Bab 10

964 Kata
"Dek, maafkan Ibu dan Mbak Megan ya," Mas Galih menghampiriku yang sedang menata baju-baju dan sebuah tas bermerk yang baru saja kubeli. "Lain kali Mas mohon sama kamu, jangan lagi bicara sembarangan di depan mereka. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat keduanya? Mereka sangat tidak mau diganggu. Apalagi caramu tadi sangat menguji kesabaran mereka," Mas Galih menasehatiku. Fyuuuuh... Aku menghela nafas. "Mas, aku tidak mungkin berkata kasar pada mereka jika mereka tidak memulai," jawabku. Aku tidak peduli jika Mas Galih tak suka dengan ucapanku. "Dek, Mas mohon. Maklumi saja ibu dan Mbak Megan. Sifat mereka memang begitu. Lihat selama ini, jikalau kamu tidak meladeni, rumah ini terasa damai tanpa perselisihan kalian. Mengalah tidak ada salahnya, Dek," ucap Mas Galih. G*la! Mudah sekali Mas Galih menyarankan aku untuk mengalah kepada kakak dan ibunya. "Mas, sudah cukup lama aku mengalah sama kakak dan ibumu. Selama ini Mas lihat sendiri, memang tidak pernah terjadi pertengkaran di antara kami, namun mereka malah menginjak-injak harga diri ku. Aku di perlakukan sesuka hati oleh mereka. Mas pikir aku tahan dalam situasi itu? Tidak Mas! Aku tidak bodoh. Percuma aku menghormati jikalau mereka tidak tahu bagaimana caranya menghargai," jawabku tanpa ragu. "Kau memang keras kepala, Kiara!" "Jika Mas mau menilaiku demikian, tidak masalah. Lebih baik aku dicap keras kepala daripada dianggap sebagai pembantu yang tak perlu dibayar." Jawabku lagi. Raut wajah Mas Galih benar-benar berubah. Keliatannya dia memang tak suka mendengarku. "Jadi selama ini Adek tidak ikhlas melakukan segala sesuatu di rumah ini?" Mas Galih balik bertanya. Kulihat raut muka muka pria di depanku berubah jutek. "Mas, kalau saja aku dihargai, tentu saja aku ikhlas. Tapi jikalau sedikitpun usahaku tidak dianggap, maka Mas tahu sendiri jawabannya. Aku juga bisa bersikap lebih keras pada setiap orang yang memperlakukanku dengan buruk, Mas. Termasuk pada mbak Megan dan juga ibumu!" Raut muka mas galih semakin merah padam dengan tutur kataku. "Dek, seburuk-buruknya Ibu dan Mbak Megan. Dia tetaplah ibu dan mbakku. Kau tidak pantas mengatakan mereka demikian. Kalau kau masih menghargai aku, maka hargai pula mereka!" Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak dengan ucapan Mas Galih. "Seburuk buruk mereka, tapi kami tetap disatukan oleh ikatan darah yang kuat," sambung Mas Galih lagi. "Iya aku tahu kalian diikat oleh ikatan darah yang kuat. Oleh karena itulah kelakuan kalian tidak jauh berbeda," jawabku. "Tutup mulutmu, Kiara! Kalau begini, tidak salah jika ibu mengatakanmu pembangkang!" ucap Mas Galih nyaris berteriak. "Ya, sekarang aku memang pembangkang! Soalnya, aku tidak punya keharusan untuk mematuhi orang-orang jahat seperti kalian!" "Galiiih ...!" Terdengar suara teriakan di luar sana. "Ya, Bu," Galih nampak bergegas meninggalkan aku disertai dengan delikan mata tak suka. Clink... Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselku. Pesan dari Papa rupanya. Kubaca pesan itu dengan seksama. Aku tersenyum. Ternyata Papa sangat peduli padaku. Rupanya selama ini aku tak luput dari perhatian Papa. *** "Bu sepertinya, aku menyetujui saran kalian untuk menikahi Celine," ucap galih. "Serius? Sudah nyadar kamu?" cibir Megan. "Mbak, sepertinya Kiara memang keterlaluan. Dia bahkan melawan ucapanku," ujar Galih sambil merenung. "Kamu sih, dari kemarin kemarin Mbak bilang, Kiara itu wanita tidak tahu diri, tapi kau masih saja kau ingin mempertahankan dia. Begitulah jadinya kalau melawan kemauan keluarga. Padahal kau tahu, seburuk-buruknya kami, kami tahu mana yang terbaik untukmu," tutur Megan lagi. "Bagaimana menurut Mbak, apa aku harus menceraikan Kiara sekarang?" Tanya Galih. "Jangan!" sergah Bu Farah cepat. "Lho, kenapa?" Megan heran dengan ucapan sang ibu. "Enggak kenapa-napa, Galih. Justru karena ibu masih sayang sama Kiara." "Apa? Ibu sayang sama Kiara? Apa aku tidak salah dengar?" Megan mengernyitkan dahi. "Tidak Megan. Sebenarnya Kiara itu orang baik. Ibu tidak terlalu rela untuk melepaskannya secara tiba-tiba. Galih, ibu bersyukur jika akhirnya kau sadar juga. Tapi ibu sama sekali tidak memaksa kamu untuk menceraikan Kiara. Biarkan dia tetap disini. Nanti saja menceraikannya, tunggu waktu yang tepat," ucap Bu Farah. Galih nampak berpikir. Sebenarnya dalam hati lelaki itu meronta-ronta. Cintanya terhadap Kiara sesungguhnya masih berkuasa. Tapi kembali ucapan-ucapan pedas Kiara terngiang-ngiang di telinga, membuat rasa cinta itu sedikit memudar. Ditambah dengan membayangkan sosok Celine yang memang jauh lebih menawan dibanding Kiara, naluri kelaki-lakiannya tertantang. Seketika membuat iman Galih runtuh. "Baiklah, Bu!" Galih akhirnya menjawab. "Baik kalau begitu. Kamu tenang saja, nanti ibu dan mbakmu yang akan mengatur. "Terimakasih, Bu!" Galih beranjak. Sepeninggal Galih, Megan mengutarakan sebuah tanya besar yang mengganggu pikirannya. "Mengapa ibu harus mencegah Galih untuk menceraikan Kiara? Bukankah bercerai lebih baik buat Galih, Bu? Apa Ibu benar-benar menyayangi Kiara s****n itu?" Tanya Megan bersungut-sungut. "Sstt... Jangan bodoh, Megan! Tidak mungkin aku menyayangi perempuan kampungan seperti Kiara," sahut Bu Farah. "Lalu maksud ibu apa berkata seperti tadi sama Galih?" Tanya Megan penasaran. "Oh itu? Megan, kau tahu ibu sangat sakit hati sama perempuan itu. Perempuan itu telah menginjak-injak harga diri ibu sebagai orang tua Galih," "Iya, terus?" "Ibu melarang Galih untuk menceraikan Kiara, tujuannya adalah untuk membalaskan rasa sakit hati ibu," "Haa ...? Bagaimana caranya?" Megan semakin penasaran dengan cara berpikir sang ibu. "Begini, jika wanita itu belum tersingkirkan dari rumah ini, maka akan lebih mudah bagi ibu untuk membalas sakit hati padanya. Ibu ingin melihat wanita itu tersiksa dan cemburu. Lihat saja nanti, akan ibu bawa Celine kemari. Bila perlu akan kusuruh Celine dan Galih bermanja-manja di hadapan Kiara. Atau bisa saja ibu berbuat lebih dari itu. Supaya Kiara bisa merasakan bagaimana sakitnya dikhianati di depan mata kepalanya sendiri." Bu Farah bertutur seolah rencananya telah matang dan mudah untuk dilaksanakan. "Oh, begitu! Iya, iya Megan mengerti sekarang! Pikiran ibu memang cemerlang. wanita tidak tahu diri seperti Kiara memang tidak boleh dilepaskan begitu saja tanpa pembalasan. Biar tahu rasa dia." Megan mengangguk-anggukkan kepala. Sementara itu dari ambang pintu masuklah seorang perempuan dengan pakaian yang cukup elegan, mesti pun dengan perut membuncit. "Kiara?" Megan kaget. "Mau kemana kamu?" Tanya Megan kasar. "Suka-suka aku dong. Mau kemana saja, bukan urusan kalian?" Kiara melenggang Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN