Kamar yang tidak pernah di renovasi

594 Kata
Bab 9: Kamar yang Tidak Pernah Direnovasi ±1.120 kata Malam itu hujan reda lebih cepat. Langit gelap menggantung tanpa bintang, tapi udaranya lembut dan menenangkan. Elira berjalan pelan menyusuri lorong rumah neneknya, rumah yang kini diwarisi oleh keluarganya namun dibiarkan tetap seperti dulu. Tanpa banyak renovasi, tanpa banyak perubahan. Seolah waktu berhenti di sini. Ia membuka pintu kayu tua yang berderit itu—kamar lamanya. Masih ada bau buku-buku tua, cat tembok yang mulai pudar, dan tirai kain tipis yang tidak pernah diganti sejak ia SMP. Di dalam kamar itu, semuanya seperti menyapanya kembali. Kasur tipis beralaskan sprei motif bunga, lemari kecil di pojok kanan, dan papan gabus penuh dengan foto serta kertas tempel. --- Ia menyentuh foto yang paling tua—foto dia dan Aldian saat masih berseragam putih biru. Elira tersenyum kecil. Matanya menangkap sebuah tulisan kecil yang ia tempelkan sendiri dahulu: "Kita akan jadi orang hebat, dan dunia akan iri pada kita." “Elira?” Suara dari luar kamar mengejutkannya. Aldian berdiri di pintu, menatapnya dari balik daun pintu yang setengah terbuka. “Kamu masih ingat tulisan itu?” tanya Elira, menunjuk ke papan. Aldian tertawa kecil. “Aku yang minta kamu nulis itu, ingat nggak? Aku bilang, suatu hari kita bakal punya cerita hebat buat anak cucu kita.” Elira mengangguk pelan. “Lucu ya, dulu kita ambisius banget. Padahal... jadi tenang aja udah cukup hari ini.” --- Aldian masuk, duduk di kursi dekat meja belajar yang sudah kusam. Ia membuka laci meja dan menemukan kertas bergambar hati yang setengah robek. “Ini coretan kamu waktu kita ribut soal siapa yang harus kuliah di luar kota,” katanya sambil menunjukkan gambar itu. Elira tertawa, tapi matanya berkaca-kaca. “Aku kira kamu buang semua itu.” “Aku? Buang sesuatu yang kamu buat?” Ia tersenyum kecil. “Bahkan kertas ujian Matematika kamu yang kamu bilang ‘malu’ masih aku simpan.” Mereka tertawa. Tertawa kecil yang tulus. Bukan karena lucu, tapi karena mereka merasa kembali ke waktu yang sederhana. Ketika cinta itu ringan dan tidak rumit. Hanya perlu dua orang yang saling percaya. --- Elira duduk di pinggir tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang retak halus. “Kamar ini tidak berubah sama sekali,” katanya. “Karena yang paling indah itu, kadang yang tidak pernah kita sentuh,” jawab Aldian pelan. “Yang kita biarkan tetap seperti pertama kali kita jatuh cinta padanya.” Elira menoleh, lama menatap Aldian. “Dian, kamu nggak takut… kalau aku berubah?” Aldian menjawab dengan tenang, “Kamu boleh berubah seribu kali, El. Tapi setiap versi kamu… tetap kamu. Dan aku jatuh cinta bukan pada satu versinya saja.” --- Suara jangkrik di luar mulai menguat. Malam seperti menarik waktu untuk berhenti sejenak. Elira berbaring di kasur, menatap langit-langit dengan tangan di atas d**a. “Kita ini bukan cinta pertama,” katanya pelan. “Tapi bisa jadi cinta terakhir,” balas Aldian sambil berdiri dari kursi dan berjalan ke arah pintu. “Kalau kamu izinkan.” Elira tidak menjawab, hanya menutup matanya perlahan. Senyum kecil terlukis di bibirnya. Tidak perlu kata cinta. Karena malam itu sudah cukup menjelaskan semuanya. --- Beberapa menit kemudian, ia bangun lagi dan membuka jendela. Udara malam masuk dengan tenang. Ia kembali menulis di buku catatannya: > “Kamar ini tidak pernah direnovasi, Seperti hati yang tetap percaya bahwa seseorang akan kembali. Tidak perlu sempurna, cukup membawa ingatan yang tidak pernah pergi.” --- Kutipan Bab 9: "Beberapa kamar tidak butuh perabot baru, karena kehangata n yang pernah tinggal di dalamnya… sudah cukup jadi alasan untuk tetap pulang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN