Bab 4: Ruang yang Pernah Sepi
±1.120 kata
Di sudut rumah itu, ada satu ruang kecil yang dulu menjadi tempat ayah Aldian menyimpan karya-karya terbaiknya. Ruangan itu penuh debu, kotak-kotak kayu tua, dan serpihan masa lalu yang tak pernah benar-benar dibuka kembali.
Aldian tak pernah berani masuk sejak sang ayah wafat. Bukan karena takut, tapi karena terlalu banyak kenangan yang mengendap di sana—tumpukan alat, serpihan ukiran, dan sisa aroma kopi hitam yang dulu selalu menemani pagi-pagi penuh kerja keras.
Namun pagi itu, Elira berdiri di depan pintu ruang itu.
"Apa aku boleh masuk?" tanyanya dengan nada hati-hati.
Aldian menoleh. Ia sempat terdiam, lalu mengangguk pelan. "Kalau kamu masuk, mungkin ruangan itu akan kembali bernapas."
---
Mereka membuka pintu bersama-sama. Ketika daun pintu tua itu berderit, seperti ada suara dari masa lalu ikut menyelinap keluar.
Ruang itu kecil, tapi penuh kisah. Ada meja bundar yang dipenuhi bekas luka ukiran, rak-rak kayu setengah runtuh, dan foto tua ayah Aldian saat memegang ukiran burung phoenix—karya terakhir yang tak pernah selesai.
“Tempat ini seperti menunggu sesuatu,” gumam Elira.
Aldian tersenyum tipis. “Tempat ini menunggu suara.”
“Suara apa?”
“Suara cinta yang tenang. Yang tidak berisik, tapi hadir.”
---
Elira menyentuh salah satu pahatan tua. Ada bentuk wajah wanita di sana. Mata tertutup, bibir tersenyum tenang, dan di dahinya ada ukiran bunga kecil.
"Siapa ini?" tanyanya.
"Itu Ibu. Ayah mengukirnya saat beliau sakit keras. Ayah bilang… kalau seseorang bisa melihat cinta dalam bentuk pahatan, maka ia tak akan pernah kesepian, bahkan saat ditinggal."
Elira menatap pahatan itu dengan lembut. “Lalu bagaimana dengan kamu, Aldian?”
“Aku?” Ia menarik napas. “Aku pernah kesepian, tapi bukan karena ditinggal. Melainkan karena aku takut membuka ruang seperti ini. Ruang yang menyimpan cinta lama.”
---
Hari-hari setelah itu, mereka mulai menghidupkan kembali ruang tersebut. Mereka membersihkan rak-rak, mengelap meja, dan menyusun ulang alat-alat pahat yang berkarat.
Setiap sore, Elira duduk di dekat jendela dan membaca, sementara Aldian mulai membuat pahatan-pahatan baru. Tidak selalu wajah manusia—kadang hanya lengkungan, simbol, bahkan potongan kayu yang ia bentuk menjadi siluet bayangan senja.
Yang tak mereka sadari, mereka sedang membangun sesuatu yang lebih dari sekadar ruang: mereka sedang membangun kepercayaan baru, tanpa janji, tanpa paksaan.
---
Suatu sore, Elira menemukan sebuah kotak kecil di laci bawah meja ukir. Kotak kayu itu terkunci, tapi ringan saat digenggam.
"Apa ini milik ayahmu?"
Aldian melihatnya. Kotak itu sudah puluhan tahun tak dibuka. Ia mengambil kunci kecil yang tergantung di balik foto ayahnya.
Kotak itu berisi secarik kertas kecil, terlipat rapi. Tulisan tangan ayahnya masih jelas:
> “Jika kamu bisa mencintai seseorang tanpa harus memilikinya, berarti hatimu telah selesai belajar—dan tinggal menunggu takdir menyelesaikan sisanya.”
Mereka terdiam.
Itu bukan surat untuk siapa-siapa. Mungkin hanya renungan. Tapi malam itu, kalimat itu menempel di hati Elira seperti ukiran paling halus yang pernah ada.
---
Hari berikutnya, Aldian mulai membuat pahatan baru.
Bentuknya masih belum jelas, tapi Elira tahu: kali ini bukan hanya soal estetika. Ada energi yang berbeda.
“Aku ingin membuat sesuatu yang belum pernah dibuat Ayah atau aku sebelumnya,” ujar Aldian.
“Bentuk apa?”
“Bentuk cinta yang tidak bicara. Tapi diam-diam mengisi ruang.”
Elira tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, ukirlah diam itu. Aku akan duduk di sini.”
---
Beberapa minggu berlalu.
Ukiran itu mulai membentuk dua sosok. Satu berdiri, satu duduk. Satu menatap, satu memejam. Tapi keduanya terhubung oleh satu lekuk halus di antara mereka—seperti aliran angin yang menari di antara dua hati.
Elira melihat bentuk itu, dan meski belum selesai, ia tahu: Aldian sedang mengukir mereka berdua. Bukan dalam masa lalu, tapi dalam versi baru yang belum pernah mereka lihat.
---
Di malam terakhir minggu itu, mereka duduk berdampingan di ruang yang dulu sepi. Tak ada musik, tak ada obrolan, hanya suara malam dan nyala lampu kuning kecil dari sudut langit-langit.
Lalu, Elira berkata, "Aku pernah takut kembali ke tempat ini, ke masa ini. Tapi kamu membuatnya jadi… mudah. Mungkin karena kamu tidak bertanya apa-apa."
Aldian menjawab, "Karena aku tahu, cinta bukan tentang mendesak seseorang menjelaskan ke mana ia pergi. Tapi tentang menyambut dia pulang tanpa syarat."
Elira menggenggam cangkir teh hangatnya, dan untuk pertama kali dalam sekian tahun, ia tidak merasa sendirian. Tidak lagi.
---
Kutipan Bab 4:
"Cinta tidak selalu datang untuk mengis
i ruang kosong. Kadang, ia hadir untuk menghidupkan ruang yang pernah kita tutup rapat karena takut terluka."