Put Your Head In my Shoulder

1062 Kata
Sudah basi. Sherly menggagahkan hatinya agar tidak tumbang dirayu Yoga, baginya candaan seperti itu terdengar tidak menarik. Ia hanya ikut memasak sebisanya, tak menyangka juga Yoga sangat lincah berkelana di dapur. Seandainya ikut masterchef kayaknya lolos nih. "Ah, akhirnya selesai juga. Aku juga sisakan untuk om Prima dan bibi Wulan, ayo makan," ajak Yoga. Rasanya seperti dirinya yang menjadi tuan rumah. Makan malam buatan Yoga ternyata lumayan juga, bahkan rasanya mirip dengan buatan pembantunya. Baiklah, satu kelebihan Yoga selain tampangnya adalah bakat memasaknya. Selagi makan, hanya diam di antara mereka. Sherly ingin segera selesai dari kecanggungan ini, baginya belum terbiasa ngobrol lama dengan Yoga. Si brondong berlesung pipi yang akan berjodoh dengannya. "Nanti aku yang akan cuci piringnya, kamu tidur saja." "Aku mau ke belakang sebentar, karena jarang sekali aku tidur setelah makan." Terserah, Sherly membiarkan Yoga melakukan apa saja di rumahnya, ia memilih ke dapur dan mencuci piring. Karena tak ada kerjaan dan sudah berjanji akan menemani Yoga seperti perintah papanya, Sherly ikut duduk di kursi yang berbeda di samping Yoga. Mereka sama-sama menatap langit lapang yang dipenuhi bintang, sepertinya malam ini sangat cerah, secerah masa depan calon pengantin di masa depan, begitulah yang ada di pikiran Yoga. "Tahu gak sih, langit seluas ini ternyata enggak ada batasnya. Kita pergi ke mana aja pasti tetap sama." celetuk Yoga. Sherly bukan tipe orang yang memaknai sesuatu terlalu dalam, ia hanya mengiyakan sambil menatap sekeliling. "Kenapa kamu menerima perjodohan ini? Padahal aku tahu kita tidak saling menyukai." Pertanyaan mendadak itu membuat Yoga menoleh. Sherly salah besar, karena baginya gadis itu adalah cinta pertamanya sampai sekarang. Hanya saja, Yoga tak mau mengakuinya karena pasti gadis itu akan menganggapnya sedang membual. "Aku tidak suka melawan orang tua. Aku bukan sok penurut sih, hanya saja kalau itu untuk hal yang baik kenapa tidak?" Ah, hidup Yoga terlalu lurus sekali. Tak ada pola zig-zag yang membuat Sherly ingin mengajak pria itu melawan keinginan kakek mereka. "Terserah deh, aku cuma mau bilang aku ini merepotkan. Aku gak mau kamu menyesal menikah dengan orang sepertiku." Sherly memang ingin sekali terbebas, tapi sepertinya Yoga tetap maju dengan perjodohan mereka. Lagi pula, Yoga tidak buruk- buruk amat menjadi suami. Semoga saja tidak ada yang mengkhawatirkan dari seorang brondong, karena kebanyakan pasangan yang lebih muda akan mudah ngambek dan labil. "Ah, ini sudah jam 9 malam.Tidurlah, Sher. Aku akan menunggu om Prima pulang." "Enggak usah, aku saja. Kamu mendingan yang tidur karena harus pulang pagi bukan?" nada Sherly seperti usiran secara halus, tapi Yoga sama sekali tidak sakit hati. Harus tegar dong! "Ya sudah, kita menunggu sama-sama saja. Katanya mau menonton," tagih Yoga. Benar juga, Sherly akhirnya mengajak Yoga ke ruang keluarga dan mencari salah satu CD horor yang memang belum berani ia tonton, mumpung ada temannya kan? Hei, sejak kapan Yoga menjadi temannya? Dua menit awal, Sherly terlihat biasa saja. Film adaptasi buku dari karya Sara membuat Sherly memang penasaran dengan filmnya. "Ah, yang main Prilly kan? Aku sering lihat thrillernya di beranda, kamu suka film model beginian?" "Kamu tahu Prilly ternyata, kenapa? Karena dia cantik ya?" Yoga menggeleng dan memilih fokus pada apa yang ditontonnya sekarang. Ia pun lebih merapatkan tubuhnya pada Sherly, bukan modus ya! Selama setengah jam, Sherly tak bisa berkata apa-apa selain meredam kekhawatiran karena merinding. Suara-suara anak kecil terdengar begitu menggelitik jiwanya, rasanya sangat tidak nyaman. Apakah ia takut? "Aku mau ke toilet dulu," ucap Yoga. Baru saja berdiri, Sherly menarik tangannya dengan tatapan sendu. "Aku gak mau ditinggal sendiri," rengeknya. Padahal lampu masih menyala terang benderang. "Tapi.." rasanya sudah tidak tahan, tidak mungkin juga Yoga membawa Sherly ikut masuk ke toilet bersamanya bukan? "Baiklah, aku akan menunggumu di depan pintu." Yoga hanya pasrah dan masuk ke toilet, Sherly benar-benar mengikutinya karena tak mau sendirian. Padahal yang bilang tidak takut menonton horor adalah Sherly sendiri. "Sudah selesai, ayo nonton lagi." Sherly mengutuk dirinya sendiri karena malah mengikuti Yoga ke toilet, ya gimana ya namanya aja merinding. Mereka kembali larut dalam film, ternyata menonton film membuatnya dekat dengan Sherly seperti ini. Ah, lumayan juga! Karena menonton horor harus diam dan tidak berisik, Yoga memilih mematikan ponselnya. Ia tahu kalau ibunya terus bertanya tentang perkembangan kedekatannya dengan Sherly. Tak ada lima belas menit, Sherly tiba-tiba saja menjatuhkan kepalanya di bahu Yoga. Ia lebih merapatkan tubuhnya agar gadis itu nyaman tidurnya, Yoga tak punya pilihan lain selain menjadi sandaran. Nyaman banget, nemplok kayak cicak. Tapi film masih kurang setengah jam lagi, Yoga juga tidak mungkin membawa Sherly ke kamar, meskipun ia tak akan melakukan hal yang buruk rasanya tidak pantas. Baiklah, Yoga akan menunggu om Prima pulang saja. Tepat saat Sherly sudah menikmati bantal otomatisnya yakni bahu milik Yoga, papanya masuk dan mencari keberadaan anaknya dan calon menantu. Betapa terkejutnya saat melihat Sherly tengah tidur pada bahu Yoga. "Ah, Om. Maaf, tadi aku ingin membangunkannya tapi tidak tega." "Tidak apa-apa, kamu gendong dia ke kamarnya ya. Om capek banget soalnya," bohong Prima. Wulan hanya cekikikan dan malahan usil dengan memotret Yoga yang tengah menggendong anaknya, mengirimkannya pada sahabatnya, Anggi. Melihat kamar Sherly, membuat Yoga tersenyum Gadis itu sangat menyukai unicorn dan segala jenis barang berwarna pink dan ungu, lucu sekali. Dengan hati-hati, Yoga membaringkan Sherly teramat pelan. "Kamu manis sekali kalau tidur," ucapnya. Ingin sekali Yoga melabuhkan kecupan singkat di kepala Sherly, tapi ia sadar betul bahwa itu tidak boleh dilakukan selama belum ada ikatan pernikahan di antara mereka. Ia pun kembali turun dan menemui Prima pun Wulan, mengobrol sebentar sekaligus mematikan CD. "Tempat kondangannya sangat jauh ya, Om, larut banget pulangnya." "Lumayan, tadi di sana bertemu banyak teman jadinya malah mengobrol lama. Sherly tidak menyusahkan bukan? Dia itu gadis yang manja, Om khawatir akan merepotkanmu." "Tidak masalah, aku sudah terbiasa dan akan mencoba memahaminya." "Baguslah kalau seperti itu, sudah makan malam?" kali ini Wulan lah yang bersuara, ia bangga dengan Yoga yang terlihat menerima Sherly apa adanya. "Sudah, Tante. Tadi aku juga menghangatkan untuk kalian, ada di dapur. Mau aku ambilkan?" "Kamu masak sendiri?" Yoga mengangguk. "Sherly ikut membantu." Wulan makin menganggap pria yang akan menikahi anaknya sangat kompeten dan bertanggungjawab. Ia tahu betul Yoga pasti mengatakan Sherly ikut andil, padahal Wulan tahu anaknya tidak terlalu banyak mengenal dunia dapur. Hanya beberapa masakan saja, itu pun masih menggunakan tutorial dari YouTube. "Aku akan mencicipinya nanti, sekarang tidurlah, Yoga. Besok ajak Sherly jogging, anak itu sangat jarang berolahraga." Yoga pun berlalu dan pamit ke kamar Sandy, calon kakak iparnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN