Bab 3: Mata yang Diukir dengan Cinta
Jumlah kata: ±1.150
Pagi itu, angin menyapu perlahan daun jati di belakang bengkel. Langit tampak murung, tapi tidak dengan hati Aldian. Ia berdiri di depan pahatan yang hampir rampung. Tinggal satu bagian yang belum ia sentuh: sepasang mata.
Bagi pemahat, mata adalah bagian tersulit. Karena di sanalah letak jiwa disimpan. Bila gagal mengukir mata, wajah akan kehilangan hidupnya. Seolah-olah patung itu cuma kayu, bukan kenangan, bukan jiwa.
Dan hari ini, Aldian ingin memahat mata Elira.
Ia menyiapkan pahat khusus: baja tipis, tajam, dan hanya digunakan untuk satu hal—garis terakhir dari wajah seseorang yang istimewa. Pahat itu dulu milik ayahnya. Konon, hanya digunakan tiga kali sepanjang hidupnya.
Aldian mengusap wajah kayu itu. Dalam diam, ia berbicara pada kayu tua itu.
"Beritahu aku... bagaimana cara melihat Elira seperti yang dia lihat dunia ini. Bukan dengan mataku, tapi dengan hatinya."
---
Elira datang membawa dua cangkir kopi hitam. Ia tahu hari ini berbeda. Ia bisa merasakannya dari detak langkah Aldian—lebih berat, lebih khidmat.
“Sudah siap?” tanyanya sambil meletakkan kopi di meja.
Aldian mengangguk. “Aku akan mulai dari matamu.”
Elira duduk di bangku kayu panjang yang mulai berderit jika diduduki. Ia hanya diam, membiarkan Aldian memandangi wajahnya selama beberapa menit tanpa kata. Tidak ada rasa canggung. Dalam tatapannya, Elira tidak mencoba menjadi cantik. Ia hanya menjadi dirinya.
“Itu tatapan yang dulu sering kau tunjukkan ketika melihat anak-anak kecil bermain,” kata Aldian sambil tersenyum.
Elira tertawa pelan. “Karena mereka belum tahu apa-apa, dan justru itu yang membuat mereka bebas.”
Aldian menunduk dan mulai mengukir.
---
Waktu berjalan lambat saat pahat menyentuh kayu. Setiap guratan terasa seperti puisi yang ditulis dengan tangan. Suara pahat bertemu serat kayu terdengar pelan, seperti bisikan takdir.
Aldian mengukir tidak hanya bentuk mata, tapi juga rasa—kesabaran Elira, kepercayaannya, dan cinta yang tidak pernah meminta apa-apa selain hadir.
Setiap torehan adalah pengakuan. Bahwa ia pernah jatuh cinta, pernah melepaskan, dan kini, diberi kesempatan untuk menyentuh kembali yang dulu terasa mustahil.
Beberapa jam berlalu tanpa satu kata pun. Ketika mata itu akhirnya selesai, Aldian menarik napas panjang.
Ia memandangi patung itu, lalu menoleh pada Elira.
"Sudah selesai," katanya.
Elira berdiri dan melangkah mendekat.
Ia menatap ukiran dirinya.
Dan saat ia melihat mata itu—matanya—ia terdiam. Ada sesuatu dalam ukiran tersebut yang membuatnya sulit bicara. Bukan karena indah, bukan karena mirip, tapi karena terasa seperti dirinya yang belum pernah ia lihat dari luar.
---
“Kenapa kau buat mataku seperti itu?” tanyanya pelan.
Aldian menatapnya. “Karena itulah caraku melihatmu selama ini. Selalu. Bahkan saat kau tak tahu aku masih menyimpanmu dalam waktu.”
Elira menunduk. “Aku kira kau sudah melupakan semuanya.”
Aldian menggeleng. “Beberapa hal tidak bisa dilupakan, karena mereka tidak pernah pergi.”
---
Hari itu mereka tidak bicara banyak. Tapi dunia di antara mereka sudah berubah. Mereka tahu bahwa cinta ini bukan yang membakar, bukan yang meledak—tapi yang bertahan seperti api kecil di perapian, yang memberi hangat tanpa pernah memaksa.
---
Malamnya, Elira menulis sesuatu di buku kecilnya. Buku itu sudah ia bawa sejak pindah. Ia mengisi halaman-halamannya dengan puisi, renungan, dan percakapan batin yang tidak bisa diucapkan pada siapa pun… kecuali pada dirinya sendiri.
> Hari ini mataku dipahat oleh orang yang pernah kulepas.
Tapi yang lebih menakjubkan, dia memahat diriku yang aku pun belum sempat kenali.
Sejak itu, aku sadar…
Terkadang jodoh bukan tentang siapa yang tinggal di sampingmu,
Tapi siapa yang melihatmu, bahkan saat kau sedang hilang.
---
Beberapa hari kemudian, Elira bertanya, “Apa kamu percaya pada jodoh, Aldian?”
Aldian menoleh. Di tangannya masih ada sisa serbuk kayu dari pahatan yang ia haluskan.
“Dulu tidak. Tapi sekarang, aku percaya. Karena aku tahu… jodoh itu bukan tentang siapa yang paling sempurna, tapi siapa yang tidak pernah pergi dari hatimu, bahkan ketika kamu mengira dia sudah menghilang.”
Elira tersenyum kecil.
“Kau tahu,” lanjut Aldian sambil menatap langit sore, “kalau aku diberi satu kali kesempatan mengulang waktu, aku tidak akan memilih momen lain... selain hari ketika aku pertama kali melihatmu di toko ayah.”
---
Kutipan Bab 3:
"Mata adalah jendela jiwa, tapi cinta adalah tangan yang menutup jendela itu
dengan lembut, lalu berkata: aku tidak perlu melihat lebih jauh, karena aku sudah menemukan rumah."