Bab 15 : Melihat yang Tak Terlihat

1239 Kata
“Mamamu mana, Sa?” tanya nenek ketika makan malam. Alisa mengambil posisi tempat duduknya. “Mama masih di kamar. Tapi tadi sudah mau makan nasi, Oma,” jawab Alisa. “Loh kok nggak mau bareng kita? Apa kesal sama oma?” tanya nenek kesal. “Nggak kok, Oma. Mama juga suka begitu di apartemen. Kalau lagi sakit maunya makan di kamar,” jelas Alisa. “Memangnya mamamu sering sakit begitu? Jangan–jangan kenapa lagi, Sa.” Alisa hanya tersenyum simpul. Rupanya hubungan nenek dan mama memang tidak dekat, jadi tidak saling mengetahui kehidupan masing–masing. Tapi syukurlah nenek masih memperhatikan keadaan mama. “Mama sakit, Oma,” kata Alisa pelan. Nenek jadi curiga kalau jawaban Alisa dengan nada seperti itu. “Iya oma juga tahu mamamu sakit. Tapi oma nggak tahu sakit apa, Sa.” “Kanker,” kata Alisa singkat, jelas,dan padat. Nenek meletakkan sendok garpunya dan terdiam. Nenek memandang lurus ke depan mencerna kata–kata Alisa. Bibir dan jemarinya bergetar, tetapi dia mencoba tetap kuat di depan cucu–cucunya. Suasana jadi hening. Alisa juga jadi tidak selera makan karena terbawa melihat nenek tidak selera makan. Hanya Hendro dan Endru yang tidak peduli, masih asyik menyendok sampai butir nasi yang terakhir di piring masing-masing. “Mamamu nggak pernah cerita ke oma.” Nenek terlihat kesal. “Mamamu juga nggak pernah minta uang berobat ke oma,” kata Nenek semakin kesal, tetapi air matanya menetes. “Ya sudah, Oma,” kata Alisa sambil menghampiri nenek dan memeluknya. “Dari dulu... Sumi bikin oma... menangis,” kata nenek terbata – bata. Alisa mengusap–usap pundak neneknya untuk menenangkan. Tapi nenek keburu mau pergi. “Oma duluan,” pamit nenek sambil berlalu menyeka air matanya. Alisa mengikuti dari belakang menuju tempat cuci piring. Dia hanya melangkah sampai daun pintu lalu mengintip dari baliknya. Nenek menangis sejadinya tanpa ingin diketahui oleh cucu–cucunya. Alisa menghela napas panjang. Mungkin nenek perlu waktu sendiri saja. Ternyata nenek tidak sejahat yang Alisa kira. Kalau dekat mama biasanya mereka ujungnya akan berdebat. Entah ada konflik apa sebelumnya yang memisahkan ibu dan anak itu. Tetapi saat ini nenek hanyalah seorang ibu yang juga menyayangi anaknya. Apalagi mendengar berita anaknya mungkin akan duluan pergi meninggalkan dirinya selamanya. Hari yang melelahkan ditutup dengan kesedihan. Alisa memutuskan masuk kamar lebih cepat. # # # Malam – malam nenek menelepon seorang wanita. “Halo, Mbah. Bagaimana kabarnya?” Suara wanita itu terdengar agak dibuat-buat. Jadi nenek nenek menjawab dengan ketus. “Nggak usah basa–basi. Aku cuma mau Kamu tahu.” “Iya, Mbah. Kasih tahu aku dong. Sudah lama kita nggak ngerumpi.” Kali ini wanita itu ingin bercanda. Tapi nenek menanggapi dengan serius. “Alisa ketakutan, tapi dia sudah pakai Tusuk Madhumati. Kamu jangan ganggu cucu aku lagi!” Wanita itu mengerti batasannya. “Iya, Mbah. Aku nggak berani kalau Mbah sudah bilang begitu.” Nenek bertanya hal lain lagi. “Terus kerjaan Kamu sudah sampai dimana?” “Oh, kalau itu sih gampang, Mbah. Tinggal tunggu kode dari Mbah saja.” “Apa bisa dipercepat?” tanya nenek. “Buru–buru amat, Mbah. Memang kenapa sih tiba–tiba Mbah minta begitu?” Nenek terdiam sejenak, lalu dia memutuskan berkata jujur. “Sumi. Dia sakit kanker. Mungkin nanti butuh banyak biaya.” Wanita itu terkejut. “Hah, Sumi sakit kanker. Aku juga baru tahu.” Dia sepertinya juga mengenal baik dengan Sumira. “Kamu jangan ingkar janji ya,” ancam nenek. “Iya, Mbah. Aku pasti nggak akan kecewai, Mbah.” Lalu nenek menutup telepon. Dia berpikir apakah meminta bantuan wanita itu adalah langkah yang tepat. Tapi sudah kadung sampai tahap ini. Lagipula nenek senang karena sudah selesai mewariskan pusaka yang turun temurun bagian dari keluarganya. Nenek merasa tugas tersulitnya sudah beres, tinggal bagaimana mengajarkan Alisa cara menggunakan kemampuannya. “Maafkan oma, Sa.” Nenek berkata sendiri. Dia menyesal karena Alisa ke depan harus menjalani pencobaan yang berat. Akan tetapi, dia yakin pada akhirnya Alisa akan mengerti dan menikmati hasil dari kelulusannya. Seperti nenek sekarang, tidak ada yang memandang dengan sebelah mata. Baik karena kesaktiannya, maupun karena harta kekayaannya yang berlimpah. # # # Sementara itu Alisa selagi rebahan membuka HP-nya. Siapa tahu ada chat dari teman–temannya. Oh, hanya kiriman berita dan gambar di group kampus. Tapi ada dua yang spesial buat Alisa yaitu chat dari Johni dan Vika. Johni mengetik ‘Sa, I Love (emoticon) U. Aku sdh beli tiket. Kita bisa ketemu Sabtu ini.’ Vika mengetik ‘Sa, bagaimana di sana? Asyik dong. Jadi iri.’ Alisa berpikir lusa juga ketemu Johni, jadi dia cuma balas ‘I Luv U 2’. Dia lebih tertarik melakukan vidio call dengan Vika. Dilihatnya ke arah jarum jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Seharusnya Vika belum tidur. “Vik, belum tidur kan?” Alisa merasa tidak enak mengganggu malam Vika. “Hi, Sa. Muka Kamu kok terang ya? Kaya glowing in the dark gitu.” “Ah, Vik masa sih. Lampu kali yang terang. Kamu lagi ngapai?” “Belum tidur, Sa. Memangnya aku ayam sore sudah ngantuk.” Mereka berdua tertawa kecil. “Kali saja. Lagi dimana? Nggak sibuk kan?” “Nggak, Sa. Aku lagi di kamar sendirian. BT. Kamu juga?” “Sama.” Vika kembali ingin membahas aura wajah Alisa yang terlihat berkharisma. “Itu Kamu pasang sesuatu ya di alis Kamu? Jaman modern gini buat apaan sih, Sa?” Alisa terkejut bercampur malu juga kalau penampilannya sekarang jadi menarik perhatian orang banyak. “Eh... Kok Kamu tahu? Ada yang salah ya?” “Aku kan sedikit bisa lihat begituan, Sa. Tapi kadang–kadang saja sih, gak bisa dipaksa.” Alisa lega ternyata tidak semua orang bisa melihat susuknya. Hanya orang-orang berkemampuan khusus yang jumlahnya tidak seberapa. “Oh iya, Kamu pernah cerita ke aku. Eh ... sekalian dong lihati di kamar aku ada begituan nggak?” “Harus banget ya, Sa?” “Iya, sebentar.” Alisa memutar kameranya agar Vika bisa melihat sekeliling sudut – sudut kamarnya. Lalu kembali ke layar vidio call. Seketika Vika terkejut. “AAHHH...!” Alisa merasa ada yang tidak beres. Pasti ada sesuatu. Tapi dia mencoba tenang. “Bagaimana Vik?” “Nggak ada apa–apa, Sa.” Alisa tidak percaya begitu saja. “Kok sekarang Kamu kaya takut ngelihat aku?” “Eh... Nggak, Sa.” “Jadi kamar aku bersih? Nggak ada tuyul atau genderuwo? Kamu biasanya benar nggak?” cecar Alisa. Tapi Vika tetap pada pendiriannya. “Aku lihat tadi nggak ada, Sa.” “Ya sudah, kita ganti topik saja. Jangan ngomong yang seram malam–malam, He... He... He...” “Benar, Sa. Yang lain saja.” Vika setuju. Lalu mereka membicarakan seputar pantai yang tadi siang Alisa kunjungi sampai orang–orang di rumah nenek. Tentunya minus kejadian–kejadian supranatural yang dialamai Alisa. Akhirnya jam sepuluh mereka capai bicara dan memutuskan sesi hari ini. Tapi ada chat masuk dari Vika, mungkin dia mau bilang selamat beristirahat. Vika mengetik ‘Sa, aku tadi mau ngomong tapi ga enak. Di kamar ga ada apa2. Tapi ada di Kamu.’ Alisa seketika merinding membacanya. Tapi dia mencoba berpikir positif, mungkin yang dimaksud Vika adalah ada roh penjaga Alisa, Nyai Madhumati. Masa iya segala tuyul dan genderuwo ikut masuk ke dalam tubuhnya. Dia coba melanjutkan chat dengan Vika, tetapi tidak dibalas lagi. Sampai akhirnya Alisa lupa pernah menanyakan apa yang dilihat oleh mata batin Vika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN