Otak Gala rasa-rasanya ingin pecah. Benar ucapan Bu Sandra, kalau dia tak segera bertindak, maka gagal sudah apa yang cowok itu lakukan selama ini. Mengembus napas putus asa, Gala lantas menghela kakinya pelan. Menelusuri jalan sepanjang emperan kedai-kedai yang menjual berbagai macam makanan dan minuman itu dengan pikiran berkecamuk. Gala bingung, ini menyangkut masa depannya. Dia tidak mungkin bersikap gegabah begitu saja, terlalu banyak risiko yang ia dapatkan di kemudian hari nanti. Tadi cowok itu sempat mengusulkan untuk menunggu lima bulan lagi, tapi sepertinya Bu Sandra cukup keberatan. Memaksa Bu Sandra menerima pun sepertinya juga akan sangat sulit. Wanita itu bersikeras untuk melakukannya secepat mungkin. Ah entahlah. Kepala Gala semakin pusing memikirkannya. Lebih baik ia me

