Kenangan yang menjelma aroma

628 Kata
Bab 6: Kenangan yang Menjelma Aroma ±1.130 kata Pagi itu, Elira berdiri lama di dapur. Bukan karena sedang memasak, melainkan karena aroma kayu manis dari rak tinggi itu membawanya ke tempat yang jauh—masa lalu. “Masih ingat kayu manis ini?” katanya sambil menunjukkan sebotol kecil berlabel tangan. Aldian yang sedang menyusun potongan kayu, melirik sekilas, lalu tersenyum. “Itu bumbu rahasia kamu waktu bikin roti panggang pertama di rumah ini.” Elira tertawa, geli oleh ingatannya sendiri. “Dan kamu muntah diam-diam karena terlalu manis.” “Bukan terlalu manis. Aku cuma belum terbiasa. Sekarang mungkin… aku malah kangen rasa itu.” Ia mendekat. Wajahnya teduh, penuh ketenangan. Tangannya mengambil botol itu dan membukanya perlahan. Aroma kayu manis menyebar, lembut dan hangat. Elira menatapnya dalam diam. “Pernah kepikiran,” kata Aldian lirih, “bahwa aroma itu seperti kenangan. Kita bisa simpan lama, tapi suatu saat, ia akan keluar sendiri, entah karena angin, karena hujan, atau karena kamu datang lagi.” --- Hari itu mereka pergi ke pasar kecil di ujung desa. Tempat yang dulu sering mereka datangi, tempat yang penuh dengan keramaian dan suara-suara yang akrab. Tapi hari itu, Elira merasa seolah semuanya lebih tenang. Seperti pasar itu ikut menua bersama waktu. “Penjual bunga itu masih ada ya,” gumam Elira, menunjuk ke arah nenek tua yang menjual anyaman melati dan kenanga. Aldian membelokkan langkah ke sana. Nenek itu masih mengenalnya. “Kalian akhirnya datang berdua lagi,” katanya dengan senyum lebar. “Kami?” tanya Elira, agak terkejut. Nenek itu mengangguk pelan. “Dulu, waktu lelaki ini sering datang sendiri, dia selalu beli dua anyaman. Satu disimpan di rumah, satu lagi... dia buang ke sungai.” Aldian tersenyum, sedikit malu. Elira menoleh padanya. “Kenapa kamu buang yang satu?” “Supaya wangi kenangan itu tidak hanya diam. Ia mengalir. Seperti doaku agar kamu kembali.” --- Mereka duduk di tepi sungai, tak jauh dari pasar. Di tangan Elira, dua anyaman melati. “Kita buang dua-duanya?” tanyanya. “Tidak.” Aldian mengambil salah satu. “Yang satu kita bawa pulang. Yang satu, kita biarkan mengalir.” Elira menatap sungai itu, lalu melepaskan anyaman kecil itu dengan perlahan. Ia terbawa arus, pelan tapi pasti, sampai lenyap dari pandangan. “Kamu tahu,” kata Elira, “dulu aku pikir perpisahan itu seperti air pasang. Datang, lalu hilang. Tapi ternyata, perasaan itu lebih seperti sungai. Tak pernah diam, tapi juga tak pernah putus.” Aldian menjawab dengan tenang, “Mungkin karena itu, kita dipertemukan lagi. Karena meskipun berpisah arah, sungai-sungai yang berasal dari satu mata air... selalu menyimpan aroma yang sama.” --- Malam harinya, Elira berdiri di ruang ukir. Di dinding, tergantung beberapa karya pahatan Aldian. Semuanya memiliki gaya khas: bersih, tenang, dan menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. “Boleh aku buat satu ukiran sendiri?” tanya Elira. Aldian mengangguk. “Gunakan papan yang itu. Masih kosong.” Ia membimbing Elira memegang alat ukir, lalu berdiri di belakangnya. Untuk beberapa detik, dunia menjadi sunyi. Suara ukiran kayu, napas pelan, dan jarak yang nyaris hilang di antara mereka. Elira menulis satu kata dengan ukiran goyah tapi jujur: “Aroma.” --- Sebelum tidur, mereka duduk berdampingan, masing-masing dengan secangkir teh hangat. “Kalau waktu bisa kita ukir seperti papan kayu,” kata Elira, “apa yang akan kamu ukir sekarang?” Aldian menatap langit-langit kamar. Lalu menjawab pelan, “Aku ingin mengukir detik ini, tepat ketika kamu kembali, dan aku tak lagi harus menunggu.” Elira menggenggam tangannya. “Kalau begitu, kita ukir sama-sama. Biar waktu tak hanya mengalir. Tapi juga meninggalkan jejak.” --- Kutipan Bab 6: "Kenangan tak harus pahit, jika kita tahu bagaimana merawatnya. Kadang, cukup dengan mengingat aromanya, kita sudah bisa pulang ke masa itu, tanpa harus benar-benar kembali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN