Saat langit tak lagi abu-abu

646 Kata
Bab 5: Saat Langit Tak Lagi Abu-Abu ±1.130 kata Langit pagi itu berbeda. Tak terlalu cerah, tapi juga tidak suram. Seperti warna di antara harapan dan keraguan. Warna yang menyimpan kemungkinan. Aldian menyadarinya saat membuka jendela ruang ukir. Angin masuk pelan, membawa aroma tanah basah dari hujan semalam. Ia tersenyum kecil. “Elira, kamu sudah bangun?” serunya dari ruang depan. Tak lama, langkah-langkah lembut terdengar dari arah dapur. Elira muncul sambil membawa dua gelas air lemon hangat. “Sudah. Dan langit hari ini… cantik ya?” Aldian mengangguk. “Langit hari ini bilang: ada yang akan berubah.” --- Setelah beberapa minggu, kehadiran Elira di rumah itu bukan lagi hal yang asing. Ia seperti bagian yang hilang dari rumah itu—yang kini kembali duduk manis di antara suara pahat dan wangi kayu. Namun pagi itu berbeda. Karena Elira datang dengan sebuah buku tipis berwarna merah bata. Di sampulnya tertulis dengan tangan: “Surat-Surat yang Tak Pernah Kukirimkan” Aldian menatapnya, sedikit heran. “Ini… apa?” Elira duduk di kursi rotan, memeluk buku itu seperti sesuatu yang rapuh. “Ini… bagian dariku yang tertinggal. Sebelum aku pergi dari kota ini dulu, aku menulis surat setiap minggu. Tapi tak pernah aku kirimkan. Aku pikir... kamu berhak tahu, bahwa meskipun aku pergi, hatiku masih diam di rumah ini.” Aldian terdiam. Tidak karena tak tahu apa yang harus dikatakan—tapi karena di dalam diamnya, ada sesuatu yang bergetar kuat. Ia merasa… dilihat. Diterima. “Boleh aku membaca satu?” tanyanya pelan. Elira mengangguk. “Mulai dari halaman pertama.” --- > Surat #1 Untuk Aldian yang tidak pernah aku lupakan, Aku tidak pergi karena ingin meninggalkanmu. Aku pergi karena aku terlalu mencintaimu, hingga takut diriku akan merusak dirimu yang sempurna dengan luka yang kubawa dari masa lalu. Aku menyimpan semua kenangan kita di dalam buku kecil ini, agar suatu hari, ketika aku siap… aku bisa kembali dan mengembalikannya padamu. Jika kamu membaca ini suatu hari nanti, ketahuilah bahwa aku selalu percaya pada waktu. Dan waktu, kadang hanya butuh ruang kecil di hati untuk menemukan kembali rumahnya. Aldian menutup halaman itu perlahan. Ia menatap Elira, lalu berdiri dan berjalan ke arah pahatan setengah jadi. Ia mengambil alat ukirnya, dan mulai menggoreskan sesuatu di bagian dasar pahatan itu. Satu kata: “Rumah.” --- Hari itu mereka habiskan dengan membuka satu per satu isi buku merah bata itu. Elira membacakannya dengan nada pelan, kadang tersenyum, kadang matanya berair. Dan Aldian mendengarkannya dengan tenang, seperti seseorang yang menemukan kembali bagian jiwanya yang tercecer. Di halaman ke-7, Elira berhenti sejenak. Ia menghela napas, lalu berkata: “Dulu, aku pikir kamu akan membenciku karena memilih pergi.” Aldian menggeleng. “Aku tidak membencimu. Aku hanya menunggu… hingga langit tak lagi abu-abu.” Elira menatapnya, dan di saat itulah, mereka tahu: cinta mereka bukan cinta remaja yang terburu-buru. Ini cinta yang tumbuh di sela waktu, diam-diam, tapi kokoh. --- Menjelang senja, mereka duduk di bangku panjang depan rumah. Elira menyandarkan kepalanya di bahu Aldian. Ia berkata pelan, hampir seperti bisikan: “Kalau besok aku pergi lagi, kamu akan menungguku?” Aldian tak langsung menjawab. Ia menatap langit, lalu menunduk menatap pahatan di tangannya yang belum selesai. “Aku tak perlu menunggu kamu datang lagi, Elira. Karena kali ini, kamu tidak pernah benar-benar pergi.” --- Sementara itu, di ruang belakang, buku merah bata itu diletakkan di atas meja pahatan, tepat di samping ukiran "Rumah." Seperti dua benda yang saling mengerti: satu menyimpan kenangan, satu sedang membangun masa depan. Dan ketika malam tiba, langit benar-benar tidak lagi abu-abu. Ia penuh bintang. Dan di antara semua bintang itu, ada satu yang tampak lebih terang—seolah menandai sebuah titik balik. Bukan akhir. Tapi permulaan dari babak baru. --- Kutipan Bab 5: "Ada cinta yang tidak membutuhkan alasan, tidak menu ntut balasan. Ia hanya menunggu waktu dan keberanian untuk kembali disebut sebagai 'rumah'."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN