Tengah malam sudah berlalu. Burung–burung yang selesai mencari makan, terbang pulang kembali ke sarangnya.
“Bagaimana tidur semalam, Sa?” sambut nenek.
Pagi itu hanya ada nenek di ruang sarapan. Apakah mama sakit ya pikir Alisa.
“Mama mana, Oma?” tanya Alisa.
“Mamamu sarapan di kamar. Si mbok yang bawa bubur ke dalam,” kata nenek.
“Kamu sarapan sama oma saja dulu. Lucu ya sekarang di rumah ini sekarang isinya orang-orang sakit. He... He... He...” Nenek terkekeh.
“Oh, tadi Oma tanya apa?” tanya Alisa mengalihkan perhatian daripada nenek menyinggung mama terus.
“Oh, Kamu tidurnya bagaimana?” ulang nenek.
“Enak Oma. Masa Alisa mimpi ketemu kaya putri zaman kerajaan dulu gitu. Pakai kemben kain, mahkota, sama perhiasan kaya pengantin. Bunga bertaburan dimana–mana,” jelas Alisa panjang lebar.
“Terus?” tanya nenek antusias.
“Terus dia tersenyum ke arah Alisa. Cantik banget. Terus nggak tau kenapa Alisa cium tangannya,” lanjut Alisa lagi.
“Terus, Sa?” Nenek sambil menyendokkan nasi ke piring Alisa.
“Terus ya dia ajak Alisa terbang. Kaya di film–film gitu sih. Ah, mungkin Alisa kebanyakan nonton film fantasi,” kata Alisa tersipu malu. Dia tidak jadi meneruskan bercerita yang di luar nalar begitu.
“Nggak apa–apa, Sa. Itu Nyai Madhumati. Dia datang mau ketemu sama Kamu,” kata nenek lalu tersenyum.
Alisa mengernyitkan alisnya. Ah, kok nenek jadi ikutan cerita yang aneh. Tapi dia mengiyakan saja daripada cari masalah.
“Nyai bakal jagai Kamu dari gangguan mahluk halus,” jelas nenek.
Oh jadi Nyai itu ada hubungannya dengan susuk yang sudah ditanam di perutnya pikir Alisa. Baiklah selama ini buat kebaikan Alisa, dia bisa menerimanya. Buktinya semalam dia tidak mimpi seram dan ketemu mahluk halus. Alisa tidak peduli dengan dampak di belakangnya.
Alisa buru–buru menghabiskan sarapannya dan bergegas ke kamar mama. Sedih juga. Ini pertama kalinya Alisa menyadari mama sakit kanker dan terbaring lemas di atas ranjang sehabis muntah–muntah. Biasanya di apartemen kalau Hari Sabtu dan Minggu, mama juga suka berbaring di kamar, tetapi Alisa hanya menganggap mama kecapaian kerja.
Mama tidak banyak bicara, demikian juga Alisa. Tak terasa air mata Alisa bercucuran ketika membantu mama makan sesuap–sesuap bubur. Pada akhirnya mama juga jadi ikut menangis.
Akhirnya Alisa keluar sambil membawa mangkuk kosong. Hari ini Alisa sudah membulatkan tekad akan ke pantai. Mungkin pantai bisa menghibur dirinya serta tempat meluapkan emosin sejadi–jadinya. Daripada di dalam kamar mama, Alisa hanya bisa menangis saja. Bukannya gembira, malah akan membuat mama semakin sedih.
# # #
“Mas Tono?” tanya Alisa kepada tukang yang waktu itu. Kata nenek suruh saja satu tukang untuk mengantar ke pantai pakai sepeda motor, daripada jalan kaki nanti betisnya jadi besar.
“Antono, Mbak. Biasanya dipanggil Anton,” katanya mengoreksi Alisa.
Lucu juga orang ini, bisa-bisanya komplain soal namanya biar lebih kece. Tampang sih lebih cocok dipanggil Tono daripada Anton. Wajah pas–pasan. Kulit hitam terbakar matahari. Untungnya tubuh perkasa, lengannya kelihatan berotot, biasa memanggul berkarung-karung buah kelapa dan cabai.
“Iya, Ton. Antari ke pantai dong. Pakai sepeda motor,” pinta Alisa.
“Siap! Jangan pergi ya, Mbak,” kata Anton.
Alisa jadi bingung, apakah tukang itu pikir dia lagi dikerjai. Pasti dia tunggui di sini dan berangkat bareng-bareng, tidak mungkin dia jalan duluan.
“Ngebut apa nyantai, Mbak?” tanya Anton lagi. Dia datang dengan motor trail.
Ya lah, banyak tanya pikir Alisa. “Memang ada bedanya, Ton?” tanya balik Alisa sambil duduk di belakang.
“Kalau ngebut Mbak pegang dua tangan di pinggang saya. Kalo nyantai Mbak pegangnya bahu saja nggak apa–apa.”
Dasar laki–laki gombal. Ingin jarinya menjewer pemuda nakal satu ini, tapi entar dia malah kesenangan.
“Sudah cepat jalan, Ton. Entar keburu panas,” desak Alisa.
Akhirnya mereka jadi jalan ngebut. Alisa malu–malu pegangan, tapi takut jatuh juga. Jalannya bergelombang dan berbatu–batu, bisa–bisa dia terpelanting ke belakang. Sepanjang jalan Alisa mencoba menahan nafas, entah si Anton sengaja atau tidak melewati jalan yang terjal itu. Mau pukuli si Anton juga berbahaya, entar bisa–bisa mereka berdua malah jatuh dari motor. Tapi kayanya Anton sudah hapal jalan itu, jadi biasa saja ketika melaju kencang.
Hufff, akhirnya sampai juga. Setelah menembus rimbunnya bambu hutan, dari ujung lorong terlihat cahaya silau akibat pantulan dari air laut. Anton memarkir motornya dan Alisa turun.
“Terima kasih, Ton.”
“Ongkosnya Mbak... He... He... He... Nanti gajinya ditambahi ya, Mbak. Bercanda.”
Alisa hanya menatap tajam. “Nanti mintanya sama oma,” jawab Alisa ketus.
“Ya sudah bayar pakai ayam saja nggak apa–apa. Asal jangan anak ayam ya, Mbak,” nego Anton.
“Iya ... Kamu tunggu di sini dulu!” perintah Alisa.
“Mbak pulang ambil ayam?” tanya Anton.
“Cumi...,” kata Alisa mengumpat.
“Kamu tunggui saya, maksudnya saya mau main di pantai dulu.”
Akhirnya Alisa bisa lepas dari Anton alias Tono. Pantai itu bukan daerah wisata karena tidak terlalu istimewa. Pasirnya berwarna abu–abu agak kehitaman, tetapi cukup nyaman untuk ditapaki. Kerikil dan sisa–sisa batu karang hampir tidak ada. Mungkin juga sudah dipunguti oleh warga untuk dijual ke Jakarta.
Siang itu tidak banyak aktivitas nelayan karena jam segini hitungannya mereka sudah telat menyandarkan kapal. Ada dermaga kecil hanya untuk warga daerah sini. Satu kapal berlabuh sejadinya untuk menurunkan tangkapan ikan. Anton terlihat berlari menghampiri kapal itu. Dia menawarkan bantuan menarik jaring berisi kumpulan ikan. Walau tidak banyak ikan yang didapat hari itu, tetapi paling tidak Anton berharap kebagian beberapa untuk lauk di rumahnya.
Alisa berlari jauh menyusuri pantai ke arah yang lebih sepi. Setiap dia melangkah, ada perasaan dejavu yang menghampirinya. Sepertinya dia merasakan gambaran yang sama seperti dalam mimpinya. Dia berdiri diam mengamati sekeliling. Deretan pohon kelapa, latar belakang tebing di ujung sana, dan yang paling mencolok dermaga kecil tadi. Hanya saja tidak ada seorang manusia pun di dalam mimpi kecuali dirinya.
Dalam mimpinya warna langit kemerahan, bukan seperti siang ini berwarna biru cerah. Bulu kuduk Alisa kemudian berdiri. Ah, mungkin hanya kebetulan. Lagipula, dulu ketika kecil dia juga pernah tinggal di sini, siapa tahu kenangan lamanya yang muncul kembali dalam mimpi. Cuma Alisa merasa takut ketika memandang jauh ke arah garis cakrawala. Titik–titik di seberang sana apakah semakin membesar dan mengejarnya.
Hempasan ombak tipis menyadarkan lamunannya. Dia melihat ke arah tapak kakinya. Ah, Alisa berpikir masih menginjak tanah, mengapa harus membayangkan hal–hal yang di luar nalar seperti itu. Air laut yang jernih balik membawa pasir–pasir halus mengubur sampai mata kakinya. Untuk sementara dia jadi tertahan susah bergerak.
Tiba–tiba dia melihat bayangan wajah marah mahluk halus dalam mimpinya itu di bawah air. Alisa menjerit sejadi–jadinya, membuat semua nelayan memalingkan muka. Anton segera berlari ke arah Alisa. Wajah Alisa pucat pasi, mata membesar, dan berkaca-kaca. Pemuda itu memeluk erat Alisa dan menyandarkan kepala Alisa ke pundaknya. Anton bisa merasakan tubuh Alisa yang menggigil gemetar ketakutan. Dia menarik kaki Alisa yang sudah dingin dan kaku.
“Itu... itu...,” kata Alisa gelagapan menunjuk ke arah kakinya yang terbenam. Dia ingin memberitahu Anton, tetapi kata–katanya tidak keluar.
“Nggak apa–apa, Mbak. Nyebut saja,” kata Anton coba menenangkan.