"Ra, hidup lo masih panjang. Kalau nanti gue harus pergi, gue harap ... lo tetap semangat menjalani hidup lo." Aku memejamkan mata, dan menarik napasku dalam-dalam. Aku sudah bosan, karena Deeka terus membahas hal itu berulang kali. "Deeka, gue lagi nggak mau menangis. Jangan bahas hal itu lagi." "Hehe, maaf." Dia meringis, tapi mungkin tidak merasa bersalah. Kami berdua sedang berada di taman belakang vila. Aku dan Deeka duduk dengan nyaman di sebuah kursi taman. Di sini terasa begitu tenang, udaranya juga sangat sejuk. Jauh berbeda dengan Jakarta yang banyak sekali polusi udara. "Hidup lo nggak akan bahagia, kalau bersama gue yang kayak gini. Lo layak mendapat cowok yang lebih sempurna dari gue. Lo sangat layak, Ra,” ucap Deeka setelah beberapa menit terdiam. Kata-katanya membuatku

