Kayu tua di toko ayah

810 Kata
Bab 2: Kayu Tua di Toko Ayah Langkah kaki Elira bergema pelan di atas lantai kayu bengkel itu. Debu masih setia tinggal di sudut ruangan. Aroma getah kering, serbuk kayu, dan sedikit jejak kopi hitam yang basi—semuanya membentuk semacam nostalgia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. "Masih seperti dulu," gumamnya lirih sambil menyentuh meja kerja yang penuh gores. Aldian berdiri tak jauh darinya. Ia hanya memandangi perempuan itu dari belakang—rambutnya yang dulu panjang kini dipotong rapi. Lebih dewasa. Lebih tenang. Tapi sorot matanya tetap seperti masa lalu: jujur. "Aku tidak pernah ubah apa pun," kata Aldian akhirnya. Elira menoleh, senyumnya ringan, “Bengkel ini, bahkan debunya seperti setia...” Aldian mengangguk pelan, “Di tempat ini, waktu tidak terlalu penting. Yang penting cuma perasaan saat memahat.” Ia berjalan mendekat, lalu menarik kain penutup dari pahatan yang hampir selesai. Sosok perempuan duduk bersimpuh, satu tangannya memegang bunga kamboja. Elira terpaku. Wajah itu belum terukir, tapi tubuhnya tahu siapa yang dimaksud. "Itu aku ya?" tanyanya setengah berbisik. Aldian tidak menjawab. Tapi tak perlu. Jawabannya ada pada cara ia memandang pahatan itu—seperti seseorang memandang rumah yang telah lama ia tinggalkan. --- Di antara keheningan itu, Elira berjalan menuju rak-rak tua di sisi dinding. Di sana, tertata rapi beberapa potong kayu: jati, mahoni, dan satu batang panjang yang sudah tua, berwarna kehitaman, seperti telah berabad-abad disimpan. "Ini kayu yang dulu kau simpan di pojok," katanya, menunjuk batang tua itu. Aldian mendekat. “Itu kayu terakhir yang diberikan ayahku. Katanya: ‘Simpan ini untuk hal yang benar-benar kau yakini.’” Elira menoleh. “Dan kau belum temukan hal itu?” Aldian terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. “Mungkin... baru saja.” Elira memandangi batang kayu itu sejenak. Ia tahu sejarahnya. Dulu, saat mereka masih muda, mereka sering duduk di toko ayah Aldian. Bukan untuk membeli kayu, tapi untuk mendengar cerita. Ayah Aldian adalah pencerita ulung, dan setiap kayu di bengkel ini punya sejarah. Ada kayu dari perahu tua yang karam di sungai. Ada kayu dari bangunan sekolah zaman Belanda. Ada juga kayu yang berasal dari pohon yang hanya tumbuh sekali setiap lima puluh tahun. Tapi yang satu ini—yang tua dan gelap—adalah milik ayahnya sendiri. Tak pernah disentuh. Tak pernah dipahat. Kayu itu seperti warisan yang menunggu momen sakral. --- “Kalau begitu,” kata Elira sambil menatap mata Aldian, “pahatlah aku dari kayu itu.” Aldian terperangah. “Kau yakin?” “Ya. Aku ingin wajahku menjadi sesuatu yang kau yakini. Bukan sekadar kenangan, tapi bukti bahwa kita pernah ada... dan masih ada.” Aldian terdiam. Tak ada puitis di matanya saat itu. Hanya keheningan yang padat, seperti kabut pagi yang tak bisa ditembus cahaya. “Ayahku bilang,” ucap Aldian perlahan, “bahwa siapa pun yang dipahat dari kayu itu tidak akan pernah bisa dilupakan. Karena kayu itu menyimpan waktu.” Elira mengangguk pelan, “Kalau begitu, biarkan waktu mengingatku juga.” --- Hari-hari berikutnya menjadi babak baru yang tenang. Elira tinggal di penginapan kecil dekat alun-alun kota. Setiap pagi, ia berjalan kaki menuju bengkel Aldian. Kadang mereka hanya duduk. Kadang mereka bicara tentang masa kecil. Kadang, tak satu kata pun diucapkan. Tapi tidak ada yang canggung. Karena cinta yang tulus tidak butuh banyak kata—ia hanya butuh kehadiran. Aldian mulai memahat dari batang kayu tua itu. Perlahan. Tanpa tergesa. Jemarinya menari di atas kayu seperti penari balet di panggung sunyi. Ia tak ingin buru-buru. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang membuat karya. Ia sedang menciptakan pengakuan. Wajah Elira mulai terbentuk. Lengkungan pipi. Bibir yang setengah tersenyum. Hidung yang tenang. Dan mata—mata yang seperti menyimpan langit sore di dalamnya. Tiap malam, Aldian terjaga hingga larut. Ia memandangi pahatan itu seperti seseorang yang sedang merapal doa. Tidak berharap dijawab, tapi berharap didengar. --- Suatu malam, hujan turun perlahan. Elira datang membawa termos berisi teh jahe. Mereka duduk di beranda, mendengarkan bunyi rintik hujan memukul atap seng. “Aku pernah jatuh cinta sama seseorang yang tidak pernah kuucapkan,” kata Elira tiba-tiba. Aldian melirik, “Apa sekarang kau ingin mengatakannya?” Elira tersenyum. “Tidak. Aku ingin menunjukkannya.” Ia lalu mengambil sapu tangan kecil dari sakunya. Di sudutnya, ada sulaman dua inisial: E & A. “Sudah kusiapkan sejak bertahun-tahun lalu,” ucapnya. “Tapi baru malam ini aku berani berikan.” Aldian menerima sapu tangan itu. Matanya tidak berkaca-kaca, tapi hatinya seperti hujan yang turun di padang kering. --- Malam itu, sebelum tidur, Aldian berdiri di depan pahatan Elira. Ia menyentuh dahi kayu itu dan berkata pelan: “Besok, aku akan ukir matamu. Karena besok, aku sudah benar-benar percaya bahwa kamu bukan hanya kekasih lamaku… kamu adalah jodohku.” --- Kutipan Bab 2: "Beberapa kayu menyimpan usia, tapi hanya sedikit yang menyimpan jiwa. Dan ketika cinta terukir di dalamnya, waktu tak lagi bisa memisahkan apa yang telah dipersatukan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN