Bab 17 : Peliharaan Tante Yuli

1624 Kata
Rumah Tante Yuli juga tampak besar, tetapi tidak seluas rumah nenek. Tidak ada halaman untuk berkebun yang luas, tetapi rumahnya tingkat tiga. Bangunan depannya lebih bergaya Eropa karena ada dua pilar yang berdiri kokoh. Selebihnya sudah modern, dibandingkan rumah nenek yang tidak direnovasi sejak beberapa puluh tahun terakhir. Cat tembok didominasi warna hijau lumut, jadi kelihatan agak gelap. Tapi selera orang mungkin berbeda–beda. Karena halaman tidak lebar, maka pagar besinya juga tinggi, indah, dan banyak menampilkan motif berlekuk–lekuk. Dari depan terlihat beranda ruang tamu, dua balkon, dan garasi di samping. Mobil ada dua terparkir di garasi, Toyota Camry dan Vellfire. Sedangkan nenek tidak punya mobil mewah, karena di rumah tidak ada penghuni yang bisa menyetir. Biasanya untuk mengantar hasil kebun ke pasar induk, nenek menyewa mobil pickup langganannya. Bel pintu dibunyikan sehingga tidak harus teriak–teriak memanggil tuan rumah, kaya di rumah nenek. “Yuli...,” panggil mama ke arah Tante Yuli. Kemudian seseorang menyodorkan kepalanya dari balik pintu. “Sumi... Aku sudah tunggui Kamu dari tadi,” balas Tante Yuli. “Kamu mau datang juga ke negeri antah berantah ini. Kirai aku, Kamu nggak bisa tinggali Jakarta,” canda Tante Yuli lagi.  “Ah Kamu, Yul. Kalau Kamu yang minta, aku datang kok.” Mereka saling melempar candaan. “Ayo masuk dulu,” kata Tante Yuli sambil membuka gerbang. Di ruang tengah, mama dan Tante Yuli seru sekali mengobrol. Maklum selama ini terpisah jarak dan sinyal jaringan. Kadang bagus, kadang putus–putus. Alisa duduk mendengarkan saja sambil mengamati sekeliling. Kalau rumah nenek dipenuhi furnitur dan perkakas mewah khas nusantara. Sebaliknya di rumah Tante Yuli dipenuhi furnitur dan perkakas modern lebih ke arah Eropa gitu. Sofa L shape, coffee table bundar, dan lemari pajangan setinggi sampai plafond. Sampai kotak tissu juga klasik Eropa. Ah, betapa irinya hati Alisa, mereka katanya tinggal di kampung, tetapi kehidupannya malah lebih berkelas daripada dirinya di Jakarta. “Eh... sebentar ya, Sum. Aku ke dalam dulu,” sela Tante Yuli. “Nggak usah repot–repot, Yul. Ini cemilan di meja juga sudah banyak,” balas mama. “Bukan Yul, aku mau panggil Oscar yang minggu lalu aku ceritai ke Kamu di telepon.” “Oh...” DEG. Alisa dan mama jadi resah. Ternyata Tante Yuli sudah mantap mau mengenalkan keponakannya dengan anak gadis temannya. Alisa dan mama buru–buru minum jus jeruk yang dari tadi mengangur, supaya kata–kata mereka tidak tertahan. Alisa memperhatikan outfitnya hari ini, apakah cukup pas–pasan supaya tidak menarik perhatian. Sialnya dalam rangka kunjungan ke rumah nenek, dia membawa baju–baju yang lumayan bagus dalam koper. Tapi ada satu sweater dengan lengan kepanjangan, sampai ujung telapak tangannya pun tidak kelihatan. Cocok dipadukan dengan long dress supaya kelihatan norak. Mama tadinya komplain, tapi Alisa cuek saja dan tetap keras kepala memakainya. “Ini Oscar...” Tante Yuli bangga sambil menarik tangan Oscar supaya maju lebih dekat. Di belakangnya muncul lelaki berperawakan tinggi besar dan putih bersih, kayanya punya garis keturunan blasteran Eropa. Dari balik kaos polos dan cardigannya tercetak badannya yang kekar berotot. Mungkin keseringan fitnes. Bukan seperti Anton yang kekar, tetapi pendek karena fitnesnya mengangkat karung tiap hari. “Tante, aku Oscar,” kata laki – laki itu sopan sambil menyalami mama yang duduk didekatnya. Mama hanya membalas dengan senyum. “Aku Oscar,” kata laki – laki itu sambil mengalihkan salamnya ke tangan Alisa. “Alisa,” balas Alisa. Hatinya ciut juga lantaran laki–laki itu memang ganteng. Tadinya mau dikerjai jadi tidak tega. Sekarang Alisa berpikir apakah tidak sebaiknya menikmati keberuntungan ini dulu sebentar. Bahkan di kampusnya tidak ada yang blasteran begini. Cowok begitu hanya ada di layar kaca dan media sosial.  Yang penting jangan sampai tumbuh perasaan cinta di antara mereka, jadi hitungannya dia tidak selingkuh. Tetapi kalau sekedar teman, sayang juga untuk dilewatkan pikir Alisa. “Wah ... ganteng ya keponakan Kamu. Ini anaknya adik Kamu, Yul?” tanya mama. “Iya, Sum. Adik aku yang pertama kan kawin sama bule. Jadi anaknya ganteng,” kata Tante Yuli bangga. Beda tipis dengan sombong. “Ya makanya Kamu dulu mestinya kawin juga sama bule,” timpal mama. Mungkin mereka biasa saling melontarkan serangan. “Ah, boro–boro bule, Sum. Yang lokal saja susah aku dapatnya. Kalau laki-laki kampung sini kan aku malas ya, Sum,” kata Tante Yuli seperti merendahkan derajad laki-laki kampung situ. “Makanya Kamu merantau yang jauh kaya adik-adik Kamu itu, biar dapat pasangan,” saran mama. “Ah sudahlah, Sum. Waktunya aku kan sudah lewat. Sudah umur segini. Ini hartaku juga paling nanti jatuh ke Oscar,” kata Tante Yuli.  Wow v****r sekali di depan telinga keponakannya, dia sudah mengomongi warisan pikir Alisa. Tapi dari tadi Alisa dengar cerita mama dan Tante Yuli, sepertinya memang dia tidak punya suami. Kasihan juga punya harta begini banyak, tapi nanti dilimpahkan bukan kepada keturunannya.   “Makanya Kamu nurut sama Tante, Oscar,” pesan Tante Yuli kepada keponakannya. Kasihan si Oscar serba salah setelah ditodong di depan umum. Kalau menjawab tidak nanti tantenya malu. Jadi dia terpaksa jawab, “Iya Auntie.” “Ya sudah sana. Kamu bawa Alisa ke taman belakang. Kalian ngobrol di sana. Daripada di sini kaya patung,” desak Tante Yuli. “Iya Auntie.” # # # Alisa lega bisa kabur dari situ daripada jadi kambing congek. Tapi sekarang dia juga bingung mau mengobrol apa dengan Oscar. Malah hatinya berdegup kencang karena paras tampan laki–laki yang berjalan di sampingnya itu. Tapi kan dia sudah bertekad tidak mau terlalu dekat, jadi mesti pilih–pilih topik yang umum saja. Yang penting jangan melihat ke matanya saja, takut tergoda pikir Alisa,. “Sa, Kamu sudah kuliah?” tanya Oscar membuka pembicaraan. “Sudah,” jawab Alisa singkat. “Sudah semester berapa?” tanya Oscar lagi. “Mau semester ketiga, tapi sekarang lagi libur.” “Berarti umur Kamu kira–kira tiga tahun di bawah aku.” Oscar mempersilakan Alisa duduk duluan. Dia dengan sigap membersihkan daun–daun yang berguguran di atas bangku panjang itu. Mereka berdua duduk di bawah pohon beringin, jadi tidak kena panasnya matahari. Suasana romantis dikelilingi  paparan bunga Celoslia kesukaan Tante Yuli.  “Bagaimana pertama belajar di kampus? Beda di sekolah, sekarang lebih bebas ya.” Pertanyaan Oscar masih berlanjut seputar kampus. Tetapi Alisa berpikir keras dimana dia bisa menyelipkan bahwa dia sebenarnya sudah punya pacar, jadi Oscar tidak usah basa–basi mengejarnya. Sampai ... “Kalau di Jakarta pulang dari kampus kemana, Sa?” “Paling nongkrong ke mall. Terus pulang diantar Johni,” jawab Alisa ragu, apakah Oscar akan patah hati mendengar jawabannya. Benar saja, Oscar agak tertegun mendengar jawaban itu. Tapi dia buru-buru menutupi ekspresi kecewanya dan cukup gentlemen mengakui Alisa sudah punya pacar. “He’s your boyfriend?” tanya dia mengkonfirmasi sekali lagi. “Iya,” ketus Alisa. Kali ini Alisa yang tadinya menunduk kemudian menatap tajam ke arah Oscar. Maksudnya apakah ada masalah buat Oscar? Walaupun Alisa tidak tega juga, daripada hubungan tidak jelas ini berlarut–larut.   “Okay,” jawab Oscar agak terkejut dengan ekspresi Alisa. Kemudian suasana jadi hening sebentar. Hanya ada suara berisik embusan daun–daun layu yang berterbangan ditiup angin kencang. “Kamu tinggal dengan Your Mom?” tanya Oscar. Ah, untung Oscar masih mau berbicara dengannya. Ya lebih baik membahas para orang tua saja daripada membahas pribadi mereka pikir Alisa. “Iya, Kalau Kamu sama Tante Yuli?” tanya Alisa. “No, aku kuliah di Singapura. Ini sedang tunggu wisuda,” jawab Oscar. Sekarang jadi Alisa yang cerewet bertanya–tanya, daripada suasana diam membosankan. Dari situ dia jadi tahu kalau Oscar itu anak lelaki satu–satunya. Ayahnya dan anggota keluarga yang lain, saat ini tinggal di Surabaya. Dia punya dua adik perempuan di bawah umur Alisa, tapi lain Ibu. Ibunya Oscar yang bule bercerai dengan adiknya Tante Yuli waktu Oscar masih kecil. Sepertinya dulu mereka memang belum cukup dewasa untuk menjalani pernikahan. Tapi setidaknya Oscar masih bisa berhubungan dengan ibu kandungnya di London sana via chat. Sementara Alisa menebak hubungan dengan ibu tirinya agak bermasalah, makanya Oscar dikirim kuliah ke luar negeri. “She don’t care about me,” sekilas pernyataan Oscar tentang ibu tirinya. Mungkin juga dari situ awal Oscar lebih didekatkan oleh ayahnya ke Tante Yuli pikir Alisa. Dan Tante Yuli mau–mau saja menerima keponakannya yang ganteng itu.  “Oh jadi Kamu kalau pulang ke Indonesia disuruh tinggal di sini ya?” tanya Alisa. “No choice. Dad yang minta aku,” jawabnya santai. Sepertinya dia juga enggan balik lagi ke Surabaya. Sekarang Alisa jadi ingin bertanya tentang Tante Yuli. “Kalau Tante Yuli orangnya bagaimana?” tanya Alisa membuka topik tentang Tante Yuli. “Well, dia baik ke aku. Dia tidak punya anak. And she is not married too.” “Terus kenapa Tante Yuli nggak menikah? Apakah memang nggak cari?” tanya Alisa lagi.  “I don’t know. But aku tahunya dia fokus sama kegiatan agamanya.” Hhmmm aneh juga masa terlalu sibuk dengan kegiatan agama, sampai lupa mengurus kehidupan sendiri. “Maksudnya?” tanya Alisa bingung. “I mean celibate. Tante Yuli hidup selibat,” jelas Oscar. Oh, Wow Alisa baru tahu. Pantas saja kalau begitu Tante Yuli juga pasti menolak semua laki–laki yang datang kepadanya. Aneh juga, tetapi dia sangat menghormati orang–orang yang menentukan pilihan hidupnya seperti itu. Yang Alisa tahu biasanya mereka akan tinggal bersama di sebuah biara. Sedangkan Alisa membayangkan betapa sepinya hidup Tante Yuli sendiri di rumah sebesar ini. Tiba–tiba Oscar mendekatkan mulutnya ke telinga Alisa.  “But, ini rahasia kita ya Sa,” bisik Oscar pelan. “Heh...apa?” “Ada demonic thing di rumah Auntie,” kata Oscar bergetar. “HAAH!!” Alisa bengong. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN