“Kamu sudah bangun, Mas?” tanya Fira kala melihat Rico berdiri dari tempat tidurnya.
Matahari sudah sepenggalah. Biasanya Rico tak pernah bisa bangun siang. Tapi entah kenapa setelah subuh tadi, kepalanya serasa teramat berat. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi dan gagal.
“Kita ada di mana, sayang?” tanya Rico sembari memandang ke luar jendela.
Fira tersenyum. Ia pun menyuguhkan sepiring biskuit yang baru saja dibuatnya. Biskuit itu mengepulkan asap. Baunya yang wangi, menggerak-gerakkan bulu hidung Rico. Perlahan namun pasti, perhatiannya pun teralih ke biskuit yang dibuat istrinya.
“Kita kan sedang bulan madu, Mas!” tangan Fira memasukkan sebuah biskuit ke mulut Rico.
Rico mengangkat alisnya. “Bukankah beberapa waktu lalu kita sudah ….” Rico memegangi kepalanya. Rasa sakit yang berat mendera kepalanya. Fira serta merta langsung menaruh sepiring biskuitnya dan menatih suaminya ke kursi.
Fira lalu mengambilkan obat serta minyak aroma terapi. Setelah itu ia pun memijat tengkuk serta leher Rico dari belakang.
“Mas itu baru sembuh, nggak usah mikir yang berat-berat deh. Mending kita jalan-jalan, yuk!”
Rico menoleh ke belakang. Ia angkat tangan istrinya dari bahunya lalu mengecupnya. Matanya mengarah ke wajah istrinya.
“Di rumah saja, ya!” bisiknya dengan halus ke ambang telinga Fira.
Rico pun menyetel lagu di handphonnya lalu melempar handphone itu ke kursi. Rico kemudian diam. Dia menyendehkan kepalanya ke bahu istrinya kemudian mengalungkan tangannya ke pinggang Fira.
Musik pun mengalun dan tubuh Rico mulai bergerak seirama dengan irama yang ada. Matanya terpejam. Ia tak sempurna diam. Hanya tubuhnyalah yang terus bergerak ke kanan dan ke mari.
Fira pun ikut memejamkan matanya. Ia turut menyendehkan kepala ke d**a suaminya itu lalu mengikuti gerakan sang suami.
“Aku mencintaimu, Mas,” desis Fira penuh dengan perasaan.
***
“Bawa dia ke sini, hidup atau mati!” tegas Ando. Ia menyilangkan tangan di dadanya. Tanpa ekspresi apa pun, ia melihat para bawahannya yang sedang dievakuasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang bertahan hidup.
Aku terlalu meremehkannya, Ando meremas sebongkah kayu di tangannya hingga hancur. Pandangannya menusuk. Alisnya bertaut. Napasnya sedikit tak teratur. Ia benar-benar tak percaya bisa kehilangan orang sebanyak ini hanya gara-gara satu orang saja.
“Aku sendiri yang akan mengejarmu Rico Adi Saputra!” mata Ando tiba-tiba membelalak. Ia pun berbalik arah menuju mobilnya.
***
Matahari bersinar kemerahan. Setiap pilar cahayanya menghujam jernihnya air pantai di tanah selatan. Deru ombak yang besar menjadi pengiring nuansa yang sangat sempurna. Merahnya sinar senja membasuh kedua wajah Fira dan Rico. Dengan tenangnya kedua sejoli itu menatap laut berwarna jingga yang seperti tak berujung di depan sana.
Rico menatap wajah istrinya yang tengah terpejam. Kepalanya sedang menyendeh di bahunya. Ia memang merasa ada yang aneh dengan jadwal yang dibeberkan Fira. Sayangnya sekuat apa pun dia berusaha untuk mengingat, ingatan itu malah kian menjauh. Jadi ia pun memutuskan untuk melupakannya saja. Entah siapa pun Fira, faktanya ia tetap istrinya yang ia cintai. Atau setidaknya seperti itulah yang ia rasakan kini.
“Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Rico.
Fira yang sedari tadi terpejam kini membuka matanya. Retina yang berwarna biru itu kini menatap penuh wajah Rico, “Boleh, kok. Suami-istri kan nggak boleh menyimpan rahasia satu sama lain.”
Rico tersenyum. Semilir angin yang lewat menambah keteduhan raut wajahnya. “Apa yang membuatmu begitu mencintaiku?”
Fira terdiam. Ia mengalihkan pandangan ke laut. Wajah putihnya tersinari pantulan air dari laut. Rambutnya yang ikal berkibar dimainkan oleh angin senja.
“Apakah cinta butuh alasan?”
“Cinta memang tak butuh alasan, tapi cinta butuh memori dan memori itu yang tidak aku punya,” cetus Rico.
Raut wajah Fira yang tadinya tenang, kini sedikit menegang.
Rico tiba-tiba menarik dagu Fira dan menghadapkannya ke wajahnya, “Dan aku ingin mengenang setiap memori yang sudah kita lalui,” katanya yang diakhiri dengan kecupan manis di bibir Fira.
“Pasti, Mas. Pasti Mas akan mengingat itu semua. Sementara itu, mending kita buat memori baru lagi aja. Kena, kamu yang jaga.” Fira menyentuhkan ujung telunjuknya ke hidung Rico. Ia pun bergegas berdiri lalu lari sekencang-kencangnya.
Rico tergelak. Ia pun berdiri dan mengejar istrinya itu. Akhirnya mereka berdua pun berlarian di sepanjang bibir pantai. Burung camar ikut tersenyum melihat mereka. Burung-burung itu dengan senangnya terbang di atas mereka, bermain dengan angin senja yang begitu sejuk.
Fira dengan senangnya melayangkan gumpalan pasir yang ia raih kala ombak menderu ke arahnya. Pasir itu ia gumpalkan jadi bulatan lalu melemparkannya ke Rico. Bola pasir itu telak mengenai muka Rico dan membuat lelaki itu tersenyum kesal bercampur gemas lalu membasuh mukanya. Rico pun berlari dengan cepat ke arah Fira. Ia menyambar istrinya itu lalu membopongnya.
“Istriku kok berat banget ya, aku nggak kuat ngangkatnya,” kata Rico sembari menahan tawa lalu melepaskan tubuh Fira begitu saja sehingga Fira dengan mudahnya jatuh ke ombak yang sedang mendekat.
Rico tertawa puas sedang Fira dengan kesal berdiri. Ia tidak terima lalu menubruk suaminya sehingga mereka sama-sama basah kuyub.
Ketika ombak sudah kembali ke selatan, keduanya saling bertatapan. Rico dan Fira saling tertawa lalu mereka berpelukan. Fira benar-benar memeluk Rico dengan erat. Ia tak ingin kejadian tempo hari terulang kembali. Rico hanya untuknya. Tak akan ia biarkan siapa pun merebutnya.
“Mas janji kan nggak akan ninggalin aku?” tanya Fira.
“Gimana ya? Janji nggak ya?”
Fira melepas pelukannya lalu manyun sembari memelas ke arah suaminya. Rico pun tersenyum. Ia membelai rambut istrinya lalu mengecup pipinya.
“Kalau tidak dengan kamu, aku dengan siapa?”
Fira pun tersenyum. Ia memukul halus d**a suaminya itu lalu kembali bersandar di sana. Rico merangkul istrinya itu dan mengecup ubun-ubunnya. Lelaki itu pun memejam mata, membiarkan indranya yang lain merasakan kehangatan dan kemanisan suasana pantai di kala senja hari.
Tak lama matahari pun terbenam. Angin senja tak lagi ramah seperti beberapa waktu yang lalu. Tirai malam telah digelar. Bintang dengan eloknya menghiasi setiap relung angkasa. Mereka berlomba-lomba mengerlipkan cahaya yang begitu indah. Seakan tengah membisikkan pada manusia bahwa ciptaan Tuhan lebih indah daripada ciptaan manusia yang hanya berupa lampu. Begitu juga dengan takdir, takdir Tuhan itu akan selalu lebih indah dari apa pun.
Rico dan Fira kini tengah berada di sebuah penginapan. Dengan baju yang baru tentunya, mereka hendak merasakan enaknya seafood di daerah Kebumen. Harganya murah porsinya juga banyak. Tapi yang paling indah adalah nuansa yang ditawarkan. Puas dengan bersantai ria menikmati senja, sepasang suami-istri itu kini menikmati malam di samping sungai yang mengarah ke laut.
Pantai di Kebumen ini tak hanya menawarkan keindahan sunset tapi lengkap dengan keindahan alam beserta kulinernya. Rico pun memilih sebuah warung yang menjorok ke sungai. Dengan digelarnya sebuah karpet di atas batu pemagar tepi sungai, ia duduk. Fira tengah memesan makanan untuk mereka. Tiada yang lebih tepat selain memercayakan urusan makanan kepada istri yang dicinta.
“Sampai kapan kamu akan bersandiwara?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya.
Rico menoleh lalu dengan cepat si penjahat membekap mulut Rico.
“Jangan berisik, atau kuledakkan tempat ini!” ujar orang itu. Ia pun membuka jaketnya dan memperlihatkan sebuah bom yang tergantung di sana.
Dengan matanya, Rico mencoba berkomunikasi dengan orang itu. Hanya saja tak ada kata lain yang diucapkan oleh orang itu. Dia malah langsung melumpuhkan Rico dan menindihnya. Kelamnya malam, serta posisi duduk Rico yang agak menjorok ke bawah membuat orang lain tak menyadari apa yang terjadi. Lalu dengan gerakan sepersekian detik, orang itu menyuntikkan sebuah serum dan pergi begitu saja dari tempat Rico.
Fira pun datang. Dia dengan senyum indahnya mendekati suaminya yang masih setia menunggu. Perlahan ia menuruni tumpukan batu yang ditata sedemikian rupa.
“Mas?” tanyanya sedikit khawatir kala ia mendapati Rico terduduk dengan pandangan tajam mengarah ke suatu tempat. “Kamu tidak apa-apa?” lanjutnya sembari memegang pipi Rico untuk mengalihkan pandangan suaminya itu.
Rico pun menoleh. Dia tersenyum sembari berkata “Aku tidak apa-apa.” Perlahan tangannya pun menurunkan tangan Fira lalu mengecupnya.
“Kamu kok jadi keringetan gini. Apa yang terjadi?”
“Tidak ada, sayang. Aku hanya khawatir kamu kok pesennya lama banget tadi.” Rico mencoba sebisa mungkin tersenyum normal. Ia tidak ingin membuat istrinya khawatir walaupun jauh dalam dirinya tadi, ia merasa sudah ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Setelah disuntikkan sesuatu oleh orang itu, tiba-tiba saja tubuhnya serasa panas dan pandangannya mulai kabur.
Siapa dia … tanya Rico dalam hati