Bab 8: Angin Sore di Bukit Cemara
±1.120 kata
Udara sore menyapa lembut saat Elira dan Aldian berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak ke arah Bukit Cemara. Tempat itu dulu sering menjadi pelarian mereka dari bisingnya rumah, meski rumah mereka tidak pernah benar-benar bising. Hanya kadang hati yang terasa penuh dan butuh tempat bernafas.
“Masih ada ya bangku kayu di sana?” tanya Elira sambil menyesuaikan langkah dengan semilir angin yang membawa aroma pinus dan tanah lembab.
“Kalau nggak patah dimakan waktu, mungkin masih,” jawab Aldian, setengah tertawa.
Langkah kaki mereka menyusuri rumput basah dan dedaunan yang berguguran. Tidak ada kata-kata besar di antara mereka, hanya kalimat-kalimat kecil yang ditenun perlahan menjadi kedekatan.
---
Sesampainya di atas bukit, bangku kayu itu masih ada. Usang, berlumut di sisi kaki, dan satu sisi sandarannya retak. Tapi tetap berdiri. Seperti mereka. Bertahan dalam sunyi yang panjang.
Elira duduk pelan, menyentuh kayu yang dingin. “Di sini pertama kali kamu bilang kita terlalu muda buat menikah,” katanya dengan nada menggoda.
Aldian tertawa pelan. “Dan kamu marah besar, bilang kamu bisa nyuci baju dan masak nasi sendiri.”
“Aku pikir itu sudah cukup jadi istri,” ucap Elira sambil tersenyum. “Lucu ya... kita benar-benar pernah berpikir dunia bisa kita kendalikan dengan cinta dan dua piring nasi goreng.”
---
Angin sore bertiup, membawa guguran daun cemara ke tanah. Elira merapatkan jaketnya, sementara Aldian menatap cakrawala yang perlahan berubah warna.
“Dian,” suara Elira melembut, “kenapa kamu nggak pernah nyari aku?”
Aldian diam. Lama.
“Aku mencarimu,” katanya akhirnya. “Tapi bukan di tempat yang bisa kulihat. Aku mencarimu di tempat kita pernah tinggal... dalam lagu yang kita dengar, dalam gerimis sore, dalam senyuman orang yang lewat. Tapi aku tahu... kalau kamu memang jodohku, Tuhan pasti punya cara yang lebih elegan dari sekadar pencarian.”
Elira menunduk. Kalimat itu lebih dalam dari yang bisa ia sangka.
“Dan sekarang kamu yakin?” tanyanya.
Aldian menoleh. “Sekarang aku bahkan tidak perlu yakin. Aku hanya... merasa pulang.”
---
Matahari mulai turun perlahan, langit berubah menjadi lukisan jingga kebiruan. Elira berdiri, berjalan ke bibir bukit, memandang desa dari ketinggian. Rumah-rumah terlihat seperti serpihan kenangan, ladang dan jalan menjadi garis-garis cerita yang tak putus.
“Aku sering membayangkan kamu duduk di bangku ini sendirian,” kata Elira. “Membayangkan kamu masih menungguku, walau mungkin tidak lagi mengharapkanku.”
Aldian tersenyum. “Aku memang sering di sini. Tapi bukan untuk menunggumu. Aku datang untuk menunggu hatiku reda.”
“Dan sekarang?” tanya Elira.
“Sekarang aku tidak perlu menunggu,” jawab Aldian. “Karena kamu sudah di sini.”
---
Mereka kembali turun dari bukit saat senja semakin pekat. Langkah mereka lambat, seperti ingin memperpanjang waktu bersama, meskipun tak ada yang benar-benar mereka katakan. Dalam diam itu, banyak hal telah selesai, dan banyak hal baru telah dimulai.
Sebelum mencapai jalan rumah, Elira berhenti. Ia menoleh pada Aldian.
“Aku ingin bangku itu tetap di sana.”
Aldian mengangguk. “Kita bisa memperbaikinya. Bareng.”
Elira tersenyum kecil. “Nggak usah. Biarkan retaknya di sana. Bukti bahwa sesuatu yang retak tidak selalu harus diganti. Kadang cukup dibiarkan apa adanya, karena ia pernah jadi saksi.”
---
Malam hari, saat hujan mulai turun pelan, Elira menulis lagi di bukunya:
> “Aku tidak kembali untuk jatuh cinta lagi,
Tapi untuk menyadari bahwa cinta itu tidak pernah benar-benar pergi.
Bukit itu tidak berubah,
Seperti hatimu.
Tidak sempurna, tapi tetap menunggu dengan tenang.”
---
Kutipan Bab 8:
"Cinta yang tenang tidak ber
lari mengejar, ia diam di tempat yang sama... menunggu waktu kembali membawa arah."