14. Hancur

1595 Kata
"Gal, makasih buat yang tadi malam. Sori udah ngerepotin lo. Yang tadi malam di luar kendalo gue," kata Dayu pagi itu saat keduanya bertemu di koridor sekolah. "Oh, iya. Lain kali kalau mau nangis jangan di tempat kayak gitu, bahaya. Apalagi kamu perempuan," kata Gala menjawab. "Sekali lagi makasih banyak, Gal." Dayu mengurai senyum tipis pada Gala yang dibalas cowok itu dengan anggukan singkat. Setelahnya ia beranjak dari sana, meninggalkan Dayu. Sejujurnya ia cukup malu dengan Gala, tetapi sungguh yang tadi malam di luar kendalinya. Biasanya ia tidak sehisteris itu di depan orang lain, tetapi entah mengapa saat berada di depan Gala, ia ingin menumpahkan seluruh perasaan yang menderanya. "Lo tadi berangkat bareng sama Gala?" tanya Melysa sambil menepuk bahu Dayu. Ia tadi sempat melihat Gala dan Dayu mengobrol bersama. "Hah, apa?" respons Dayu bingung, ia tidak begitu mendengarkan pertanyaan Melysa. Melysa berdecak, "Lo tadi berangkat sama Gala? Gue tadi lihat lo bareng sama dia," katanya. "Oh itu, enggak kok. Tadi ketemu di koridor aja dan gue cuma mau ngucapin terima kasih aja." "Oh, kirain. Gue pikir lo udah deket sama dia," kata Melysa yang dibalas senyum tipis oleh Dayu. Keduanya pun beriringan berjalan menuju kelas mereka. Kebetulan hari ini keduanya piket, sehingga agenda pagi sebelum pelajaran dimulai, dua gadis itu akan membersihkan kelas terlebih dahulu. *** Setelah kejadian pelukan malam itu dan obrolan di pagi hari setelahnya, entah mengapa Dayu dan Gala menjadi semakin banyak terlibat dalam kondisi dan waktu yang sama, meski tidak benar-benar berdua. Seperti sore ini, keduanya tengah membimbing adik kelas mereka yang akan mengikuti olimpiade, Gala dengan pelajaran kimianya dan Dayu dengan biologi. Otomatis hal ini membuat Dayu tidak lagi datang ke rumah cowok itu sebagai pembantu seorang Keenan. Ia sudah dibebastugaskan karena beberapa hal. Meski kemarin Gema dan Gena sempat meminta maaf padanya, kedua anak itu tetap melakukan hal yang nakal. Namun, tidak separah kemarin. Dan hal itu membuat Keenan mau tidak mau memutus kesepakatannya dengan Dayu untuk tidak menjadikan gadis itu sebagai babunya lagi. "Oke, bimbingannya hari ini udah dulu, ya? Kita bahas lagi soal-soalnya besok. Hati-hati pulangnya, udah mau magrib," ujar Dayu menutup bimbingannya sore itu, begitu pun dengan Gala yang sudah selesai sejak tadi. Cowok itu tengah membereskan buku-buku kimianya yang tebal dan juga lembaran kertas berisi banyak hitungan. "Mau pulang sama saya?" tawar Gala dengan tasnya yang sudah tersampir di bahu. Dayu yang sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas jelas terkejut. Ia bahkan sampai mendongak, menatap Gala dengan mata yang tak mengedip. Benarkah yang barusan berbicara cowok itu? Ia tidak salah dengar, kan? Seorang Gala mengajaknya pulang bersama? "Hah? A-apa?" tanya Dayu gagap. Gala terdengar mendengkus. "Kamu mau pulang sama saya? Udah mau sore, jam-jam segini lumayan susah kalau cari kendaraan," katanya. Dayu berkedip beberapa kali. Ia tidak salah dengar dan Gala benar-benar mengajaknya pulang bersama. "I-iya, bentar. Gue beres-beresin dulu ini," ujarnya dan buru-buru memasukkan seluruh peralatan belajarnya di tas. Dan sore itu, ia benar-benar pulang dengan Gala. Meski ia tidak tahu motif pemuda itu mengajaknya pulang bersama karena apa, tetapi ia cukup senang. Catatan lagi untuk perkembangan hubungannya denngan Gala; mereka pulang bersama, Gala memboncengnya, dan ia berpengangan pada pinggang laki-laki itu. Di lain sisi, Gala sengaja mengajak gadis itu pulang bersama karena ia tahu tidak jauh dari posisi sekolah mereka, sedang ada tawuran. Bu Sandra yang tadi mengabarinya untuk lebih berhati-hati. *** "Gal, gimana? Kamu setuju, kan?" Bu Sandra yang duduk di bangku depan Gala, menatap Gala penuh harap. "Masih saya pikirkan, Bu. Lagi pula saya masih sekolah, kan? Terlalu banyak risiko kalau kita gegabah." Gala menjawab dengan sopan, sebelum mengambil secangkir teh hijau di hadapannya lalu menghirup aroma yang menguar, untuk memberikan kerileksan di otaknya. "Tapi kita juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi Gala." "Lima bulan, Bu. Bukan waktu yang lama, tunggu saya lulus." Cowok itu menyesap minumannya dengan tenang. "Terserah kamu. Tapi konsekuensinya, mungkin kita akan gagal. Dan semua yang kita lakukan selama ini akan berakhir sia-sia." Gala termenung dan otak cerdasnya mulai memikirkan topik yang menjadi pembicaraamnya dengan Bu Sandra itu. *** "Mel, udah dong, ini kita udah sejam keliling mal, tapi nggak ada yang mau lo beli," komentar Dayu dengan wajah masamnya pada Melysa. Di Minggu pagi ini, Melysa meminta untuk menemani membeli tas sebagai hadiah ulang tahun ibunya. "Sabar Daaaay, gue juga lagi nyari yang bagus dan pas di kantong gue," kata Melysa yang berjalan di depan sembari mengedarkan matanya ke sekeliling. "Ya gimaba bisa pas ke kantong lo yang cuman anak sekolahan kalau yang lo masukin itu store-store gede yang udah punya nama, yang mana barang-barangnya gak ada yang murah," ujar Dayu. Keduanya terus mengobrol, sampai di mana Dayu tiba-tiba berhenti berbicara dengan mata fokus ke depan. "Day, kenapa? Ada masalah?" Melysa bertanya, lalu mengikuti arah pandang Dayu. Ia mengernyit sebentar, sebelum menatap lebar-lebar pemandangan di depannya. Dengan emosi yang sudah meluap, Dayu melangkahkan kakinya dengan mantap menuju kedua orang yang berada di depannya persis. Cewek itu sudah berusaha mengontrol emosinya yang meluap, tetapi ternyata ia tak cukup mampu. "Pa!" seru cewek itu setelah sampai di hadapan ayahnya yang tengah berangkulan mesra dengan sosok wanita muda yang tampak menggoda dengan balutan dress ketat di atas lutut, juga belahan baju yang cukup rendah, memamerkan aset tersembunyinya. Dayu tidak tahu siapa wanita itu, tapi yang pasti ia merasa sangat familier dengan wajah berpoles makeup tebal namun terlihat sangat pas di wajahnya yang cantik. Ia kemudian terdengar mendengus prihatin, meratapi betapa buruk hidupnya. Tempo hari ayahnya sudah menuduhnya macam-macam yang mana sangat melukai hatinya, dan hari ini ia malah mendapati pria itu bermesraan dengan wanita lain yang bukan ibunya. Ia tahu tidak pernah ada rasa cinta di antara kedua orang tuanya, tetapi ia tidak menyangka akan melihat salah satu di antara mereka berselingkuh tepat di depan matanya. "Kamu?" Dayu mengangguk dengan senyum miris yang terpatri. "Iya, Pa. Ini aku." Dayu mencoba mempertahankan suaranya agar terdengar biasa saja, meski usahanya itu berakhir sia-sia. Cewek itu kemudian mengalihkan tatapannya pada wanita yang masih bergelayut manja di lengan sang papa. Dayu benar-benar merasa tidak asing dengannya, wanita itu terasa sangat familier di netranya. Cewek itu kemudian mencoba memutar memorinya, mengingat dengan pasti siapa sosok yang menjadi simpanan sang Ayah dan menatapnya dengan intens. Atensinya benar-benar tersita pada wanita muda itu. Dan pada akhirnya, setelah sekian detik, Dayu mengingat siapa dia. Cewek itu lantas menyunggingkan seulas senyum miris. "Oh, lo. Gue inget. Hani, kan?" "Hani?" lafalnya sekali lagi. "Gue inget banget siapa lo. Yang pas kenaikan kelas sebelas, lo dikeluarin itu kan, gara-gara hamil di luar nikah? Gimana kabar anak lo sekarang?" "Grezzitha, apa-apaan kamu?" Suara berat ayahnya terdengar menginterupsi. Cewek itu lantas mengalihkan tatapannya pada sang ayah, lalu kembali menyunggingkan senyum manis yang dibuat-buat. "Kenapa, Pa? Aku kan cuma mau tanya gimana kabar dia. Papa nggak perlu marah gitu. Protective banget sama dia, sama aku yang anaknya nggak pernah kayak gitu." Dayu menatap datar sang ayah, ia semakin muak saja dengan laki-laki itu. Ayah Dayu kini memelototi putrinya itu dengan tatapan yang sangat tajam. Tapi Dayu tidak peduli, dia masih melontarkan kata-kata bernada halus tetapi cenderung pedas padanya, tak berhenti menyindirnya dan menyinggung dengan ucapan pria itu kemarin. "Papa bilang aku kayak Mama kan ya, yang suka main-main dengan banyak laki-laki. Padahal Papa dan Mama sama aja, bahkan mungkin Papa lebih parah. Kalian semua kotor, sangat kotor." "Dayu!" Ayahnya berseru dengan murka. "Jaga omongan kamu yang lancang itu! Papa nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu!" Dayu menatap ayahnya masih dengan lagak tenang, meski tak dapat dipungkiri, ada emosi besar yang mengukung jiwa cewek itu. "Haha, lucu. Kalau Papa lupa, Papa nggak pernah ngajarin aku. Boro-boro ya, kita ngobrol dengan tenang aja hampir nggak pernah." Dayu tertawa miris di akhir kalimatnya. Ayahnya tak berucap apa-apa, tapi tubuhnya lah yang merespons kata-kata putrinya. Beliau menampar Dayu dengan tenaga yang cukup kencang hingga membuat tubuh cewek itu terpelanting ke samping sebelum jatuh ke lantai mal. Hal itu sontak berhasil menyita seluruh pasang mata orang yang berlalu-lalang di sana. Bahkan, ada yang sampai mengabadikannya dalam ponsel. "P-Pa..." Dayu mendesis kesakitan. Ia merasakan rasa amis yang mengalir dari bibirnya yang sudah pasti sobek. Cewek itu kemudian mendongak, menatap sang papa dengan mata berkaca-kaca. "P-Papa, Papa nampar aku?" Oksigen yang mengalir di seluruh pembuluh darah Dayu seolah berubah menjadi racun mematikan yang meracuni setiap sel darahnya. Tak sadar, air mata yang cewek itu berusaha bendung luruh, membasahi pipinya itu. Ia tidak menyangka pria itu akan menamparnya, dan itu di depan umum. Di depan banyak orang. Rasa sakit yang ia rasakan di pipi dan sudut bibirnya bahkan tidak mampu mengalahkan rasa sakit di hatinya. Dayu berdiri dengan tubuh yang bergetar hebat, ia menggeleng pelan. Cewek itu memutar tubuhnya, dan melangkah dengan tubuh gontai meninggalkan tempat ayahnya itu dengan langkah cepat, bahkan beberapa kali ia menabrak orang lain. Ia tidak peduli, ia tidak peduli bahkan pada Melysa yang terus meneriakkan namanya di belakang sampai akhirnya Melysa gagal mengejarnya. Hati Dayu sakit, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremasnya lalu menusuk-nusukinya dengan belati tajam. Dayu mengepalkan tangannya erat, hatinya sakit, sangat sakit. Dayu keluar dari mal itu, ia tidak tahu harus melangkahkan kakinya ke mana. Cewek itu memilih mendudukkan dirinya di tepi jalan dan menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan tangisan di antara lekukan tangannya yang ia tumpukan di atas paha. "Dayu?" Seseorang menyapanya. Dayu mendongak dan melihat Gala yang mengenakan pakaian kasual tengah berdiri menjulang tinggi tak jauh darinya. "Gala!" Dayu langsung bangkit dan memeluk tubuh cowok itu, kembali menumpahkan tangisnya di hadapan cowok itu. Gala yang mendapat pelukan secara tiba-tiba itu hanya mampu diam. Cowok itu sama sekali nggak tahu apa penyebab Dayu sampai menangis seperti itu lagi. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN