005 Senyum Sehangat Mentari Pagi

1130 Kata
Sesampainya di rumah, Rico tak bisa menahan lagi sakit di tubuhnya. Ia merasakan nyeri di kepala yang benar-benar tak tertahankan sampai akhirnya pingsan. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Berulang kali dia mengigau. Badannya panas. Terakhir kali aku memasukkan termometer ke telinganya, suhu tubuhnya menunjukan angka tiga puluh sembilan derajat celcius. Dia sudah kuberi obat, sayangnya obat itu sama sekali tidak manjur. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke tubuhnya. Dengan jelas aku bisa melihat luka bekas suntik di belakang tengkuk kepalanya. Ada semacam bengkak yang sangat samar di sana. Rico benar-benar tak sadarkan diri sekarang. Apakah aku harus membawanya ke rumah sakit? Kurasa tidak. Akan jauh lebih berbahaya jika dia di sana. Salah sedikit, orang-orang yang mengejarnya akan memaksanya pergi. Orang-orang seperti mereka tak segan-segan memporak-porakdakan satu rumah sakit demi tujuannya sendiri. Aku menghela napas. Kuusap dahi suamiku lalu mengecupnya. Berulang kali aku mengganti kompres sembari mengecek suhu tubuhnya kembali. Tidak ada perubahan. Rico tetap mengigau dan keringat di tubuhnya pun membanjir. Jika seperti ini terus, mau tidak mau, aku harus membawanya ke rumah sakit. Tapi apakah aman? “Ah!” aku memeras kepala. Mengapa menyelamatkannya beresiko sama besar dengan kehilangannya? Aku tak akan pernah lupa kala menemukannya pertama kali. Kala itu Rico berlumuran darah. Aku yang kala itu tengah menyetir mobil, menemukannya tergeletak di jalanan. Ia begitu saja jatuh dari tebing. Tanpa berpikir panjang, aku mengecek denyut nadi dan napasnya. Ia masih hidup. Tak berpikir lama, aku langsung membawanya masuk ke dalam mobil lalu mengantarkannya ke rumah sakit sejauh mungkin dari tempat Rico tergeletak. Aku takut kalau nanti orang yang mengejarnya bisa melacak keberadaan Rico. Memang aku memindahkannya secara tak langsung. Setelah dia agak membaik, aku memindahkannya begitu seterusnya sampai benar-benar jauh dari tempat kejadian. Aku inisiatif melakukannya karena menurutku Rico bukan orang sembarangan. Dia memakai pakaian khusus pasukan elit. Bisa jadi ia tengah diburu oleh sesuatu yang jahat. “Mas … bertahan ya!” aku mengelap peluh yang terus-menerus keluar dari keningnya. Aku masih bingung hendak membawa Rico atau tidak. Aku masih ingat benar kala Rico pertama kali siuman. Dia hanya diam sembari memandang ke luar. Matanya kosong. Wajahnya sendu. Tampak jelas guratan di sana kalau ia menyesal masih hidup. Aku mendekat dan meletakkan satu parsel buah di meja rawatnya. “Mau apel?” tawarku. Rico hanya diam. Sudah tiga hari ia tak bicara sepatah kata pun, padahal mulutnya sama sekali tidak ada yang terluka. Tanpa menunggu persetujuannya, aku membuka parsel lalu beralih ke kamar mandi untuk mencuci buah yang kubawa. “Kenapa kamu menyelematkanku?” tanyanya yang membuat langkahku terhenti. Aku pun kembali ke samping tempat tidurnya. “Karena aku seorang manusia. Dan ya sudah kewajiban sebagai manusia untuk membantu sesamanya bukan?” jawabku enteng. Tak mungkin aku mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Untuk kali pertama aku melihat Rico tersenyum. Saat itu rasanya waktu berhenti. Entah mengapa embusan angin serasa lebih segar dari biasanya. Aku mengakui baru pertama kali ini menolong orang, tapi aku tak pernah menduga kalau melihat orang yang kita selamatkan tersenyum, membuat hati begitu tenang. “Harusnya kamu biarkan aku mati saja di dalam jurang. Aku tak pantas hidup.” Senyum yang menawan itu hilang sudah. Wajah Rico kembali menjadi sendu. Ia pun membuang muka, memilih untuk melihat langit-langit daripada bersitatap dengan mataku. Aku tertegun kala mendengarnya. Benar-benar tak terbayang olehku apa yang terlintas di pikiran pemuda di depanku ini. “Aku bisa saja melakukan itu. Tapi aku tak mau mengotori tanganku lagi. Kalau kamu ingin membunuh dirimu sendiri, tolong jangan libatkan orang lain.” “Aku memang tak melibatkan orang lain. Jika kamu membiarkanku, pastinya aku akan mati.” Aku menggeleng. Kali ini aku benar-benar beranjak ke kamar mandi. Kucuci bersih buah yang aku beli lalu kembali duduk di samping ranjang Rico. “Jika kamu mati di tempat ramai, itu artinya kamu masih melibatkan orang lain,” kataku datar. Kukupas sebuah apel lalu menyuapkan satu potong ke Rico. Sayangnya Rico sama sekali tak mau membuka mulutnya. “Aih sudah kubilang. Kalau mau mati, jangan libatkan orang lain. Makan!” paksaku. Mendengar perkataanku barusan, Rico pun mulai membuka mulut. Perlahan dia mulai mengunyah apel yang kukupaskan. Setelah ia memakannya, Rico mencoba duduk. Segera kubantu ia dengan meletakkan bantal di belakang punggungnya. “Kalau dipikir-pikir di mana pun aku mati, pasti akan ada orang. Jadi singkatnya kamu melarangku mati,” ujar Rico yang disusul dengan sedikit senyuman. Aku terhenti melihat gurat manis di bibirnya itu dan tanpa kusadar, aku pun turut tersenyum. “Seorang polisi sudah pasti orang pintar,” pujiku. Rico sekarang tertawa dan aku menyumpal tawa itu dengan sebongkah apel. “Kamu lagi sakit, dilarang tertawa lebar!” candaku dan Rico pun malah tertawa lagi. *** Hari demi hari berlalu. Keadaan Rico kian membaik. Ia kini dapat pergi dengan kursi roda yang tentu saja kutolong dengan mendorong kursi rodanya. “Kenapa kamu selalu di sini?” tanya Rico. “Aku kan kerja di sini,” ucapku. Sudah jelas kali ini aku memakai seragam putih dengan ID yang sudah kubuat tentunya. Rico tersenyum. Bongkah sinar mentari yang berhasil lolos dari sela-sela dedaunan tapat mengenai wajahnya. Aku yang kala itu melihatnya benar-benar tertegun. Untuk pertama kali dalam hidup, aku baru melihat ada senyum seindah itu. Garis lengkung sederhana yang memperlihatkan deret rapi gigi Rico, membuat aku terdiam. Hati ini serasa disinari oleh cahaya mentari yang paling hangat. Tentram sekali rasanya. Jiwaku yang selama ini tertutup belenggu, serasa terbebas, melayang begitu bebas seiring dengan deru napas yang kurasa semerdu angin samudra. “Kamu ini aneh, ya! Kita belum berkenalan, tapi kamu merawatku terus. Perawat lain tentu akan sibuk dengan urusan mereka sendiri,” ujar Rico yang langsung membuatku terjatuh ke dalam kenyataan. Apakah dia? Aku buru-buru menggeleng dan mengusir pikiran aneh-aneh. Mana mungkin Rico mengetahui semuanya. Dia bukan Tuhan dan terlebih dia juga kutemukan dalam kondisi hampir mati. Aku pun melangkah ke depannya lalu duduk di tepi kolam air mancur. “Fira. Namaku Fira.” Kuangsurkan tangan untuk bersalaman dengannya. “Rico.” Dia menyalamiku. “Aku sudah tahu.” Rico mengangkat sebelah alisnya. “Kutemukan namamu di yang ada di seragammu dulu.” Senyum Rico yang sedari tadi mengembang kini menghilang begitu saja. Sepertinya ucapanku barusan mengingatkannya akan kejadian yang sampai membuatnya berakhir di jalanan. “Eh maafkan aku. Bukan maksud aku mengingatkanmu kejadian itu,” kataku terbata-bata. Rico menghirup napas dalam-dalam. “Tak apa-apa. Semenjak kamu mengatakan bahwa aku tidak boleh mati, aku merasa kamu ada benarnya. Tak mungkin temanku melemparku ke jurang kalau ingin aku mati di sana bersamanya.” “Jadi aku sudah jadi motivator hebat, dong!” aku berkacak pinggang dan Rico tertawa mendengarnya. “Iya benar. Kamu sudah jadi motivator hebat. Makanya aku curiga kamu sebenarnya bukan perawat di sini.” Senyumku langsung memudar. Aku menelan ludah. Kali ini perkataan Rico benar-benar bisa berartikan sesuatu. “Maksudmu?” tanyaku terbata-bata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN