“Pagi, Sa,” sambut mama. Rupanya mama sudah baikan lalu ikut bergabung sarapan bersama. Tapi sekarang nenek yang absen, tidak hadir bersama mereka. Si kembar juga sudah duluan ke kebun cabai seperti biasanya. Entah apakah mereka memang tidak akan kembali bersekolah lagi.
“Oma mana, Ma?” tanya Alisa.
“Mama juga nggak tahu, mungkin masih tidur. Kamarnya masih dikunci,” jawab mama.
Aduh, Alisa jadi merasa bersalah. Apakah ini gara–gara dia berterus terang kepada nenek tentang kondisi mama. Terus bagaimana juga reaksi mama kalo penyakitnya sudah diomongi Alisa ke nenek. Mungkin mama akan marah, tapi ini kan tidak bisa disimpan sebagai rahasia terus. Ah, masa bodoh lah. Semoga nenek bisa merahasiakannya dulu, paling tidak sampai saat yang tepat membicarakannya.
“Sa, entar Kamu ikut mama ya ke rumah Tante Yuli,” pinta mama sambil membalikkan piring yang tadinya telungkup.
“Oh gitu, Ma. Tapi Alisa nggak ingat yang mana Tante Yuli,” jawab Alisa agak berat hati.
Apakah ibunya hanya mau diantari saja atau dia harus ikutan bergosip ala ibu–ibu. Secara dia belum pernah ketemu dan tidak tahu latar belakang Tante Yuli, jadi agak bingung takut salah bicara. Paling-paling nanti dia hanya akan jadi pendengar yang setia seperti ketika Tante Niar bertamu.
“Terus Alisa nanti di sana kira–kira ngapai?” tanya Alisa ragu.
“Ya Kamu nggak usah ngobrol sama Tante Yuli, tapi sama keponakannya,” saran mama.
“Oh gitu, Ma. Siapa namanya, Ma ...? Umur berapa ...Cewek kan, Ma?” tanya Alisa bertubi-tubi.
“Cowok, Sa,” jawab mama singkat yang membuat Alisa jadi bingung.
“Anak kecil gitu kaya Hendo sama Endru?” tanya Alisa lagi. Dia agak kesal membayangkan harus mengasuh anak remaja yang nakal lagi.
“Ya seumuran Kamu juga. Paling selisih tiga tahun, Sa. Dia sudah mau lulus kuliah.”
DEG. Maksud mama bagaimana ya, kok Alisa jadi curiga. Ah tapi positif thinking saja pikirnya. Mungkin dia ke GR-an juga, bisa saja mama mau keluarganya dekat dengan keluarga sahabatnya dari kecil. Bisa juga cowok itu sudah punya pacar, bisa juga yang lain–lain. Yang penting temani mama supaya mama jangan sedih melulu, terus pulang.
“Terus Alisa ngobroli apa Ma sama dia?” tanya Alisa pura–pura bodoh. Setelah tahu itu, Alisa jadi tidak tertarik lagi tanya–tanya detail.
“Ya terserah Kamu saja, Sa. Mama juga baru di-SMS Yuli kemarin malam,” kata mama sedikit malas.
Seperti biasa mama kalau membahas pasangan buat Alisa selalu malas. Kelihatannya Tante Yuli yang mendesak mama dan mama kayanya tidak enak menolak. Tapi ini kemajuan karena mama sudah mulai terbuka, tidak lagi melarang Alisa pacaran. Tiba–tiba beruntung juga kemarin nenek keceplosan, jadi mama sekarang sudah tahu Alisa lagi dekat sama Johni. Walaupun mama mungkin kesal baru tahu belakangan, tetapi bagian tersulitnya sudah terlewati.
Mungkin ini sudah jalannya juga. Ya, semoga setelah mama tahu, cinta mereka ke depan bisa dilancarkan. Masa mama tega memisahkan cinta mereka. Tapi Alisa penasaran mau menguji mama. Sekalian mungkin ini saatnya untuk menginfo bahwa besok Johni mau datang.
“Ya oke nggak apa–apa, Ma,” jawab Alisa santai. Dalam pikiran nakalnya dia bisa membuat cowok itu tidak tertarik dengan dirinya. Tapi ini ada tugas yang lebih penting.
“Tapi, Ma.”
“Tapi apa Sa? Masih soal keponakan Yuli?” tanya mama kesal.
“Bukan, Ma, tapi ...”
“Terus kenapa lagi, Sa?” tanya mama bingung.
“Johni, Ma.” Alisa menguji reaksi mama apakah berbeda ketika Alisa menyebut nama Johni.
Mama diam saja. Mungkin dia pikir juga tidak adil kalau melarang anaknya cari pacar sendiri. Sementara dia menerima permintaan mak comblang Yuli.
Setelah aman, Alisa baru bilang, “Johni besok datang, Ma.”
“Mau ngapai dia ke sini?” tanya Mama gusar.
“Mama, jangan marah dulu nanti tambah jelek,” canda Alisa.
Benar juga kata Alisa. Keadaan dirinya lagi sulit. Sementara tubuhnya sudah mulai keropos, masa iya mau marah–marah terus. Alisa sekarang sudah tahu penyakitnya dan pasti merasa sedih. Jadi mama berpikir harus lebih terbuka dan mengubah kelakuannya. Seperti pagi ini, mama bertekad mengikuti jejak nenek menjadi vegetarian supaya harinya bisa lebih panjang sedikit. Kalau di apartemen kadang tidak sempat memasak sayur hijau begini, ujung–ujungnya makanan kalengan atau olahan.
“Iya.” Satu kata yang keluar dari mulut mama.
“Alisa yang nyuruh Johni datang supaya bisa ketemu Mama,” sambung Alisa.
Mama kelihatan tidak antusias, tapi juga tidak marah. Lagipula mama penasaran juga tentang Johni. Dia coba mengingat–ingat saat ambil rapor di sekolah, tetapi lupa. Alisa memang suka mengenali teman laki dan perempuan ke ibunya ketika datang ke sekolah. Soalnya hanya itu kesempatannya. Selebihnya sehari–hari mama sibuk bekerja. Kalau Sabtu Minggu, mama mau istirahat tidak suka diganggu.
“Nanti berisik..,” kata mama saat Alisa baru mau minta izin mengadakan kerja kelompok di apartemennya. Jadi kalau hari libur, Vika tidak masuk sampai ke kamar Alisa, tetapi mereka mengobrol di taman lobby apartemen. Padahal setelah dipikir selain alasan mau beristirahat, mungkin juga mama malu kalau terlihat muntah-muntah.
“Boleh kan Johni ketemu Mama?” pinta Alisa memelas.
“Ya sudah masih besok kan? Jadi hari ini Kamu bisa temani mama ya.”
“Terima kasih, Ma.” Ah, yang penting hati Alisa sudah senang semuanya berjalan lancar.
# # #
Selasai makan, Alisa ingin menjenguk nenek. Dia membawakan juga sepiring nasi dan tiga macam menu vegetarian nenek.
“Oma ... Oma ..,” panggil Alisa sambil mengetok pintu kamar nenek.
Tapi tidak ada suara. Sekali diketok juga tidak ada suara. Lalu Alisa mencari si mbok, siapa tahu si mbok tahu. Kebetulan si mbok gampang ditemukan, lagi cuci piring kotor di dapur.
“Hari ini Tante Sani nggak mandi, Mbok?” tanya Alisa basa–basi.
“Eh Non Alisa... Tante lagi di kamar kudus sama omanya Non,” jawab si mbok. Kamar kudus yang dimaksud adalah kamar tempat Alisa ditahbiskan dengan susuk Madhumati yang kedua kali.
“Oh Alisa nyusul ke situ deh,” kata Alisa sambil berjalan balik arah.
“Jangan, Non!” jawab si mbok cepat.
“Kenapa, Mbok?”
Si mbok buru–buru meletakkan piring yang belum bersih itu dan mencuci tangannya. Lalu menghampiri Alisa sambil melotot. Tangannya masih basah dipaparkan ke celemeknya sehingga semua sekarang jadi basah.
“Jangan! Oma lagi ritual. Jangan diganggu, nanti oma marah. Yang kena mbok. Non mah nggak mungkin dimarahi,” keluh si mbok.
Alisa setuju. Siapapun yang sedang berdoa tidak boleh diganggu. Tapi dia juga ingin tahu lebih banyak.
“Ah, ada–ada saja. Ritual apa sih?” tanya Alisa penasaran.
“Mbok nggak tahu, Non. Mungkin biar tante Non sembuh,” jawab si mbok asal, tapi mungkin benar juga.
Hhmmm zaman begini masih pakai cara mistis buat pengobatan pikir Alisa. Tapi Alisa juga tidak berani melarang nenek yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Mungkin nenek sudah berusaha semaksimal mungkin ke dokter, tetapi mentok dimana–mana. Lagipula itu kepercayaan daerah masing-masing, walaupun kelihatannya bertolak belakang dengan sains dan (mungkin) agama.
“Mbok, kalau Nyai itu baik atau jahat ya?” pertanyaan iseng dari Alisa.
“Aduh… Non mau ngejebak Mbok ya?”
“Ya, nggak lah Mbok. Nggak dilapori kok.”
“Aduh… Non entar juga tahu sendiri deh.” Si mbok balik badan mencuci piring lagi. Alisa mau mengejarnya, tapi dia sudah dipanggil.
“ALISA... Ayo buruan ganti baju!” teriak mama dari ujung lorong.