(POV Melta) "Jangan pernah berfikir bahwa aku ini lemah, Sandrina anakku! Aku akan kembali dan mengambilnya darimu!" Kurang aj4r, ternyata ia tak gentar mendengar ancamanku, lelaki itu malah menyeringai menatap wajahku yang rusak "Kamu itu mandul, ga berhak mengasuh seorang anak manapun!" tegasku lagi. "Terserah!" Hanya kata itu yang Adnan ucapkan, keterlaluan! Ternyata memancing amarahnya tak semudah memancing seekor ikan di lautan. Padahal, aku sangat berharap ia terluka oleh tajamnya kata-kata ini. Namun, ia tak selemah yang kukira, justru diri ini yang rapuh, tak mampu tangguh dalam menghadapi badai yang menerjang. Terlebih saat ibu tiada, tak ada lagi tempatku berbagi duka, diri ini benar-benar sendiri terpenjara dengan rasa sepi yang begitu menyiksa. Lelaki itu pergi bersam

