BAB 9 Rasa Peduli yang Tak Disadari

355 Kata
Maya menggigil di balik selimut. Tubuhnya panas membara, tapi kedinginan merayap hingga ke tulang. Sudah tiga hari ini, tubuhnya lemas. Demam tinggi menyerang tanpa ampun. Namun Maya tetap memaksa diri bangun, mengurus rumah, menyelesaikan tugas-tugas kecil — seolah semuanya baik-baik saja. Ia tidak mau terlihat lemah. Tidak di mata keluarga Mahendra. Terutama, tidak di hadapan Arka. Namun malam ini... tubuhnya menyerah. --- Arka pulang larut malam. Langkah kakinya bergema di koridor kosong. Biasanya, Maya akan menyambutnya di ruang tamu, dengan senyum ragu-ragu dan tatapan penuh harap. Tapi malam ini... tidak ada siapa-siapa. Arka mengernyit. Ada rasa aneh yang menggelitik di hatinya — semacam... kekosongan. Dengan langkah panjang, ia naik ke lantai atas dan mendorong pintu kamar. Di sana, di bawah cahaya lampu yang temaram, ia melihatnya. Maya. Gadis itu terbaring di ranjang, tubuhnya meringkuk seperti bola kecil. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Keringat dingin membasahi dahinya. Arka mendekat dengan ragu. "Hei," panggilnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Maya?" Tidak ada jawaban. Hanya desah napas berat yang terdengar. Arka menyentuh dahinya — dan terkejut. Kulit Maya membakar panas. Seketika, sebuah rasa asing menguasai dirinya. Khawatir. Bukan sekadar rasa bersalah... Tapi kekhawatiran yang menusuk d**a. --- Tanpa berpikir panjang, Arka mengambil ponselnya. "Dokter pribadi keluarga," katanya tegas saat panggilan tersambung. "Datang sekarang. Ini darurat." Setelah itu, Arka duduk di sisi ranjang. Menatap Maya yang menggigil dalam tidurnya. Tangannya, tanpa sadar, bergerak merapikan rambut basah yang menempel di wajah Maya. Gerakan lembut, bertentangan dengan semua kebencian yang ia ucapkan selama ini. Untuk pertama kalinya... Arka melihat Maya bukan sebagai pengganti. Tapi sebagai seorang manusia. Seorang perempuan rapuh... yang tengah berjuang sendirian. --- Beberapa jam kemudian, setelah dokter datang dan memeriksa, Maya masih belum sadar. Namun demamnya perlahan mulai turun. Arka duduk di kursi samping ranjang, matanya menatap Maya yang tertidur lemah. "Apa yang kau sembunyikan dariku, Maya?" gumamnya pelan. Pertanyaan itu bergaung dalam hatinya. Semakin dalam. Semakin menuntut jawaban. Dan entah kenapa... Untuk pertama kalinya, Arka merasa takut. Takut kehilangan sesuatu... yang bahkan belum sempat benar-benar ia miliki. Di bab berikutnya, Maira mulai menghubungi Maya diam-diam — mulai muncul ancaman baru yang perlahan menguji hubungan rapuh Maya dan Arka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN