggak lihat apa-apa kok tegang begini.”
“Hmm … tadi ada dokter yang sekilas kudengar mau mengadakan operasi. Makanya aku tegang. Aku nggak mau kamu dioperasi. Orang kamu juga nggak kenapa-kenapa. Tapi sepertinya aku salah. Dokter itu malah melewati ruanganmu tadi.”
Rico tersenyum. Ia meraih tubuh istrinya lalu mendekapnya. “Tenanglah sayang, apa pun yang terjadi, aku akan ….” Rico tercekat dengan kata-kata yang akan ia ucapkan. Biasanya ia dengan mudah mengatakannya, tapi kini? Ia tak yakin dengan dirinya.
“Apa pun yang terjadi aku akan melindungimu.” Akhirnya Rico memilih kata lain selain ‘bersamamu’.
Fira melepaskan dekapan Rico. Ia bangkit lalu mengecup kening Rico. “Aku akan keluar sebentar,” katanya.
Beberapa saat setelah Fira keluar, dokter datang. Dia dengan ditemani oleh dua orang perawat, memeriksa keadaan Rico dan menanyainya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kondisi tubuh. Singkat dan cepat. Tapi sebelum dokter itu keluar, Rico menghentikannya.
“Dok, boleh saya bertanya beberapa hal?” tanya Rico.
“Oh ya tentu.”
“Sebenarnya saya ini sakit apa? Apakah saya mengalami amnesia?”
“Itu yang saya sedang periksa. Apakah kepala Anda pernah tebentur sesuatu dengan sangat keras?”
Rico menggeleng. Seingatnya ia bisa dengan mudah menjatuhkan dirinya dengan posisi semua tubuh menjadi titik tumpu. Sehingga kepalanya akan baik-baik saja.
“Hasil rontgen saya juga menunjukkan tidak ada tanda-tanda traumatik yang ada di kepala. Lalu apakah Anda pernah mengalami trauma? Soalnya trauma juga bisa membuat otak memudarkan ingatan.”
“Saya hanya sedikit mengingat kalau saya pernah diserang oleh orang dan berakhir jatuh ke jurang itu saja.”
“Istri Anda juga bilang seperti itu. Tapi yang saya ketahui jika pikiran yang diselimuti oleh trauma itu hanya menghapus sebagian ingatan atau tepatnya menghapus kejadian trauma itu seakan-akan tidak pernah terjadi. Saya mau tanya untuk mengindetifikasikan lebih lanjut. Apakah Anda ingat memori-memori ketika Anda belum bersama istri Anda?”
Rico menggeleng, “Saya sepertinya memiliki kecenderungan untuk selalu berhalusinasi.”
“Hmm … aneh. Saya sudah melakukan beberapa tes kemarin.”
Rico mengangguk. Ia memang telah diserbu pertanyaan oleh dokter di depannya beberapa waktu yang lalu.
“Tapi saya tidak menemukan tanda-tanda skizofrenia. Apakah Anda pernah mengonsumsi sejenis obat-obat yang bisa membuat halusinasi atau melupakan ingatan?”
Rico menggeleng.
“Aneh. Baiklah mungkin saya perlu memeriksa data Anda lagi. Semoga lekas sembuh, beberapa hari lagi sepertinya boleh pulang. Selamat siang.”
Dokter itu pun berlalu meninggalkan Rico dengan berjuta tanda tanya. Ketika ia mengingat-ingat tentang obat, seketika sekelebat ingatan muncul. Ia melihat istrinya yang tersenyum kala Rico hendak pingsan.
Rico meremas kepalanya. Ia harus mengingat semuanya atau tidak ia bisa jadi gila. Hal pertama yang harus dilakukannya sekeluarnya dia dari rumah sakit, Rico harus menggeledah isi rumah. Ia harus tahu dengan siapa sebenarnya ia selama ini tinggal. Benarkah Fira adalah istrinya yang sah? Lebih dari itu, bisakah ia memercayai Fira?
Rico pun berteriak. Terlalu banyak teka-teki yang ia dapatkan. Dan siapa orang yang menyerangnya di pantai sampai ia bisa mengingat kejadian-kejadian masa lalunya. Apa yang sebenarnya disuntikkan ke dalam tubuhnya? Ia benar-benar perlu petunjuk.
***
Di sisi lain, seorang laki-laki dengan tubuh tegap, tengah kembali. Ia memakai baju berwarna hitam dengan tag name. Wajahnya lelah. Beberapa bahkan terdapat luka lebam. Lelaki itu berjalan ke ruang tengah, ruang di mana ia biasa berbincang dengan atasannya. Misinya telah selesai.
Tak perlu perbincangan yang lama, lelaki itu menyerahkan berkas laporan, bukti, dan juga penjelasan mengenai misinya.
“Bagus. Kerjamu memang selalu memuaskan,” sanjung sang atasan.
“Baiklah, karena misi ini sudah misi ketujuh, saya mau mengambil cuti sebulan.”
“Sayangnya tidak bisa.”
Lelaki dengan wajah lelah itu langsung mematap atasannya dengan pandangan tajam. “Bapak ingin saya gila karena tidak pernah mengambil cuti. Banyak agen di sini yang bisa mengerjakan tugas.”
“Mungkin bisa. Seandainya kalau ini bukan terkait dengan Rico, aku pasti sudah menyerahkan tugas ini ke yang lain.”
Lelaki dengan wajah lelah itu langusng berubah antusias. Matanya membelalak. Ia tidak percaya dengan yang ia dengar.
“Bapak pasti bercanda. Tidak mungkin dia masih hidup.”
Atasan lelaki itu tidak bicara. Ia hanya memberikan setumpuk dokumen kepada agennya. Lelaki dengan sedikit wajah lebam itu langsung membaca berkas-berkas yang ada.
Setelah beberapa saat, si atasan mendekatkan wajahnya ke agennya. “Apakah kamu menerima misi ini?”
Si lelaki yang baru kembali itu menatap atasannya dengan pandangan yang tajam menusuk. “Saya terima!”