Bab 18 : Cerita Pilu Si Mbok

1113 Kata
Di jalan setapak menuju arah pulang, Alisa masih merenung mahluk yang dimaksud oleh Oscar di akhir cerita. Badannya tinggi besar berwarna hijau dan agak berbulu. Tangannya lebih panjang daripada kakinya jadi kuku-kukunya yang hitam hampir menyentuh ke lantai. Rambut gimbalnya seakan membungkus seluruh badannya. Oscar tidak berani melihat ke arah muka dan bertatapan mata langsung dengan mahluk itu. Jadi dia tidak bisa mendeskripsikan wajah mahluk itu. Tetapi dari ciri–ciri yang disebutkan oleh Oscar, Alisa merasa pernah bertemu dengan mahluk itu. Ah, kenapa mimpi mereka bisa sama ya pikirnya. Apakah ini kebetulan saja. Jadi Alisa tidak tahan lagi ingin bertanya kepada mama.   “Ma, Tante Yuli kerjanya apa? Bisa kaya begitu,” tanya Alisa memancing pembicaraan. “Oh, Tante Yuli itu warisannya banyak. Nggak usah kerja juga bisa buat hidupnya sampai akhir,” jawab mama lagi. “Terus sehari–hari Tante Yuli ngapai saja, Ma?” tanya Alisa tidak puas. “Katanya sih urus rumah tangga saja.” “Terus kenapa nggak pakai pembantu saja, Ma? Kan Tante Yuli uangnya banyak.” “Cari pembantu susah. Yang tua sudah nggak ada tenaga. Yang muda kalau hamil besar terus hilang nggak balik lagi. Katanya gitu,” lanjut mama. Hhmmm sekilas tidak ada yang aneh pikir Alisa. Dia mau ngomongi sosok genderuwo di rumah Tante Yuli bingung juga mau mulai dari mana. Tapi kebetulan mama ngomong duluan. “Tadi si Oscar cerita apa saja?” “Ma, masa tadi Oscar cerita seram,” “Kirai mama, Kalian cerita hobby, kegiatan kampus begitu,” timpal mama kesal. Sepertinya itu bukan jawaban yang diinginkan mama. Kalau jawaban yang diinginkan mama, mereka berdua cerita kehidupan pribadi, kuliah, keluarga, atau yang kekinian. Walaupun mama belum tertarik menjodohkan anaknya, tetapi lumayan kalau dia menjadi satu keluarga dengan teman dekatnya. Kan sudah saling mengenal dan cocok antar besan.  Kebetulan bonusnya dapet menantu ganteng blasteran Eropa. “Mama... Alisa mau cerita,” rengek Alisa. “Apa? Kok misterius begitu, Sa.” Mama heran dan tersadar dari lamunannya.   “Masa kata Oscar di rumah Tante Yuli ada genderuwonya,” kata Alisa serius. “Eh...” Mama terkejut juga mendengar Oscar berbicara begitu. Lalu dia terdiam. Tapi  Alisa jadi curiga mama menyembunyikan sesuatu. “Nggak lah, Sa. Bercanda kali dia,” bantah mama.  “Tapi Oscar serius Ma,” Alisa paling geregetan kalau ada orang lain tidak mempercayai omongannya.  “Sudah, ah. Mama nggak mau ngomongi begituan lagi,” kata mama kesal. Biasanya kalau mama sudah mengelak bicara, pasti benar ada sesuatu yang disembunyikan pikir Alisa. Oh iya, Alisa ada ide. Si Mbok kan punya jaringan antar pembantu jadi mungkin mendengar gosip–gosip miring tentang majikan mereka, termasuk Tante Yuli.  # # # Sesampai di rumah, cepat–cepat Alisa mencari pembantu neneknya itu. Si mbok lagi rebahan di dipan belakang karena tugasnya sudah selesai dan tinggal menunggu jam pulang. “Mbok, Alisa mau tanya,” kata Alisa sambil terengah–engah. “Mau tanya apa, Non? Tapi jam 4 Mbok izin ya, Non.” Si mbok masih rebahan sambil kipas–kipas. Dia tidak bisa (atau tidak mau) bangun dari zona nyamannya. Alisa jadi bingung ini si mbok seperti nyonya besar saja. Malah Elisa yang jadi duduk di ujung kaki wanita gendut itu. Ah, tapi kan Alisa lagi butuh si mbok bicara, jadi tidak apa sekali–sekali dia yang mengalah. Alisa menyanggupi masih ada setengah jam cukup untuk menginterogasi si mbok.  “Mbok, tadi Alisa diajak ke rumah teman mama yang diujung jalan besar,” kata Alisa. Mbok masih belum sadar, tapi matanya ke atas mereka–reka siapa. Kebetulan si mbok sudah puluhan tahun kerja di kampung ini.  Jadi dia sedikit banyak hapal warganya, khususnya sampai generasi kedua. “Begini. Mbok kenal Tante Yuli nggak?” tanya Alisa. Baru sebut Tante Yuli, si mbok sudah kelihatan gerah. Dia bangkit dari pembaringan itu dan mulai serius berbincang. Hmmm berarti si mbok tahu sesuatu pikir Alisa. “Ya itu, Non, sebelum mbok kerja di sini, mbok kerjanya di situ. Ada apa ya, Non?” Alisa lebih girang lagi mendengar itu karena ketemu narasumber yang tepat. “Berapa lama, Mbok?” “Kalau berapa lama, dua tahun ada kali, Non. Pokokny pas keguguran 7 bulan, Mbok nggak mau kerja di situ lagi,” kenang si mbok. Ah, si mbok ceritanya keguguran melulu pikir Alisa. Mungkin itu peristiwa yang sangat membekas dan membuat trauma sampai saat ini. Apalagi dibumbui cerita mistis, jadi semakin tidak rela. “Mbok, memangnya di rumah itu ada genderuwonya?” tanya Alisa penasaran. “Ya Non, Mbok kan sudah bilang yang makan bayi Mbok ya genderuwo itu.” TING. Alisa mulai bisa mengaitkan satu sama lain. “Nih Mbok cerita saja sekalian, daripada Non yang tanya terus. Ibunya Yuli punya tiga anak. Yuli paling besar. Dua lagi laki–laki. Iparnya Yuli sering ke kota, kaya nggak betah tinggal di sini. Kata nyonya besar, itu menantu memang nggak bisa jadi orang desa. Malah pas awal hamil, iparnya Yuli minggat dari rumah. Baru pulang pas sudah lahiran. Tapi kata mbok, nyonya besar yang nyuruh menantunya pergi, supaya aman. Sampai sini Non paham?” Alisa hanya mengangguk.   “Yang kasihan ya pembantu kaya Mbok ini. Di rumah nyonya besar carinya pembantu muda yang baru menikah. Tadinya orang–orang pada nggak ngeh. Ya pikirnya nggak apa–apa kan sudah jadi istri orang, bukan perawan lagi. Mungkin nyonya besar takutnya kalau para bujangnya digodai. Bisa juga mereka yang duluan nyosor. Tapi ...” Si mbok menggigit bibirnya karena kesal. “Nyonya besar nggak tahunya mengincar bayi pembantunya. Kata orang buat diumpankan kepada genderuwo peliharaannya. Banyak pembantu yang kerja di situ kehilangan bayinya. Mau lapor pak polisi juga nggak ada buktinya. Apalagi pembantu kan orang kecil nggak punya duid buat ngelawan. Hhmmm ...,” desah si mbok. “Adik-adiknya Yuli semua keluar dari rumah itu supaya keluarganya aman. Cuma si Yuli yang masih betah di situ. Kayanya dia nerusi ilmu ibunya,” nyinyir si mbok sampai bibirnya maju.  “Tapi Tante Yuli masa  begitu,” protes Alisa. “Lah keluarga Yuli kan kaya terus. Nggak kerja kan? Tumbal bayi itu biar  genderuwonya bisa kasih kekayaan,” timpal si mbok. “Karena orang sekitar kampung sini sudah pada tahu, jadi nggak ada yang mau kerja di situ lagi. Kalau pembantu yang tua, Yulinya yang nggak mau terima. Jadi kata warga sekarang dia pakai jasa penyalur pembantu. Tahu deh sekarang sudah dapat lagi belum, Non?” tanya si mbok kesal. “Tadi nggak ada, Mbok,” jawab Alisa. “Berarti memang penyalur juga sudah tahu kali. Atau nggak warga biasanya yang kasih tahu pembantu dari luar. Ya kalau ada yang masih nggak mau dengar, tanggung sendiri deh,”  tutup si mbok mengakhiri ceritanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN