Dayu berjalan sendirian melewati koridor sekolah yang masih cukup sepi. Langkah kakinya yang gontai menggema di sana. Biasanya beberapa menit lagi, koridor itu bakalan ramai, dipenuhi oleh siswa-siswi dari seluruh angkatan. Tapi sekarang koridor masih sepi, belum ada yang datang, mungkin. Dayu tadi memang memutuskan berangkat lebih awal sekali untuk menghindari kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang sudah berani bermain tangan. Dayu menghela napasnya pelan, langkah kaki cewek itu berubah lesu. Jelas saja, memangnya ada seorang anak yang bisa biasa-biasa saja melihat betapa gila keluarganya? Dayu tidak tahu, tapi kalau dirinya, sudah pasti hancur. Memangnya apa lagi yang tersisa dari sebuah hubungan yang dibangun tanpa pondasi yang kuat, yang kapan saja bisa diterjang oleh badai besar

