Bab 14 : Susuk Pengantin

1223 Kata
Di depan pintu rumah, nenek sudah berpose tolak pinggang. Dia tahu sesuatu pasti terjadi dengan cucu kesayangannya. Bukannya gadis itu pulang dengan bahagia, tetapi ini malah pucat pasi dan menggigil ketakutan.   “Ada apa ini, Ton?” tanya nenek gusar ketika Alisa diserahkan kepada nenek. “Mbak Alisanya tidak mau cerita. Cuma diam saja. Di jalan aku coba becandai juga nggak mau,” kata Anton polos. “Awas ya kalau gara–gara Kamu,” ancam nenek Alisa. “Tono nggak berani sama Mbah,” jawab Anton cepat.   “Ya sudah sana pergi, bantu bapakmu angkut karung!” perintah nenek kesal. Anton segera berpamitan untuk kembali ke lumbung menemui bapaknya. Di sana bapak dan temannya sedang beristirahat melepas lelah sambil mengobrol menikmati cemilan dari si mbok. “Mbak Alisa kenapa, Ton? Kamu nggak macam–macam kan?” tanya bapaknya Anton. Ternyata kepulangan mereka yang terburu–buru menjadi perhatian para tukang juga. Soalnya Alisa menempel terus tidak mau melepaskan pegangannya ke Anton dari pintu pagar sampai masuk ke rumah. “Nggak kok, Pak. Aku juga nggak tahu kenapa. Kaya ngelihat setan,” jawab Anton. “Ya sudah. Pokoknya Kamu jangan cari gara–gara sama keluarga itu. Mbah itu sakti, Kamu bisa dikerjai sampai mati,” gertak bapaknya Anton. “Iya, Pak. Anton juga tahu,” jawab Anton. Memang terdengar rumor kalau penduduk di desa ini pada punya ilmu condong ke arah sesat. Termasuk nyonya pemilik rumah, neneknya Alisa, juga tidak luput dari gosip itu. Semua suaminya dan menantu laki-lakinya mati di dalam rumah itu pada usia relatif muda, masih sekitar 30-40 tahunan. Salah satu anak perempuannya mendadak jadi seperti orang gila, seperti kena kutukan. Jadi orang–orang tahunya nyonya pemilik rumah itu ada main–main dengan ilmu sesat. “Pokoknya bapak ngelarang Kamu dekat–dekat sama mereka. Kaya bapakmu ini, 10 tahun kerja aman-aman saja.” “Iya, Pak. Tadi kan disuruh Bapak juga,” protes Anton. Dia ikut mengambil satu pisang goreng dan melahapnya sekaligus karena lapar. Akhirnya bapaknya mengakui salah juga. Tadi pikirnya biar anak muda yang mengantar gadis cantik itu, daripada bapak–bapak uzur begini. Sudah banyak beruban dan agak bongkok gara–gara kerjanya tiap hari memanggul karung melulu. Sebenarnya dia juga tidak ingin Anton mengikuti jejaknya. Seperti si mbok pembantu sekaligus tetangganya juga, himpitan ekonomi memaksa mereka mencari uang sampai ke desa ini. Berbanding terbalik dengan desa ini, desa asalnya hanya berjarak sekitar 2 kilo, tapi taraf hidupnya kontras. Anak–anak di situ kebanyakan hanya bersekolah sampai SMA, terus tidak bisa melanjutkan ke jenjang universitas. Kalau tidak pergi merantau dengan ijasah seadanya, paling ujung–ujungnya menetap dengan pekerjaan yang ada. “Bapakmu ingin jodohi Kamu dengan Mbak Alisa,” celetuk tukang satu lagi yang mendengarkan sambil asyik merokok. Anton juga baru lulus SMA tahun lalu jadi masih seumuran dengan Alisa. “Huusssh... Kamu ngomong seenaknya sendiri,” hardik bapaknya Anton kepada teman seumurannya yang usil.  “Habis enak-enak terus mati. Ha ... Ha ... Ha ....” Tukang usil itu masih menyerocos. “Mulutmu. Memangnya Kamu mau?” tantang bapaknya Anton. “Mau lah kalau sama Mbak Alisa yang masih perawan. Mati pun aku tidak menyesal. Rela. Ha ... Ha ... Ha ....” Dia tertawa semakin kencang. Bapaknya Anton geleng–geleng kepala. “Istrimu masih kurang?” “Punya istriku sudah usang. Aku mau cari lagi yang masih segar,” jawab tukang usil itu. “Mantapp Mas,” jawab Anton asal menanggapi pembicaraan dewasa dua bapak tua itu. # # # Sementara itu di ruang tengah. Alisa diam saja. Bajunya sudah kuyub dengan keringat. Entah keringat dingin ketakutan atau panasnya terik matahari. Nenek membantu Alisa menukar dengan kaos. Dia juga membawakan teh manis hangat. Alisa menjadi lebih tenang. “Ayo dong Sa, Kamu cerita sama Oma tadi ada apa? Si Tono?” bujuk nenek agak memaksa. Akhirnya Alisa mau buka suara, tapi malah marah–marah ke nenek. “Alisa takut, marah, nggak tau apa lagi deh, Oma. Susuk yang Oma kasih nggak manjur,” keluh Alisa. “Oh maksudnya bagaimana?” tanya nenek. “Masa Alisa masih ngelihat begitu–begituan sih Oma. Aarrrgghhh,” geram Alisa. Dia jadi teringat wajah itu lagi, tapi takut membayangkannya. “Hmmm, kok bisa ya? Coba oma pikir sebentar.“ Nenek agak mengernyitkan dahinya yang sudah keriput jadi semakin bergelombang. “Berarti oma kasih satu lagi ya? Ini nggak biasanya.” APA?! Masa solusi nenek begitu saja. Terus sampai berapa banyak Alisa harus pasang susuk pikirnya. Apa seluruh badan, tangan dan kakinya juga. “Nggak mau ah, Oma. Soalnya Oma bohong,” jawab Alisa ketus. “Alisa sayang, oma nggak bohong. Berarti yang ganggui Kamu itu nggak sembarangan , makanya oma pikir mesti ditambah lagi pagar penjaganya,” jelas Oma. Alisa yang tadinya cemberut langsung bergidik. Apa–apaan ini, dia salah apa, sehingga harus berurusan dengan mahluk halus tingkat dewa. Tapi Alisa memutuskan mendengarkan penjelasan nenek dengan seksama. “Kamu itu cucu perempuan satu–satunya di rumah ini, jadi aura Kamu menarik mahluk halus di sini,” jelas nenek. “Terus Alisa mesti keluar dari sini?” tanya Alisa dengan nada tinggi. “Ya, jangan dong Alisa, masa oma ditinggali. Lagipula sekali Kamu sudah diincar, akan diganggui terus. Justru sekarang di sini Kamu aman kan? Kalau di luar oma nggak tahu deh,” kata nenek menakuti. “Hiii...iiihhh, Oma...” rengek Alisa. “Makanya Alisa nurut ya sama oma. Ini buat kebaikan Kamu juga,” bujuk nenek lagi. Aarrrgghhh, selalu demi kebaikan Alisa, padahal Alisa tidak menginginkannya kecuali hanya terpaksa. Lagipula apa ada yang memikirkan soal dosa. Tapi Alisa sudah terlanjur berdosa memasang susuk, jadi dia berpikir sekali lagi akan sama saja. “Tapi habis ini beres kan, nggak ada apa–apa lagi ya?” tanya Alisa kesal. “Iya oma janji tinggal butuh satu ini lagi, Sayang.” “Ya sudah deh, Oma. Alisa ikut,” kata Alisa luluh. Tapi kali ini nenek mengajak Alisa ke sebuah kamar. Kamar itu cukup lega karena tidak ada perabotan yang besar.  Hanya ada satu meja kecil dan alat–alat pemujaan di atasnya. Ada tiga bokor masing–masing berisi kayu wangi, air bunga ,serta abu dupa. Di atas meja juga tergeletak beberapa tangkai bunga matahari. Yang menarik ada bangkai–bangkai lebah di sekitarnya, entah sengaja atau tidak disengaja tapi tidak dibersihkan. Nenek lalu menyalakan dan menancapkan beberapa batang dupa untuk memulai upacaranya. Wangi asap dupa dan lantunan doa memenuhi seisi ruangan. Sebenarnya Alisa merasa seram dengan semua itu, tetapi dia sudah terlanjur mengiyakan nenek.  Lagipula nenek tidak menyuruhnya melakukan apapun, kecuali hanya diam bersimpuh. Alisa pasrah saja ketika nenek memercikkan air bunga ke tubuhnya. Terakhir nenek memasang susuk di atas alis Alisa sertai membaca mantra. “Sudah, Sa. Kamu sekarang sudah dijagai Nyai,” kata nenek. Dia lega semua prosesnya berjalan lancar. “Nyai itu siapa, Oma?” tanya Alisa sambil bangkit berdiri. Kini dia sudah merasa jiwanya pulih. Dia merasa seperti seorang ratu, bukan putri kerajaan yang imut lagi. Seharusnya semua setan-setan tidak mengganggunya. Malah mungkin mereka akan tunduk kepada perintahnya. “Nyai Madhumati, dia perantara warga daerah sini. Dia memberikan perlindungan dan kesuburan di tanah ini,” jelas nenek. Aneh juga pikir Alisa, warga sini berdoa memuja dan memohon sesuatu melalui sosok perantara. Ah, yang penting mereka masih berdoa kepada Tuhan pikir Alisa, daripada kepada iblis. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN