Waktu yang tidak pernah salah

377 Kata
Bab 11: Waktu yang Tidak Pernah Salah ±1.150 kata Pagi itu, kota masih terbangun perlahan dari tidur malamnya. Kabut tipis menyelimuti jalan-jalan kecil di sekitar rumah Elira. Udara pagi segar membawa aroma tanah basah dan daun pisang. Elira duduk di teras rumah nenek, menyeruput teh hangat sambil melihat seorang pria muda berjalan pelan melewati gang. Ia mengenali sosok itu dari jauh—Rafi, teman lama yang dulu sering mengantar mereka pulang sekolah, juga pernah diam-diam menaruh hati pada Elira. Rafi tersenyum dan melambai kecil. “Elira! Sudah lama sekali.” Elira membalas senyum itu, hatinya terasa hangat. “Rafi, kamu di sini?” Mereka berbincang sebentar. Rafi bercerita bahwa ia kembali ke kampung setelah bertahun-tahun tinggal di kota besar, mencoba mencari makna hidup yang sesungguhnya. --- “Kadang waktu itu, memang seperti rindu yang tak terucap,” kata Rafi pelan. “Aku pikir aku harus pergi jauh dulu, baru bisa tahu arti sebuah pertemuan.” Elira mengangguk, menyadari bahwa setiap orang punya jalannya sendiri untuk menemukan apa yang mereka cari. “Tapi aku senang bertemu kamu lagi,” lanjut Rafi. “Mengingat masa lalu itu selalu bikin hati adem.” Elira tersenyum, memandang langit pagi yang mulai cerah. “Kadang waktu itu nggak pernah salah, Rafi. Dia hanya menunggu kita untuk siap.” --- Mereka berjalan bersama menyusuri gang, berbagi cerita tentang hidup yang berubah, mimpi yang tertunda, dan harapan yang tetap hidup. Elira tahu, meski banyak yang berubah, ada satu hal yang selalu sama: kemampuan waktu untuk membawa kembali hal-hal yang pernah hilang. Rafi berhenti sejenak, menatap Elira dengan mata penuh pengertian. “Jangan takut pada waktu, Elira. Dia bukan musuh, tapi sahabat yang kadang tersamar.” --- Ketika mereka berpisah, Elira merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Waktu yang membawa Aldian kembali, waktu yang mempertemukannya dengan Rafi lagi… semuanya seakan memberi pesan bahwa cinta dan pertemuan itu punya waktunya sendiri. Elira menulis dalam buku hariannya malam itu: > “Waktu tidak pernah salah dalam memilih, dia hanya sabar menunggu yang tepat tiba. Dan di antara segala kemungkinan, kita menemukan cerita yang paling indah— cerita yang sudah lama disusun langit untuk kita.” --- Kutipan Bab 11: "Percayalah pada waktu, karena dia mengerti lebih d alam dari siapapun tentang kapan hati harus bertemu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN