Bab 10: Sepiring Gorengan dan Sore yang Sama
±1.180 kata
Langit sore itu nyaris serupa dengan sore-sore dua belas tahun lalu. Cahaya kuning keemasan menyusup di antara celah pohon kelapa, menggambarkan bayangan panjang di tanah. Suara penjual keliling terdengar samar, seperti suara kenangan yang tak mau benar-benar hilang.
Elira duduk di warung kecil di ujung gang. Warung itu milik Bu Rum, seorang janda tua yang dulunya sering jadi tempat mereka nongkrong sepulang sekolah. Warungnya sederhana: satu meja panjang, dua bangku kayu, dan sepiring gorengan yang selalu baru digoreng walau tidak pernah habis.
“Masih suka bakwan?” tanya Bu Rum sambil tersenyum, meletakkan sepiring penuh di atas meja.
“Suka, Bu. Apalagi yang dibikinin sama tangan Bu Rum,” jawab Elira ramah.
“Waktu itu kamu sama Aldian kalau datang ke sini, suka rebutan gorengan terakhir. Sekarang ketemu lagi, masih rebutan juga?” gurau Bu Rum sambil terkekeh.
Elira tertawa kecil, menatap gorengan yang menguap pelan. Hatinya juga begitu: panas perlahan, tapi menghangatkan.
---
Beberapa menit kemudian, Aldian datang menyusul. Ia masih mengenakan kemeja putih sederhana, dengan lengan tergulung sampai siku. Matanya langsung mencari Elira di sudut warung dan duduk tanpa banyak basa-basi.
“El, tahu isi,” katanya sambil mengambil satu.
“Kamu gak berubah,” gumam Elira sambil tersenyum.
Aldian mengunyah pelan, lalu menatap wajah Elira yang tertimpa cahaya sore. “Banyak hal di dunia ini berubah, El. Tapi selera pada hal yang sederhana… kayaknya tetap.”
Mereka makan dalam diam. Tapi diam mereka tidak hampa. Justru penuh. Terlalu penuh oleh ingatan, rasa syukur, dan sedikit canggung yang tidak ingin dibuang begitu saja.
---
“Aku pernah duduk di sini sendiri. Dua kali,” kata Elira akhirnya. “Tahun ketiga kamu hilang kabar, dan tahun ketujuh.”
Aldian menunduk, meletakkan gorengan yang tinggal setengah. “Kenapa kamu gak hubungi aku waktu itu?”
Elira menatap jalanan di depan mereka. “Aku gak tahu harus berharap apa. Dulu aku pikir... kalau memang harusnya kita bertemu lagi, dunia pasti mengaturnya. Tapi saat aku duduk di sini, sendiri, aku sadar satu hal.”
“Apa?”
“Bahwa gak semua pertemuan harus direncanakan. Kadang, yang paling jujur justru yang datang tanpa skenario.”
Aldian mengangguk pelan. “Aku waktu itu juga duduk di tempat yang sama. Tapi beda hari, beda tahun. Kamu gak tahu.”
---
Suara sepeda lewat, anak-anak kecil tertawa di ujung gang. Suasana sore terasa ringan, seperti angin yang baru saja menyelesaikan perjalanan jauh dan memutuskan untuk berhenti sebentar.
Elira mengambil satu tempe goreng, lalu bertanya pelan, “Dian, kamu pernah nyoba jatuh cinta lagi?”
Aldian menghela napas pelan. “Aku pernah mencoba menyukai orang lain, iya. Tapi jatuh cinta? Nggak. Karena aku nggak pernah benar-benar bangkit dari cinta yang terakhir.”
Elira menatapnya dalam-dalam. Matanya tidak bicara, tapi dadanya bergemuruh. Ia tahu, cinta yang lama itu tidak perlu digembar-gemborkan untuk dibuktikan. Kadang cukup dengan satu gorengan di sore yang sama.
---
Sebelum pulang, Bu Rum mendekat dan memberikan sebungkus kertas minyak. “Ini buat kalian. Gratis. Kalian dua, dari dulu, selalu bikin sore saya terasa muda.”
Elira tertawa. “Makasih, Bu. Tapi jangan-jangan nanti Bu Rum bangkrut karena nostalgia.”
Bu Rum menggeleng. “Bukan nostalgia, Nak. Tapi cinta yang gak banyak omong.”
---
Sore itu mereka berjalan berdampingan menyusuri gang kecil, dengan sebungkus gorengan di tangan dan sejuta tanya yang tidak perlu dijawab. Kadang cinta itu tidak perlu dijelaskan, hanya cukup disaksikan.
Sampai di ujung gang, Elira berhenti dan menatap Aldian.
“Aku pulang ya, besok mungkin ke rumah nenek lagi,” katanya.
Aldian mengangguk, tapi tidak segera beranjak.
“Kalau kamu datang, bawa cerita baru,” sambung Elira sambil tersenyum. “Tapi jangan terlalu panjang. Aku lebih suka cerita yang pendek tapi penuh rasa, kayak sepiring gorengan ini.”
---
Malam harinya, Elira kembali menulis:
> “Cinta lama itu seperti gorengan sore,
tidak selalu harus panas untuk tetap nikmat.
Kadang cukup tahu bahwa ia masih ada…
Dan masih terasa sama.”
---
Kutipan Bab 10:
"Beberapa rasa tid
ak pernah berubah… bukan karena waktu berhenti, tapi karena hati tahu ke mana harus kembali."