Bab 9

1057 Kata
Sebelum Kiara menjawab, sekonyong-konyong Megan menyerobot untuk berbicara, "Lihatlah istrimu itu Galih, lihatlah betapa borosnya dia! Dia cuma ingin menghabiskan uangmu saja! Wanita seperti ini yang selalu kau bela di depan kami?" Galih dibuat garuk-garuk kepala dengan ucapan Megan. Galih kebingungan. 'Bukankah bulan ini Kiara bahkan tidak menerima sedikitpun dari gajiku? Bagaimana bisa mbak Megan bicara begitu?' "Mbak, dugaan kalian salah!' sambar Galih cepat. "Tidak usah banyak pembelaan, Galih. Mengapa kau sekarang amat bod*h. Di bod*hin sama Kiara, ya?" Serobot Megan dengan congkaknya. "B*doh sekali kau Galih, seenaknya saja diperalat sama istri. Sampai rela kalau uangmu dihabiskan Kiara buat berfoya-foya bershoping ria," cibir Kiara berniat untuk mempengaruhi Galih. "Hei, Mbak Megan! Siapa juga yang membodohi adikmu ini? Mbak menuduhku? Hati-hati bicara, Mbak! Aku tidak pernah berbelanja seperti ini menggunakan uang adikmu! Huuuh... uang adikmu yang hanya lima ratus ribu mana cukup untuk membeli barang-barang seperti ini," Kiara balas mencibir. "Hey, darimana kau bisa nerbelanja sebanyak itu jika tidak dari uang adikku?" Sambar Megan. "Hahaa ... Kau pikir uang adikmu itu sangat banyak? Begitu? Huuh ... makanya jadi orang tuh tambah dikit wawasan. Uang sepuluh juta jangan terlalu di banggain gitu dong! Toh yang dikasih sama aku cuma lima ratus ribu. Mana cukup buat shopping!" Dengan berani Kiara membalas ucapan Megan. Megan terdiam. Wanita itu tidak menyangka apabila Kiara mampu berucap demikian. "Tanya sendiri sama adikmu, ya! Berapa dia memberiku uang bulan ini? Anda tahu? Nol besar. Uang yang adikmu kasih saja sudah ku kembalikan lagi padanya. Kalian pikir uang lima ratus ribu yang Galih kasih padaku setiap bulan itu jumlah yang cukup membanggakan? Iya? Sempit sekali pikiran kalian." Kembali Kiara berucap tanpa ragu. Darah Megan mendidih. Terlihat Megan mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke muka Kiara. Namun, hap ...! "Hentikan, Mbak," ucap Galih seraya menangkap tangan kanan Megan yang baru saja siap melayang ke wajah Kiara. "Ho oh, Mbak mau menamparku? Silakan saja! Aku tidak takut! Sedikit saja tanganmu menyentuh kulitku, aku pastikan kau akan berurusan dengan aparat. Kau pikir aku ragu untuk melaporkan perbuatanmu? Tidak. Tidak satu pun dari dirimu yang membuatku takut. Kalau Mbak tidak percaya, coba saja! Namun siap-siap dengan akibatnya," "Tutup mulutmu, Kiara! Hidup numpang jangan belagu!" Bu Farah turut emosi. "Haduuh, udah! Udah! Tidak usah bertengkar! Malu di dengar sama tetangga!" Galih terlihat pusing sendiri menghadapi tiga wanita yang sedang terlibat cekcok tersebut. "Aku tidak malu sama siapapun! Aku dan ibu sama sekali tidak berniat bikin onar di rumah sendiri. Justru istrimu ini yang menjadi biang masalah," kebiasaan Megan, apabila bicara tidak mampu untuk mengontrol. "Tolong jagalah cara bicara! Kalau begini terus bisa-bisa pusing otakku dibuat sama kalian!" Galih garuk-garuk kepala. "Salah sendiri, mengapa kau ingin mempertahankan istri tak berbobot seperti ini! Bikin malu keluarga kita saja! Tidak tahu diri sama sekali! Tak sudi rasanya aku punya adik ipar seperti ini! Menjatuhkan martabat keluarga di mata orang lain," Megan terus aja berceloteh panjang. "Berhentilah berucap tidak sopan. Apa hubungannya Kiara dengan martabat keluarga kita? Kiara sama-sama manusia seperti kita. Bagaimana kalian semua bisa akur kalau masing-masing ingin menang sendiri!" Karena emosi, Galih berbicara nyaris berteriak. "Terus saja kau bela istri kesayanganmu ini, sebelum aku yang membuangnya ke tong s****h!" sergah Megan lagi. "Kalau kau merasa mampu membuangku, buang saja! Huuh, lihat saja nanti siapa yang akan terbuang!" balas Kiara tidak kalah sengit. "Sudahlah Kiara. Hentikan perselisihan ini!" Galih mulai tak sabar. "Tidak Mas! aku tidak pernah memulai, Mereka yang mengawali perselisihan ini, oke aku akan meladeninya. Sampai mana mereka mau. Sudah puas aku di injak-injak selama ini! Apapun yang mereka mau akan kuhadapi." Megan dan Bu Farah dibuat melongo dengan ucapan-ucapan berani dari mulut Kiara yang selama ini mereka jadikan bak pembantu tanpa dibayar di rumah mereka. Keduanya sama sekali tidak menyangka apabila Kiara mampu berbuat sejauh itu. "Kiara ...?" Galih tidak kalah terkejutnya. "Apa yang terjadi padamu, Kiara?" Galih penuh tanya. "Biarkan saja aku bersikap seperti ini, lihatlah selama ini aku selalu saja mengalah. Ketika aku mengalah, mereka malah semakin bebas menghina, merendahkan, memperlakukan aku secara tidak manusiawi di rumah ini. Menghina jikalau aku menumpang pada kalian semua. Padahal andai saja aku tidak menikah denganmu, aku tidak mungkin menginjakkan kaki di rumah ini, Mas!" ucap Kiara. Sepertinya sekarang kesabaran dan keteguhan hati Kiara sudah benar-benar menghilang. Terdengar dari caranya berbicara yang tidak lagi ragu-ragu untuk melepaskan semua kepenatan hatinya yang selama ini ia pendam sendiri. "Kurang aj*r! Tidakkah kau dengar apa yang diucapkan Kiara, Galih?" sela Bu Farah. "Bu, tolong maafkan Kiara!" ucap Galih. "Kiara, tolong jaga juga cara bicaramu!" Galih berucap dalam kebingungan. "Mas, sebelum menyuruhku menjaga cara bicara, sebaiknya dua orang ini yang terlebih dahulu harus menunjukkan bagaimana cara berbicara yang patut. Aku hanya menuruti jejak mereka kok, Mas!" Muka Bu Farah dan Megan merah padam mendengar perkataan yang menyinggung mereka berdua. "Kau yang berbicara tidak mengindahkan tata krama, kami pula yang di salahkan. Istrimu ini memang benar-benar sudah tidak waras, Galih!" sambung Megan. "Jika menghadapi kalian dengan kewarasan, maka kalian akan menginjak-injak harga diriku. Mau kalian kan begini! Ya sudah! Aku turuti. Siapa tahu dengan bersikap seperti ini, maka mulut busuk kalian akan sedikit tersumpal! Supaya tidak terlalu bocor," sahut Kiara pedas. Berkali-kali Megan berniat untuk mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Kiara, namun ancaman adik iparnya tadi sedikit membuatnya takut dan ragu. 'Sepertinya wanita ini punya keberanian juga! Uuh ... Mengapa Kiara bisa berubah segarang ini? Angin apa yang mengobarkan keberaniannya? Padahal selama ini dia selalu mengalah. Bebas ku perintah-perintah, dan dia tidak pernah membantah. Aduuh ... Mengapa tiba-tiba aku merasa ragu untuk berbuat kasar padanya ya?' batin Megan dalam hati. Namun cepat-cepat Megan menepis perasaannya. Terlepas dari apapun yang terlintas dalam pikirannya, Megan tetap tidak mau terlihat kalah. Sudah menjadi tabiat yang mengalir dalam darahnya bahwa apapun yang terjadi dia harus nampak berkuasa. "Kiara! Karena perbuatanmu yang sangat tidak menghargai kami, maka sekarang aku yang memberitahumu langsung bahwa Galih akan segera menikahi Celine," ucap Megan. "Apa yang Mbak bicarakan?" Sambar Galih membulatkan mata. "Tidak usah disembunyi-sembunyikankan lagi, Galih," ucap Megan. "Hentikan, Mbak! Aduuh ...!" Galih semakin bingung. "Kalian pikir aku takut atau sakit hati apabila Galih menikahi Celine? Haa? Sorry ya, mau Galih menikahi sepuluh wanita sekaligus pun aku tidak masalah!" ujar Kiara. Dalam pikiran Kiara, 'Nikahilah wanita itu, Galih. Pada hari yang sama, aku akan memberikan kejutan spesial sebagai kado untuk pernikahan kalian dan pelajaran buat Megan serta Bu Farah. Nantikan saja moment itu!' Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN